Penemuan arkeologi BRIN di Situs Bongal, Tapanuli Tengah berpotensi menggeser narasi awal masuknya peradaban Islam di Nusantara ke abad ke-7 hingga ke-8.
Jakarta, kalselpos.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fakta baru mengenai serangkaian temuan arkeologi di Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Tepatnya, kompleks situs purbakala ini memiliki potensi besar untuk mengubah peta sejarah nasional. Dalam hal ini, penemuan artefak kuno tersebut memicu pergeseran narasi awal mula masuknya peradaban Islam di Nusantara.
Selanjutnya, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Irfan Mahmud, menyoroti hasil ekskavasi tim peneliti di lapangan. Menurutnya, para arkeolog berhasil mengubah linimasa sejarah masuknya Islam yang selama ini masyarakat luas pahami. Di samping itu, penemuan penting ini membuktikan bahwa momen kedatangan Islam terjadi jauh lebih awal, yaitu pada kisaran abad ke-7 dan ke-8 Masehi.
Tentunya, linimasa baru tersebut menunjukkan bahwa interaksi Nusantara dengan peradaban Islam sudah bermula sejak awal masa kenabian. Apalagi, fakta ilmiah ini membuka ruang yang lebih lebar bagi para akademisi untuk menguji berbagai hipotesis. Oleh karena itu, para peneliti bisa mulai membuktikan teori terkait penyebaran arkeologi Islam di tingkat akar rumput.
Khususnya jika membandingkan dengan narasi sejarah konvensional, temuan abad ke-7 ini memberikan jarak waktu sekitar tujuh abad. Padahal, buku sejarah arus utama kerap menyebutkan bahwa Islam baru mengakar kuat pada kisaran abad ke-13 Masehi. Maka dari itu, para ahli menilai rentang waktu yang membentang sangat luas tersebut sebagai ruang kosong sejarah yang amat esensial.
Sementara itu, para sejarawan harus segera menggali ruang kosong tersebut guna memahami pola hidup masyarakat penyebar Islam terdahulu. Sebab, rentang waktu tujuh abad bukanlah masa yang pendek dan jejaknya tersebar di banyak lokasi. Dengan kata lain, penemuan orisinal dari para peneliti BRIN akan membuka kesempatan luas untuk menemukan situs-situs baru lainnya.
Terkait hal tersebut, pergeseran paradigma ini harapannya dapat mendorong para riset untuk melihat sejarah dari kacamata masyarakat bawah. Bahkan, fokus riset masa depan tidak boleh lagi hanya tertuju pada kehidupan kaum bangsawan di pusat istana. Oleh sebab itu, Kepala Organisasi Riset Arbastra BRIN, Herry Yogaswara, menyatakan bahwa fakta Situs Bongal telah melahirkan dialektika baru yang konstruktif.
Pada dasarnya, Herry tidak menampik bahwa tafsir ulang atas peta sejarah ini memicu perdebatan akademis yang sengit. Alhasil, para ahli menilai dinamika sains tersebut justru sangat menyehatkan sepanjang para ilmuwan berargumen menggunakan bukti otentik yang kuat. Namun, BRIN tetap berkomitmen untuk mengonfirmasi kepingan sejarah peradaban Islam awal yang sempat hilang dari catatan.
Kemudian, BRIN berencana memfasilitasi penelitian berskala masif di sepanjang kawasan pesisir barat pulau Sumatera. Langkah nyata ini mencakup rencana pembuatan stasiun lapangan dengan durasi riset yang cukup panjang di wilayah Bongal. Dengan demikian, keberadaan fasilitas riset tersebut akan memperkuat ilmu arkeologi maritim nasional secara berkelanjutan. Pada akhirnya, penguatan sektor riset ini akan menyingkap tabir peradaban Islam awal Nusantara secara utuh dan akurat.





