Jembatan, Air, dan Setetes Darah Prajurit di Papua Tengah

Teks foto : Komandan Korem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alvianto saat melakukan inspeksi pasukan pada upacara HUT Ke-81 TNI di Nabire, Senin (5/10). (Foto: Istimewa)(kalselpos.com)

Sambut HUT ke-81 TNI, Korem 173/PVB bangun 28 Jembatan Garuda Merah Putih, program Manunggal Air, hingga bakti sosial di Papua Tengah.

Nabire, kalselpos.com – Siang itu, matahari masih kuat menyinari bumi, ketika para prajurit mendatangi rumah-rumah para warakawuri di Nabire, Papua Tengah. Mereka datang tanpa seragam operasi, tanpa membawa perintah untuk menghadapi musuh. Sesuatu yang mereka bawa adalah bingkisan dan salam.

Bacaan Lainnya

 

Pada Kamis, 18 September 2026, belasan anggota TNI menyusuri tiga kawasan di Nabire: Transat, Asrama Siriwini, dan Sanoba, di depan Detasemen Zeni Tempur 12. Mereka mendatangi sepuluh keluarga warakawuri—keluarga prajurit yang telah meninggal dunia.

 

Komandan Lanal Nabire Letkol Laut (P) Mario Marco Wainarisi memimpin rombongan. Ia didampingi istrinya serta Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Kodim 1705/Nabire Ny. Arina Dwi P dan sejumlah anggota Persit.

 

Bagi keluarga yang pernah kehilangan seorang prajurit, kunjungan semacam itu memiliki arti tersendiri. Ada kenangan tentang seorang suami, ayah, atau anggota keluarga yang dahulu mengenakan seragam TNI.

 

Bagi anggota TNI, silaturahmi kepada warakawuri menjadi salah satu cara menjaga hubungan itu tetap hidup. Itulah jiwa di setiap prajurit, dimana pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk seragam dan senjata.

 

Pengabdian justru terkadang hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, bagaimana kehidupan masyarakat sehari-hari bisa terus berjalan.

 

Warga yang membutuhkan jalan, kampung yang kekurangan air, pasien yang memerlukan darah, hingga keluarga yang kesulitan memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, tidak luput dari pelayanan.

 

Salah satu program yang paling terlihat adalah pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih karena tantangan yang dihadapi masyarakat sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana: jarak.

 

Karenanya, jajaran satuan di bawah Korem 173/Praja Vira Braja tahun ini membangun 28 jembatan di wilayah Papua Tengah.

 

Kepala Seksi Teritorial Korem 173/PVB Kolonel Inf Fajar Wibawa Angkasa mengatakan pembangunan itu tersebar di empat kabupaten, yakni Mimika, Nabire, Deiyai, dan Puncak.

 

Di wilayah dengan bentang geografis seperti Papua Tengah, satu jembatan dapat menentukan apakah warga bisa melintas dengan lebih mudah, hasil kebun bisa dibawa keluar kampung, atau aktivitas ekonomi berjalan lebih lancar.

 

Ketika satu jembatan berdiri, jarak yang sebelumnya menjadi hambatan, perlahan berubah menjadi harapan kemajuan.

 

Meskipun demikian, kesulitan warga juga bukan hanya konektivitas. Ada pula kebutuhan lain yang jauh lebih mendasar, yaitu air.

 

Ketika El Nino membawa kekeringan, TNI melalui Kodim 1705 dan Yonif TP 804/DBAY menghadirkan program Manunggal Air di wilayah Nabire. Total enam sumur yang dibangun di Bumi Wonorejo, Kampung Air Mandidi dan Topo.

 

Pemenuhan air kemudian menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat dari jauh. Air yang keluar dari tanah ternyata mampu menjawab kebutuhan yang sederhana: memasak, mencuci, mandi, dan kebutuhan sehari-hari warga.

 

Dalam mendukung program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto, TNI membantu pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Papua Tengah. Sebanyak sembilan titik KDMP berada di wilayah Papua Tengah. Tujuh di antaranya berada di Nabire dan dua di Mimika. Koperasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat desa.

 

Jembatan membuka akses, sumur menyediakan air, dan koperasi diharapkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

 

Ketiganya berbeda bentuk, tetapi memiliki satu persamaan, yaitu menjadi bagian dari upaya TNI menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung.

 

Semangat yang sama kemudian menemukan bentuk lain ketika TNI memperingati hari ulang tahunnya. Momentum HUT ke-81 TNI tidak hanya menjadi perayaan internal, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan yang mempertemukan prajurit dengan masyarakat secara lebih dekat.

 

Di Nabire, rangkaian kegiatan tersebut berlangsung sepanjang September hingga awal Oktober 2026. Setiap kegiatan membawa cerita sendiri, tetapi bermuara pada satu hal: menjaga kedekatan antara prajurit dan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.

 

Dua hari setelah kunjungan Warakawuri, Minggu, 20 September 2026, pengabdian kembali mengambil bentuk berbeda. Kali ini, darah menjadi bagian yang diberikan.

 

Di Aula Kodim 1705/Nabire, prajurit dari berbagai satuan—Korem, Kodim, Lanal, Brigif dan Yonif—mengikuti donor darah dan pengobatan gratis. Sebanyak 152 prajurit mengikuti proses donor dan berhasil mengumpulkan 50 kantong darah yang dinyatakan siap disalurkan ke rumah sakit.

 

Komandan Korem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alivianto mengatakan tugas prajurit tidak berhenti pada aspek pertahanan dan keamanan.

 

“TNI tidak semata-mata sebagai pengamanan atau pertahanan negara saja. Prajurit juga sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

 

Pada hari yang sama, masyarakat juga mendapat layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis. Puluhan orang datang. Orang dewasa dan anak-anak diperiksa.

 

Sosok dokter dari Polikes 17.09.03 Nabire, Kapten dr Theresia Marlen Loinenak mengungkapkan, keluhan yang banyak ditemukan pada orang dewasa antara lain hipertensi dan kolesterol. Pada anak-anak, keluhan yang ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan akut dan infeksi kulit.

 

Bagi sebagian warga, layanan itu mungkin berarti lebih dari sekadar pemeriksaan gratis. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bertemu dokter dan memperoleh obat.

 

Selang beberapa hari kemudian, Selasa, 22 September, pengabdian TNI kembali hadir dalam bentuk yang lain.

 

Kali ini ibu-ibu memenuhi lapangan pelataran Kodim 1705/Nabire yang sebenarnya sudah beralih menjadi Markas Korem 173/PVB.

 

Untuk memeriahkan HUT ke-81, jajaran TNI menggelar bazar dan pasar murah untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.

 

TNI melibatkan 14 distributor, BUMN, kelompok tani dan UMKM yang kemudian dibagi menjadi 20 stan memenuhi kebutuhan harga murah masyarakat, baik beras, gula, minyak goreng, minyak tanah, sayuran, produk UMKM, dan hasil pertanian.

 

Pasiter Kodim 1705/Nabire Kapten Inf Sunata mengungkapkan TNI sepakat memberikan subsidi agar harga turun dari pasaran.

 

Harga beras mendapat subsidi Rp2.000 per kemasan, baik ukuran lima maupun 10 kilogram. Gula disubsidi Rp1.000 per kilogram, sedangkan minyak goreng sekitar Rp2.000 per kemasan.

 

Bagi masyarakat, manfaatnya terasa langsung pada barang yang mereka bawa pulang, sedangkan bagi pemerintah daerah, kegiatan tersebut ikut mendukung upaya pengendalian inflasi.

 

Sabtu, 26 September, 11 sanggar mengikuti lomba senam kreasi yang digelar Kodim 1705/Nabire.

 

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan upacara HUT TNI yang dipimpin Komandan Korem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alvianto.

 

Upacara yang diselenggarakan di Lapangan Sapta Marga Kodim 1705/Nabire berlangsung khidmat dan dihadiri pimpinan daerah, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan Bupati Nabire Mesak Magai.

 

Diikuti prajurit dari seluruh kesatuan yang ada di Nabire, upacara HUT TNI menjadi tonggak memperteguh tekad dan semangat pengabdian prajurit terhadap amanah yang telah dipercayakan oleh masyarakat.

 

Dalam amanatnya Panglima TNI Jendral Agus Subiyanto yang dibacakan Komandan Korem, seluruh prajurit dan ASN TNI menjadikan PRIMA (profesional, responsif, integratif, modern, dan adaptif) sebagai budaya pengabdian.

 

Di Papua Tengah, pengabdian TNI tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Medan, kebutuhan, dan masyarakat yang ditemui berbeda-beda. Satu hal, seragam yang dikenakan prajurit membawa tanggung jawab yang sama: hadir ketika masyarakat membutuhkan.

 

Kebutuhan itu mulai dari jembatan yang menghubungkan kampung-kampung, hingga sumur yang menghidupkan kembali sumber air.

 

Dari setetes darah yang disumbangkan, hingga sebungkus kebutuhan pokok yang dibeli dengan harga lebih ringan, dari sapaan kepada Warakawuri hingga gerakan tari anak-anak muda Papua, semua menjadi bagian dari cerita yang lebih besar tentang pengabdian.

 

Menjadi prajurit di ujung timur Nusantara bukan hanya tentang berdiri menjaga wilayah negara, ada masyarakat yang harus ditemui, ada persoalan yang harus dibantu, ada sejarah yang harus dihormati. Di sanalah pengabdian menemukan maknanya.

 

 

 

Pos terkait