Jurnalisme Jadi Jalan Merawat Kekayaan Budaya Tapin

Teks foto Workshop Media yang digelar Bilik Budaya Bersama PT KPP Mining Rantau menghadirkan para jurnalis, pelaku budaya dan pelajar.(ist)(kalselpos.com)

Bilik Budaya dan KPP Mining menggelar workshop jurnalistik budaya di Tapin untuk merekam dan mempublikasikan potensi tradisi lokal.

Rantau, kalselpos.com – Bilik Budaya bersama mitra KPP Mining menggelar Workshop Media bertema “Menggali, Mendokumentasikan, dan Mempublikasikan Kekayaan Budaya Daerah melalui Jurnalisme” di Aula Lantai 2 Kantor Mal Pelayanan Publik Kabupaten Tapin, Sabtu (10/10/2026).

Bacaan Lainnya

 

Kegiatan ini mendorong jurnalis, pelajar dan pelaku budaya berperan dalam mendokumentasikan serta memperkenalkan kebudayaan lokal melalui karya jurnalistik.

 

Ketua Panitia Pelaksana Muhammad Reyhan Gymnastiar mengatakan, workshop tersebut diikuti sekitar 40 peserta yang terdiri atas jurnalis, pelajar SMK di Kabupaten Tapin, dan peserta lainnya. Mereka mendapat kesempatan mempelajari cara mengolah informasi kebudayaan menjadi berita yang menarik, akurat, dan bernilai bagi masyarakat.

 

“Kami ingin budaya yang ada di Kabupaten Tapin lebih dikenal melalui pemberitaan. Karena itu, peserta diajak belajar bagaimana memberitakan kebudayaan secara tepat sekaligus menghasilkan karya jurnalistik yang bisa memperkenalkan kekayaan budaya daerah,” ujarnya.

 

Menurut Reyhan, kekayaan budaya Tapin perlu mendapat ruang lebih luas dalam pemberitaan. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teknik penulisan berita, tetapi juga aktif menghasilkan karya jurnalistik yang mengangkat tradisi, kesenian, pengetahuan lokal, serta kehidupan para pelaku budaya di daerah.

 

Sementara CSR Officer KPP Mining Wahyu Nendra Krisna, mengatakan keterlibatan wartawan, pelajar, dan pelaku budaya menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap identitas budaya Tapin.

 

Ia berharap materi yang disampaikan dalam workshop dapat menjadi bekal bagi peserta untuk menghasilkan tulisan khusus mengenai kebudayaan lokal. Publikasi yang berkelanjutan dinilai penting agar tradisi dan pengetahuan budaya daerah tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi juga menjangkau khalayak yang lebih luas.

 

“Kami berharap kegiatan ini bermanfaat dan peserta semakin terdorong menghasilkan karya jurnalistik tentang budaya-budaya di Tapin,” kata Wahyu.

 

Selanjutnya Budi Dayak Kurniawan selaku aktivis budaya dan jurnalis dalam materinya menyampaikan bahwa tidak semua informasi otomatis memiliki nilai berita. Jurnalis perlu memahami nilai berita atau news value agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat memiliki relevansi dan dampak.

 

Nilai berita, menurut Budi, dapat muncul dari unsur drama, kriminalitas, keadilan, skala peristiwa, dampak, kedekatan dengan pembaca, keunikan, hingga penemuan dan pengetahuan baru.

 

Prinsip tersebut juga dapat diterapkan dalam peliputan kebudayaan agar berita tidak berhenti pada laporan kegiatan, tetapi mampu mengungkap makna, persoalan, dan nilai yang terkandung di dalamnya.

 

Lanjut Budi ada tiga unsur sederhana yang diperlukan untuk mempertahankan kebudayaan, yakni keberadaan pelaku budaya, penikmat atau penonton, serta pembiayaan.

 

“Ketiganya saling berkaitan dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan aktivitas kebudayaan, “paparnya.

 

Selain itu, pelestarian budaya menghadapi berbagai tantangan, antara lain pengaruh agama, kebijakan, tren, perubahan nilai-nilai sosial, dan kebutuhan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tantangan tersebut perlu dipahami agar kebudayaan tetap hidup tanpa kehilangan nilai penting yang diwariskan antargenerasi.

 

Melalui workshop ini, jurnalisme diharapkan menjadi salah satu sarana untuk merekam perjalanan kebudayaan Tapin, memperkenalkan para pelakunya, serta membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenali dan menghargai warisan budaya daerah.

 

 

Pos terkait