Sektor pertanian Kalsel tumbuh 6,19 persen pada Triwulan I 2026, tetapi DPRD Kalsel soroti harga jual, pupuk, dan kesejahteraan petani.
Banjarmasin, kalselpos.com – Pertumbuhan sektor pertanian Kalimantan Selatan pada 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan petani.
Persoalan harga hasil panen, biaya produksi, pupuk hingga daya beli masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan Fraksi Golkar, Dewi Raisha Aprilia, mengatakan sektor pertanian tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan. Pada Triwulan I 2026, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh 6,19 persen secara tahunan (y-on-y).
“Pertumbuhan produksi harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Jangan sampai produksi naik, tetapi harga jual dan pendapatan petani justru tertekan,” ujarnya.
Menurut Raisha, Barito Kuala (Batola) sebagai salah satu lumbung padi Kalsel mendapat dukungan melalui bantuan pertanian APBD sekitar Rp1,7 miliar dan APBN sekitar Rp1,1 miliar untuk cetak sawah serta irigasi perpompaan.
Batola juga mendapat alokasi pupuk bersubsidi sekitar 20.230 ton.
Ia menilai stabilitas harga gabah saat panen raya harus dijaga melalui penyerapan Bulog. Distribusi pupuk juga harus tepat waktu dan sasaran.
“Yang paling penting, daya beli petani harus meningkat. Pertumbuhan pertanian harus benar-benar dirasakan petani,” tegasnya.





