Pemkot Palangka Raya bersama Kemenko Pangan dan Pemprov Kalteng memperkuat mitigasi karhutla gambut lewat rewetting dan pembangunan embung.
Palangka Raya, kalselpos.com –
Pemerintah Kota Palangka Raya bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan pemerintah pusat memperkuat mitigasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Strategi utama yang disiapkan adalah pembangunan embung baru serta rehabilitasi dan perluasan jaringan kanal di wilayah rawan.
Rencana tersebut mengemuka usai Rapat Koordinasi Pemantauan dan Evaluasi Penanggulangan Karhutla KSPEAN di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Minggu (1/11). Pertemuan itu dihadiri Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq, dan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.
Fairid Naparin mengungkapkan, pemaparan hasil mitigasi berfokus pada pencegahan jangka panjang di kawasan lanskap yang mencakup Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Kapuas, dan sekitarnya.
“Rencana dari Pak Wamenko salah satunya membuat embung atau kanal, serta memperluas dan merehabilitasi kanal yang sudah ada. Prinsip utamanya adalah membasahi kembali (rewetting) wilayah-wilayah yang rawan terbakar secara berulang,” ujar Fairid kepada awak media.
Ia menjelaskan, sistem pembasahan ini akan mengandalkan sumber air yang memadai. Sumber debit air besar di kawasan Jalan Keranggan, Talawang, dinilai sangat potensial karena perbedaan elevasi tanah yang relatif kecil.
“Ada program baru dan ada pengoptimalan yang sudah ada. Sumber air dari sekitar Talawang ini nantinya difungsikan untuk pembasahan di wilayah Talawang, Kelampangan, hingga Buluh Merindu. Langkah ini tentu menyesuaikan dengan tata ruang dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) setempat, dan akan ditindaklanjuti dalam rapat koordinasi teknis,” jelasnya.
Mengenai kondisi terkini, Fairid menyebut petugas lapangan masih fokus melakukan pembasahan di sejumlah titik panas (hotspot), seperti di wilayah Marang dan Kelampangan. Mengingat struktur tanah di Palangka Raya didominasi gambut, proses pembasahan harus dilakukan secara terus-menerus.
“Tanah gambut berbeda dengan tanah mineral. Tidak bisa hanya sekali siram langsung padam. Pemadaman harus berulang-ulang agar api di dalam tanah benar-benar padam total,” tegas Fairid.
Terkait estimasi kerugian ekonomi akibat karhutla, Pemkot Palangka Raya saat ini masih melakukan penghitungan melalui instansi terkait. Evaluasi dilakukan dengan melihat indikator perekonomian masyarakat pada laporan kuartal IV mendatang.





