Kemarau melanda, Kebakaran di Banjarmasin tembus 88 kejadian hingga Agustus 2026

Teks Foto: []istimewa COFFEE MORNING - Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin bersama jajaran dan wartawan mengikuti kegiatan coffee morning di Aula Mathilda, Senin (7/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi ajang memperkuat sinergi dan komunikasi antara kepolisian dengan media dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.(kalselpos.com)

Disdamkarmat Banjarmasin mencatat 88 kejadian kebakaran hingga Agustus 2026. Masyarakat diimbau menyediakan APAR untuk penanganan awal tiga menit pertama.

BANJARMASIN, Kalselpos.com – Musim kemarau menjadi perhatian serius Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Banjarmasin. Pasalnya, kasus kebakaran di Kota Banjarmasin menunjukkan angka yang cukup tinggi sepanjang 2026.

Bacaan Lainnya

 

Berdasarkan data Disdamkarmat Banjarmasin, sejak Januari hingga Agustus 2026 tercatat 88 kejadian kebakaran di wilayah Kota Banjarmasin.

 

Mengantisipasi kebakaran semakin meluas, Disdamkarmat Banjarmasin mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di rumah masing-masing.

 

Kepala Disdamkarmat Banjarmasin, Hendro, mengatakan keberadaan APAR sangat penting untuk melakukan penanganan awal ketika terjadi kebakaran.

 

“Kami mengimbau untuk mempunyai APAR masing-masing, karena tiga menit awal itu APAR sangat diperlukan,” ujar Hendro, Senin (7/9/26).

 

Menurutnya, penanganan pada menit-menit awal sangat penting sebelum api membesar dan sulit dikendalikan. Karena itu, masyarakat juga perlu mengetahui cara menggunakan APAR dengan benar.

 

Hendro menyebut, ketentuan mengenai APAR juga telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2023. Namun, ketentuan tersebut lebih bersifat imbauan kepada masyarakat.

 

Untuk kebutuhan rumah tangga, Hendro menyarankan masyarakat menggunakan APAR jenis powder dengan kapasitas sekitar tiga kilogram. Selain relatif terjangkau, jenis tersebut dinilai cukup efektif untuk penanganan awal kebakaran di rumah.

 

“Kalau di rumah pakai powder itu saja. Tiga kilo, dengan harga sekitar tiga ratus lima puluh ribuan,” jelasnya.

 

Sementara itu, APAR jenis CO2 memiliki harga yang jauh lebih mahal. Untuk ukuran tiga kilogram, harganya dapat mencapai sekitar Rp3 juta. Meski demikian, jenis CO2 lebih direkomendasikan untuk lingkungan perkantoran, terutama karena penggunaannya lebih aman untuk peralatan elektronik.

 

“Kalau yang tiga kilo (CO2) bisa tiga juta harganya. Tapi daya pukulnya itu melebar. Kalau di kantor sangat dianjurkan karena kadang (kebakaran) mengenai barang elektronik,” pungkasnya.

 

Dengan meningkatnya kejadian kebakaran selama musim kemarau, masyarakat diimbau tidak hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran. Kesiapsiagaan dari lingkungan rumah menjadi langkah penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran besar.

 

 

Pos terkait