Pembukaan kembali ekspor ribuan monyet ekor panjang oleh pemerintah Indonesia memicu gelombang protes keras dari aktivis dan akademisi.
Kebijakan pemerintah Indonesia membuka kembali keran ekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memicu gelombang protes keras dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai langkah ini sebagai kemunduran besar bagi komitmen konservasi satwa di tanah air.
Berdasarkan data CITES, Indonesia mengantongi kuota ekspor sebanyak 1.928 ekor monyet ekor panjang menuju Amerika Serikat dan China. Ribuan primata ini akan memenuhi kebutuhan riset biomedis serta uji toksisitas laboratorium di kedua negara tersebut.
Nilai ekonomi dari perdagangan satwa ini terbilang sangat fantastis. Di pasar internasional, harga satu ekor monyet ekor panjang diperkirakan menembus angka USD 3.000 hingga USD 4.000 atau sekitar Rp53 juta hingga Rp71 juta.
Pemerintah melalui otoritas terkait menegaskan bahwa kebijakan ini sudah memenuhi regulasi yang ketat. Pihak instansi mengklaim satwa ekspor bukan berasal dari alam liar, melainkan hasil penangkaran resmi di Pulau Tinjil dan Mesuji.
Selain mengejar nilai ekonomi, langkah ekspor ini juga menjadi strategi manajemen populasi. Di beberapa wilayah, ledakan populasi monyet ekor panjang kerap memicu konflik horizontal karena merusak lahan pertanian warga.
Namun, koalisi organisasi perlindungan hewan nasional dan internasional menolak mentah-mentah alasan pemerintah tersebut. Mereka menilai kebijakan ini sangat kontradiktif dengan status konservasi sang primata yang kini masuk kategori terancam punah.
Para aktivis menyoroti risiko pencucian satwa (laundering), di mana monyet tangkapan liar berpotensi masuk ke fasilitas penangkaran secara ilegal. Selain itu, proses pemisahan paksa dari koloni dan uji coba laboratorium dinilai melanggar etika kesejahteraan satwa.
Kritik tajam juga datang dari kalangan akademisi, termasuk para pakar dari IPB University. Mereka menyayangkan kebijakan ekspor ini karena membuat Indonesia tertinggal dari tren riset kesehatan global.
Saat ini, dunia medis internasional justru sedang bergerak meninggalkan penggunaan hewan coba (animal testing). Banyak negara maju kini mulai beralih menggunakan teknologi alternatif seperti uji coba berbasis in vitro, organ-on-chip, dan simulasi kecerdasan buatan.





