YBM PLN UID Kalselteng melalui YBM PLN UP3 Barabai menyalurkan 40 unit sepeda gratis untuk anak yatim dan dhuafa guna menunjang aktivitas sekolah.
Banjarbaru, kalselpos.com –
Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menyalurkan bantuan sarana penunjang sekolah bagi anak-anak dhuafa. Oleh karena itu, lembaga sosial ini meluncurkan program bertajuk “Gowes Cita-Cita Yatim Dhuafa” pada Jumat (14/8/2026). Langkah strategis tersebut menjadi wadah pemanfaatan zakat, infak, dan sedekah dari para pegawai PLN. Melalui program ini, YBM PLN UP3 Barabai memberikan sebanyak 40 unit sepeda secara gratis kepada anak yatim dan siswa berprestasi.
Manager PLN UP3 Barabai, Izbet Alighorky, menjelaskan bahwa penyerahan bantuan menyasar para pelajar tingkat SMP, MTs, atau sederajat. Selanjutnya, petugas mendistribusikan sepeda ke beberapa sekolah di berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Lokasi penyaluran meliputi siswa di SMPN 1 Tanjung, SMPN 2 Rantau, dan SMPN 11 Hulu Sungai Selatan. Izbet berharap fasilitas transportasi ramah lingkungan ini dapat menambah semangat para siswa untuk terus rajin belajar ke sekolah.
Acara penyerahan bantuan diikuti para siswa penerima manfaat bersama kepala madrasah dan guru pendamping. Di samping itu, pengurus PIKK PLN UP3 Barabai dan perwakilan Dharma Wanita Persatuan Kantor Kemenag Hulu Sungai Tengah turut menghadiri agenda sosial tersebut. Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag HST, H. Idi Amin, M.Ag., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian nyata dari pihak PLN. Menurutnya, bantuan sepeda gratis ini sangat meringankan beban orang tua dalam menunjang aktivitas anak menuntut ilmu.
General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegawai yang konsisten menunaikan zakat via YBM. Bahkan, ia menegaskan bahwa manajemen berkomitmen penuh untuk terus menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat bawah. Akhirnya, bantuan ini membuktikan kontribusi positif BUMN dalam mendukung pemerataan akses pendidikan di daerah terpencil. Dengan demikian, ketiadaan alat transportasi tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak pedesaan untuk mengejar cita-cita masa depan mereka.





