Rantau, kalselpos.com — Uji coba budidaya padi apung di lahan rawa pasang surut Kabupaten Tapin menunjukkan hasil menjanjikan. Demplot yang dikembangkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan bersama Dinas Pertanian Tapin di Desa Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara, berhasil memasuki panen kedua sejak program tersebut dijalankan.
Keberhasilan panen itu menjadi indikator bahwa teknologi padi apung dapat diterapkan pada wilayah yang selama ini menghadapi kendala genangan air tinggi, terutama di kawasan rawa lebak dan pasang surut.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Tapin H Zainal Abidin, yang mewakili Bupati Tapin H Yamani, mengatakan inovasi tersebut menawarkan solusi bagi petani yang kerap kesulitan melakukan persemaian maupun penanaman saat muka air meningkat.
“Selama ini petani di wilayah rawa menghadapi keterbatasan lahan semai ketika genangan air tinggi. Teknologi padi apung membuka peluang agar proses budidaya tetap berjalan meskipun kondisi lahan tergenang,” kata Zainal Abidin saat syukuran panen padi apung di Margasari Hilir.
Program percontohan tersebut mendapat dukungan 250 unit styrofoam dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan pada 2025. Dari jumlah itu, sebanyak 145 unit berhasil dipanen.
Meski hanya memanfaatkan area sekitar 290 meter persegi atau setara 0,029 hektare, produktivitas yang dihasilkan mencapai 6 hingga 6,5 ton gabah per hektare. Angka tersebut dinilai cukup kompetitif dibandingkan produktivitas lahan sawah konvensional.
Menurut Zainal, hasil panen tahun ini sedikit menurun dibanding musim sebelumnya yang mencapai produktivitas setara 9,5 ton per hektare. Penurunan dipengaruhi serangan burung manyar yang cukup tinggi selama masa pertumbuhan tanaman.
Pemerintah daerah melihat teknologi padi apung berpotensi dikembangkan lebih luas, terutama pada kawasan rawa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk produksi pangan.
Karena biaya produksi masih relatif tinggi, pemerintah mendorong penggunaan bahan lokal sebagai pengganti styrofoam agar teknologi tersebut lebih mudah diterapkan petani.
“Perlu dilakukan kajian lanjutan agar bahan-bahan yang digunakan lebih murah dan mudah diperoleh. Misalnya memanfaatkan pelepah atau batang rumbia yang banyak tersedia di kawasan sekitar sungai,” ujar Zainal.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan Masliyana menilai keberhasilan panen padi apung menunjukkan kemampuan petani beradaptasi terhadap tantangan lingkungan dan perubahan iklim.
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa lahan dengan kondisi tergenang tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Ini menjadi contoh bagaimana inovasi mampu menjawab tantangan pertanian di lapangan,” kata Masliyana.
Menurut dia, inovasi tersebut menjadi salah satu alternatif untuk menjaga produktivitas lahan yang selama ini terkendala genangan air.
Ia menambahkan pemerintah provinsi terus mendorong peningkatan luas tanam dan pemanfaatan lahan potensial guna memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Keberhasilan demplot di Candi Laras Utara diharapkan dapat menjadi model pengembangan bagi wilayah lain yang memiliki karakteristik lahan serupa, “ujarnya.
Bagi Kabupaten Tapin, hasil panen kedua padi apung bukan sekadar keberhasilan program percontohan. Inovasi tersebut membuka peluang baru bagi optimalisasi lahan rawa yang selama ini kurang produktif, sekaligus menjadi strategi adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





