Banjarmasin, kalselpos.com –
Perbedaan pandangan antara generasi muda dan orang tua kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya kompleksitas konflik antar-generasi di era digital. Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska MAB), Ira Setiawati, menilai konflik antara Generasi Z dan orang tua tidak lagi sekadar persoalan miskomunikasi, tetapi telah berkembang menjadi benturan nilai dan budaya.
Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat, terbuka, dan terkoneksi secara digital. Akses informasi tanpa batas membentuk karakter yang kritis, ekspresif, serta menuntut ruang otonomi yang lebih luas. Sementara itu, orang tua yang berasal dari generasi sebelumnya umumnya dibesarkan dalam sistem nilai yang hierarkis, menekankan kepatuhan dan stabilitas.
Perbedaan ini kerap memicu konflik, terutama dalam pola komunikasi. Gaya komunikasi Gen Z yang terbuka sering dianggap kurang sopan oleh orang tua. Sebaliknya, pendekatan orang tua yang normatif dan menggurui dipersepsikan anak sebagai bentuk kurangnya empati.
Konflik juga dipengaruhi perbedaan nilai hidup. Gen Z lebih mengutamakan kesehatan mental dan keseimbangan hidup, sedangkan orang tua menekankan keamanan ekonomi dan pencapaian sosial. Ketidakselarasan ini sering menimbulkan tekanan emosional dalam keluarga.
Ira menekankan pentingnya komunikasi empatik dan literasi lintas generasi sebagai solusi. Orang tua perlu memahami dunia digital, sementara Gen Z didorong menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan saling memahami, keluarga dapat menjadi ruang tumbuh yang adaptif dan harmonis di tengah perubahan zaman.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





