Ancaman krisis air bersih melanda Kotabaru akibat sungai kering dan embung kritis. PDAM terapkan penggiliran distribusi air bersih.
Kotabaru, kalselpos.com –
Dampak kemarau panjang mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Kotabaru. Direktur PDAM Kabupaten Kotabaru, Tri Basuki, mengungkapkan bahwa dua embung utama yang menjadi tumpuan air baku warga kini berada di level kritis.
Menurut Tri, fenomena ini tidak hanya melanda Kotabaru, tetapi juga terjadi di hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan hingga skala nasional. Bahkan, sejumlah daerah seperti Banjarmasin, Barito Kuala (Batola), hingga Pelaihari di Tanah Laut kabarnya sudah mengalami mati total.
“Dinamika kemarau saat ini bukan saja melanda Kabupaten Kotabaru, tetapi se-Indonesia. Hampir semua kabupaten di Kalsel mengalami hal yang sama,” ujar Tri Basuki saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Kamis (17/08/2026) siang kemarin.
Selama ini, PDAM Kotabaru mengandalkan Embung Tirawan dan Embung Gunung Ulin untuk menyuplai air bersih. Namun, kini debit air pada kedua embung tersebut terus menyusut secara drastis.
“Embung Tirawan yang biasanya berada di level 700 sekarang sudah turun menjadi 300. Sementara itu, Embung Gunung Ulin dari level 600 sekarang turun menjadi level 100,” jelasnya.
Beruntung, Embung Gunung Ulin masih bisa bertahan di level 100 saat ini. Tri menjelaskan bahwa pasokan air baku dari Intake Sebelimbingan menyokong kekuatan embung tersebut sejak selesai dibangun pada tahun 2023 lalu.
Di sisi lain, kondisi alam justru jauh lebih memprihatinkan. Tri menyebut sungai-sungai utama yang biasanya memasok air baku kini sudah kering total.
“Sebenarnya sumber air alami sudah tidak ada lagi airnya. Sungai Mandin, Sungai Gunung Ulin, Sungai Tirawan, dan Sungai Gunung Perak semuanya habis,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pihak PDAM telah memaparkan kondisi kritis ini kepada pemerintah daerah untuk mencari solusi bersama. Pasalnya, Kabupaten Kotabaru tahun ini harus menghadapi dua bencana hebat sekaligus.
“Kita menghadapi bencana kekeringan dan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jadi, dua hal ini yang menjadi persoalan besar tahun ini,” katanya.
Berdasarkan informasi dari BMKG, musim hujan diperkirakan baru akan turun pada bulan November mendatang. Akibatnya, untuk menyiasati krisis yang ada, PDAM terpaksa melakukan penghematan ekstrem dengan menerapkan sistem penggiliran distribusi air.
“Kami memberlakukan penggiliran jalannya air demi menghemat debit yang tersisa. Ada wilayah yang mendapat air 3 hari sekali, bahkan ada yang 8 hari sekali. Kalau hujan sudah turun, tentu distribusi air akan kembali normal,” pungkas Tri.





