Pemkab Tapin menggelar koordinasi penguatan peran Bunda PAUD tingkat desa/kelurahan untuk mendorong layanan pendidikan, gizi, dan pencegahan stunting.
Rantau, Kalselpos.com —
Pemerintah Kabupaten Tapin memperkuat peran Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat desa dan kelurahan. Langkah strategis ini bertujuan untuk memastikan layanan pendidikan anak terhubung langsung dengan aspek kesehatan, pemenuhan gizi, perlindungan, serta tumbuh kembang anak.
Pemerintah daerah membahas penguatan tersebut dalam rapat koordinasi di Gedung Pendopo Galuh Bastari pada Selasa (8/9/2026). Agenda ini mempertemukan Bunda PAUD Kabupaten Tapin dengan pengurus tingkat kecamatan, kelurahan, desa, serta Pokja Bunda PAUD.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tapin, Akhmad, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas PAUD membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, Bunda PAUD di setiap tingkatan pemerintahan memiliki posisi strategis untuk menghubungkan satuan pendidikan dengan pemerintah dan masyarakat.
“Peran Bunda PAUD sangat strategis untuk menggerakkan berbagai pihak dalam memastikan layanan berjalan baik. Sinergi ini harus sampai ke tingkat paling bawah,” kata Akhmad.
Selanjutnya, Akhmad menilai penguatan koordinasi bermanfaat untuk mendeteksi persoalan lembaga PAUD secara lebih cepat. Masalah tersebut biasanya meliputi sarana prasarana, kapasitas pendidik, hingga dukungan dari pemerintah desa dan masyarakat.
Kegiatan penting ini menghadirkan sekitar 364 peserta yang terdiri atas TP-PKK Kabupaten Tapin, Pokja, serta para pendamping. Sementara itu, tim Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalsel dan tim aplikasi PIJAR Tapin bertindak sebagai pemateri.
Di sisi lain, Bunda PAUD Kabupaten Tapin Hj Faridah Yamani mengingatkan bahwa orang tua wajib memulai perhatian terhadap anak sejak dini. Fase keemasan tersebut menjadi pondasi utama dalam pembentukan karakter dan kemampuan anak ke depan.
“Anak usia dini adalah investasi peradaban. Mereka berada pada masa keemasan yang tidak akan terulang. Karena itu, fondasi karakter, kecerdasan, dan kesehatan harus membangun sejak awal,” ujarnya.
Oleh karena itu, Faridah meminta Bunda PAUD tidak sekadar menjalankan fungsi seremonial di lapangan. Ia menuntut mereka aktif memantau kondisi, memahami kendala para pendidik, serta menjadi fasilitator untuk mencari solusi bersama pemangku kebijakan.
“Kenali kondisi lembaga PAUD di wilayah masing-masing. Pahami kendala para pendidik dan jadilah fasilitator untuk mencari solusi bersama,” katanya.
Faridah juga menekankan pentingnya penerapan pendekatan holistik integratif dalam pengasuhan anak. Bagi dirinya, kualitas PAUD tidak terpisah dari faktor kesehatan dan kecukupan gizi anak didik.
Oleh sebab itu, Bunda PAUD harus memperkuat kerja sama dengan posyandu, puskesmas, dan kader PKK. Kolaborasi erat tersebut sangat berguna untuk memantau tumbuh kembang sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting.
Terkait jangkauan wilayah, Faridah meminta Bunda PAUD tingkat desa dan kelurahan aktif melakukan advokasi kepada kepala desa, lurah, dan BPD. Dukungan anggaran dari desa sangat penting untuk menunjang operasional, menyediakan alat permainan edukatif, serta meningkatkan kesejahteraan pendidik.
Namun, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah masa transisi dari PAUD ke sekolah dasar (SD). Faridah mengingatkan agar proses perpindahan sekolah ini tidak memberikan beban tuntutan akademik terlalu dini sehingga anak kehilangan masa bermain mereka.
“Pembelajaran di PAUD harus tetap berpusat pada bermain yang bermakna. Hal yang perlu tumbuh adalah kesiapan mental, kemandirian, dan karakter anak,” jelas Faridah.
Menurutnya, keberhasilan PAUD tidak semata-mata mengacu pada kemampuan akademik anak di kelas. Lingkungan yang sehat, rasa aman, kemampuan bersosialisasi, dan tumbuh kembang yang optimal justru menjadi modal utama anak memasuki pendidikan dasar.
Kesimpulannya, Pemkab Tapin menargetkan terbangunnya pola kerja yang lebih terintegrasi melalui penguatan koordinasi ini. Pemerintah ingin seluruh elemen masyarakat bergerak bersama demi mewujudkan PAUD bermutu hingga ke tingkat desa.





