Antisipasi Karhutla, PUPR Kalsel Basahi Hutan Lindung

Teks foto : PEMBASAHAN HUTAN LINDUNG - Sejumlah personel Dinas PUPR Kalsel dan Dinas Kehutanan Kalsel memantau pengoperasian pipa pompa air di kawasan Hutan Lindung Jalan Makmur, Banjarbaru. Pembasahan lahan rawan ini guna mengantisipasi ancaman Karhutla selama musim kemarau. (ist)(kalselpos.com)

Dinas PUPR Kalsel mengerahkan 53 personel dan mengoperasikan pompa air 24 jam untuk melakukan pembasahan lahan hutan lindung demi mencegah karhutla.

Banjarbaru, kalselpos.com

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memperkuat upaya pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sektor ini mengerahkan sebanyak 53 personel untuk bersiaga di lapangan. Selain itu, petugas mengoperasikan sejumlah pompa air secara nonstop. Langkah taktis ini bertujuan untuk menjaga kawasan hutan lindung tetap basah selama musim kemarau.
Tim gabungan bersiaga sejak 10 Agustus 2026 di Posko Karhutla, kawasan Hutan Lindung Jalan Makmur, Kota Banjarbaru. Dalam pelaksanaannya, Dinas PUPR berkolaborasi erat dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel. Kebijakan ini mengantisipasi puncak kemarau yang akan terjadi pada September mendatang. Kepala Dinas PUPR Kalsel, M. Yasin Toyib, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pembasahan lahan sejak dini.
Petugas sudah membuka pintu air Karhutla di BRK 9 Cinde Alus sejak Mei lalu. Aliran air mengalir secara konsisten dengan debit sekitar 0,47 meter kubik per detik. Pasokan ini menjamin kawasan Guntung Damar dan area sekitar Bandara Syamsudin Noor tetap lembap. Berdasarkan pemantauan terbaru, kawasan ujung Guntung Damar hingga area bandara dilaporkan aman dari kekeringan.
Untuk mendukung operasional, Dinas PUPR menyiagakan satu unit pompa besar berukuran 8 inci. Selanjutnya, mereka juga mengoperasikan dua unit pompa 4 inci serta pompa apung. Semua peralatan ini bekerja maksimal selama 24 jam penuh. Mesin-mesin tersebut menyedot air dari jaringan irigasi dan saluran pembuang menuju area hutan.
Konsepnya, petugas mengangkat air dari saluran irigasi ke permukaan hutan lindung. Setelah itu, tim kehutanan melanjutkan pembasahan secara estafet ke area dalam. Dinas PUPR memfokuskan peran pada penyediaan infrastruktur pengatur air atau tabet. Guna mendukung kelancaran, pemda mendirikan sebuah posko utama dengan dua tenda darurat di ujung Jalan Makmur. Akhirnya, optimasi infrastruktur air ini berhasil menekan risiko meluasnya kebakaran di wilayah Banjarbaru.

Pos terkait