Anggota DPRD Kalsel Yudistira Bayu Budjang menilai kenaikan NTP Kalsel 2026 positif, namun bukan satu-satunya tolok ukur kesejahteraan petani.
Banjarmasin, kalselpos.com – Kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan pada 2026 dinilai menjadi sinyal positif, namun belum dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesejahteraan petani.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan Fraksi Demokrat Persatuan Perjuangan (DPP), Yudistira Bayu Budjang, mengatakan kondisi petani harus dilihat secara lebih menyeluruh, terutama dari harga hasil panen, biaya produksi, pupuk dan daya beli rumah tangga.
“BPS mencatat NTP Kalsel April 2026 sebesar 128,99, naik 1,94 persen dibanding Maret. Ini menunjukkan daya tukar petani secara agregat membaik,” ujarnya.
Menurut Yudistira, kondisi tersebut belum tentu dirasakan seluruh petani. Pada 2025, misalnya, NTP perkebunan rakyat mencapai 147,13, sedangkan subsektor perikanan hanya 98,04.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan harga hasil pertanian tetap menguntungkan ketika panen raya, sekaligus menjamin ketersediaan pupuk dan mengendalikan biaya produksi.
“Jangan hanya melihat pertumbuhan PDRB atau kenaikan NTP. Yang paling penting adalah apakah pendapatan riil petani meningkat dan daya belinya semakin kuat,” tegas politisi demokrat ini
Ia juga menyoroti Batola sebagai salah satu sentra pertanian Kalsel. Menurutnya, perlindungan harga, perbaikan irigasi, pupuk tepat sasaran dan hilirisasi harus diperkuat agar nilai tambah pertanian benar-benar dinikmati petani.





