Ketua DPRD Banjarmasin Rikval Fachruri menyerap aspirasi pelebaran jalan dan dermaga sungai pendukung wisata religi Kubah Guru Zuhdi.
BANJARMASIN, Kalselpos.com – Kawasan Kubah Guru Zuhdi menjadi salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Jumlah pengunjung yang tinggi, terutama saat haul dan kegiatan keagamaan, menuntut dukungan sarana yang lebih layak. Hal ini agar aktivitas warga dan jemaah berjalan lebih nyaman.
Warga menyampaikan harapan tersebut saat kegiatan Reses Ketua DPRD Kota Banjarmasin Rikval Fachruri. Kegiatan berlangsung di RT 5, Kelurahan Antasan Kecil Timur. Warga mengajukan sejumlah kebutuhan mendesak demi pengembangan kawasan tersebut.
Beberapa usulan meliputi pelebaran jalan, penyediaan tempat parkir, peninggian badan jalan untuk mengurangi genangan banjir, hingga pembangunan dermaga sebagai akses lewat sungai.
Rikval menilai Kubah Guru Zuhdi memegang peran penting sebagai destinasi unggulan di Banjarmasin. Pembangunan sarana di sana tidak hanya melayani warga sekitar, tetapi juga menampung kedatangan peziarah dari berbagai penjuru. “Saat haul atau ziarah, jemaah datang bukan hanya dari Banjarmasin, melainkan seluruh Kalsel, Kalteng, bahkan luar Kalimantan. Kami butuh dukungan sarana yang lebih baik,” ujarnya.
Pengembangan akses harus mencakup jalur darat maupun sungai. Lewat jalur darat, warga meminta pelebaran jalan, pembuatan tempat parkir, serta peninggian ruas jalan yang kerap tergenang.
Selain itu, warga berharap pemerintah membangun dermaga di titik tertentu seperti RT 1, RT 7, dan RT 8. Dermaga ini bisa menjadi alternatif saat jalan raya padat, khususnya saat acara besar berlangsung. “Ukurannya tidak perlu luas, yang penting aman dan nyaman. Pemerintah bisa memilih bentuk dermaga apung atau menggunakan kayu ulin,” katanya.
Rikval juga menekankan perlunya pengembangan yang saling menyatu. Pemerintah harus menyusun rencana yang menghubungkan berbagai potensi wisata di Banjarmasin agar manfaat ekonomi meluas. Kita bisa menggabungkan wisata religi dengan kuliner, pusat belanja, hingga wisata sungai. Dengan begitu, pengunjung tidak sekadar berziarah, melainkan menikmati seluruh daya tarik kota.
“Kita butuh keterkaitan antar tempat. Setelah berziarah, wisatawan bisa mencoba kuliner, berbelanja, lalu mengunjungi pasar terapung atau lokasi lain,” jelasnya.
Sebagai Kota Seribu Sungai, Banjarmasin memiliki kelebihan yang layak terus dikembangkan. Kita bisa menyatukan pasar terapung dan objek wisata lain dengan wisata religi dalam satu rencana pariwisata berkelanjutan. Lewat keterpaduan ini, Rikval berharap wisatawan tidak sekadar singgah sebentar. Mereka mau tinggal lebih lama sehingga membawa dampak ekonomi yang lebih besar bagi warga. “Jika semua tempat saling terhubung, wisatawan bisa tinggal tiga hingga tujuh hari di sini. Hal ini pasti memperlancar perputaran uang bagi masyarakat dan pelaku usaha,” tutupnya.





