Kredit macet di BRI berujung jadi Terdakwa Korupsi, Satu keluarga melaporkan ‘ketidakberesan’ Kasusnya ke Kejati Kalsel

Teks foto []s.a lingga USAI PERSIDANGAN - Hanya karena pinjaman SimPedes di BRI Guntung Payung Banjarbaru sebesar Rp100 juta, satu keluarga (terdiri dari ayah dan dua anak kandungnya) jadi terdakwa kasus korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korups Banjarmasin, seperti yang terekam kamera, Senin (24/6/24) siang, diapit oleh penasihat hukumnya.(kalselpos.com)

BANJARMASIN,Kalselpos.com  – Hanya karena pinjaman SimPedes di BRI Guntung Payung Banjarbaru sebesar Rp100 juta, satu keluarga (terdiri dari ayah dan dua anak kandungnya) jadi terdakwa kasus korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banjarmasin.

 

Bacaan Lainnya

Parahnya oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Banjarbaru,

ketiganya dituntut penjara, masing – masing selama 5 tahun, termasuk denda sebesar Rp100 juta (juga masing – masing, red) subsidair 3 bulan penjara.

 

Tuntutan tim JPU dari Kejari Banjarbaru, yang diketuai Sugeng Wibowo Saputra SH MH (Kasi Pidsus,red) sendiri dibacakan pada Senin (10/6/24) lalu.

 

Tak salah, atas ketidakadilan dari penyelidikan di kepolisian hingga tuntutan ‘tinggi’ kejaksaan tersebut, lewat seorang kerabatnya, ketiga terdakwa terdiri Andi Syamsul Bahri (60), Andi Ruslanto (37) dan Nur Cahaya (34), melaporkan kasusnya ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalsel, Jumat (21/6/26) siang, di Banjarmasin.

 

Posisi kasusnya, sang ayah ( Andi Syamsul Bahri) sebagai pemohon kredit BRI. Sedang dua anaknya, yakni Andi Ruslanto dan Nur Cahaya, dilaporkam mengunakan kredit SimPeda, tidak sesuai peruntukannya (sesuai kredit) alias dipergunakan untuk keperluan lain.

 

Sebagaimana surat yang disampaikan kepada media, diceritakan awal kredit macet program SimPeda di BRI Guntung Payung bermula pinjaman kredit sebesar Rp100 juta yang dicairkan tanggal 3-11-2020 lalu.

 

Singkat cerita, oleh ketiga terdakwa kredit yang sempat dilaporkan macet di BRI tersebut, berhasil dilunasi, termasuk dendanya sebesar Rp142 juta, pada 13 Juli 2023.

 

Berdasarkan laporan ketiga terdakwa, yang semua warga Jalan Karang Anyar 1, Pondok IV RT 15 RW 08, Kelurahan Lok Tabat Utara Banjarbaru tersebut, mereka pertama kali dipanggil penyidik Sat Tipikor Polresta Banjarbaru, pada 23 Mei 2023, menyusul laporan pihak BRI Guntung Payung.

 

Lantas, 9 bulan kemudian, ketiganya langsung ditahan oleh penyidik Kejari Banjarbaru, pada 26 Februari 2024, sebelum kasusnya bergulir di Pengadilan Tipikor Banjarmasin hingga kini.

 

Sebagaimana surat tertulis yang dilaporan ketiga terdakwa ke Kejati Kalsel, disampaikan, jika dalam persidangan yang diketuai Fidiyawan Satriantoro SH, JPU sempat menghadirkan saksi ahli dari BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) lewat sidang online

 

Pada persidangan tersebut, Hakim sempat bertanya kepada saksi ahli dari BPK, saat melakukan audit terhadap 37 nasabah bermasalah, apakah ada nama terdakwa Andi Syamsul Bahri?.”

Saksi ahli menjawab : “Nanti dilihat.”

Lantas hakim kembali bertanya, “Apakah Pak Andi Syamsul Bahri diaudit sebelum BPK menyimpulkan kerugian negara?.”

Saksi ahli menjawab : “Tidak, Yang Mulia, hanya ada beberapa nasabah yang terkait.”

 

Hakim kemudian menanggapi : “Berarti Pak Andi Syamsul Bahri, tidak pernah diperiksa oleh pihak BPK, kenapa bisa disimpulkan kerugian negara Rp2,7 M, Sementara audit terakhir yang mana ada beberapa nasabah sudah melakukan pelunasan atau pembayaran.

 

“Jangan pihak BPK memakai atau mengikuti instansi lain. Di mana korupsinya Pak Haji Andi Syamsul Bahri.? Sementara pihak BPK tidak pernah memeriksa Pak Haji Andi Syamsul Bahri.”

Akhirnya, saksi ahli BPK tidak bisa menjawab dan hanya mutar-mutar dijawaban yang tidak nyambung dari pertanyaan majelis hakim,” sebut para terdakwa dalam laporannya.

 

Sementara itu, dalam sidang pembacaan pembelaan, di depan majelis hakim Pengadilan Tipikor Banjarmasin, Senin (24/6/24) siang, para terdakwa dengan berurai air mata menyampaikan pembelaan mereka masing – masing.

 

Usai persidangan, JPU dari Kejari Banjarbaru, Ridho SH, membenarkan jika dalam dakwaan kerugian negara disebutkan sebesar Rp2,7 miliar.

 

Namun saat ditanya, di mana ‘nyambung’-nya, pinjaman Rp100 juta dengan kerugian Negara Rp2,7 miliar ? Jaksa menjawab “Nilai itu, untuk semua kredit macet di BRI. Sedang untuk ketiga terdakwa memang pinjamnya memang Rp100 juta,” ucap Ridho.

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

 

 

 

 

Pos terkait