Ribuan jemaah memadati Haul ke-16 Datu Qabul di Candi Laras Selatan. Bupati Tapin Yamani dorong potensi pengembangan wisata religi daerah.
Rantau, kalselpos.com –
Ribuan jemaah dari berbagai daerah memadati kawasan Makam Datu Qabul atau Syekh Muhammad Mahmud Al Qabul di Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, dalam pelaksanaan haul ke-16, Rabu (17/9/2026).
Jemaah memadati kawasan tersebut sejak malam hingga siang hari. Mereka datang tidak hanya melalui jalur darat, tetapi juga menggunakan transportasi sungai untuk menuju kawasan makam.
Camat Candi Laras Selatan Rusmiati memperkirakan jumlah jemaah pada malam pelaksanaan haul kubra mencapai sekitar 5.000 orang. Hingga siang berikutnya, jumlah jemaah kembali menyentuh angka lebih dari 5.000 orang.
“Kalau malam tadi sekitar 5.000-an jemaah. Kemudian siang ini lebih dari 5.000 jemaah,” kata Rusmiati.
Untuk mengantisipasi kepadatan, panitia bersama pemerintah kecamatan menyediakan enam kantong parkir dan satu dermaga. Mereka mengatur fasilitas tersebut agar pergerakan kendaraan dan jemaah tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas warga.
Panitia juga mendirikan sebanyak 27 posko untuk mendukung pelaksanaan haul. Posko-posko ini memberikan pelayanan kesehatan bagi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan selama berada di lokasi.
Besarnya jumlah pengunjung turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Pedagang dan pelaku jasa memanfaatkan meningkatnya arus kunjungan, sementara petugas tetap menata aktivitas perdagangan agar tidak menghambat akses menuju kawasan makam.
Bupati Tapin H. Yamani mengatakan, haul Datu Qabul memiliki nilai keagamaan sekaligus menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Tapin. Besarnya jumlah jemaah juga menunjukkan adanya potensi pengembangan wisata religi di kawasan tersebut.
“Pemkab Tapin mendukung pelaksanaan Haul Datu Qabul sebagai bagian dari kearifan lokal dan potensi wisata religi di Kabupaten Tapin,” ujar Yamani.
Menurut Yamani, pemerintah perlu mengembangkan wisata religi dengan tetap mempertahankan nilai keagamaan dan budaya yang melekat pada tradisi haul. Pengelola kegiatan juga harus memperhatikan kenyamanan jemaah dan masyarakat sekitar.
Ia meminta semua pihak memperhatikan kebersihan dan ketertiban kawasan secara bersama-sama. Menurut dia, pengelola harus mengimbangi tingginya mobilitas selama haul dengan pengelolaan lingkungan dan pelayanan yang memadai agar kegiatan tetap berlangsung khidmat.
“Mari kita jaga bersama kekhidmatan, kebersihan, ketertiban dan kenyamanan selama pelaksanaan haul,” pungkasnya.





