Terdakwa kasus Penipuan Alkes Fiktif senilai Rp23 Miliar, Jaksa nuntut 10 bulan, Hakim vonis 12 bulan 

Teks foto []istimewa SIDANG ONLINE - Sidang yang kembali dilakukan secara online dari Lapas Kelas IIA LP Teluk Dalam Banjarmasin, terhadap terdakwa Arianto memasuki babak akhir masa persidangan atau pembacaan vonis.(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin kembali menggelar sidang lanjutan dugaan kasus penipuan alkes fiktif, yang mengakibatkan kerugian kepada korban senilai Rp23 miliar, pada Selasa (11/06/2024) siang.

 

Bacaan Lainnya

Sidang yang kembali dilakukan secara online dari Lapas Kelas IIA LP Teluk Dalam Banjarmasin, terhadap terdakwa Arianto memasuki babak akhir masa persidangan atau pembacaan vonis.

 

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang diketuai oleh Indra Meinantha Vidi memvonis terdakwa dengan hukuman 12 bulan pidana penjara. Putusan tersebut lebih tinggi dua bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang sebelumnya menuntut 10 bulan pidana penjara.

 

Dalam persidangan majelis Hakim mempertimbangkan, terdakwa mengalami sakit TBC atau kegawatdaruratan, sehingga menjadi salah satu pertimbangan dalam memutus perkara tersebut.

 

Usai persidangan, pihak korban melalui kuasa hukumnya Maulana SH menyatakan, vonis tersebut sangat tidak mewakili rasa keadilan di masyarakat. Pasalnya menurut dia, sebagaimana pertimbangan majelis hakim, terdakwa terbukti secara sah melakukan tindak pidana.

 

“Menurut kami belum memuaskan, belum mencerminkan rasa keadilan, karena sebagaimana pertimbangan hakim tadi, bahwa terdakwa terbukti secara sah melakukan perbuatan tidak pidana.

Selain itu tidak ada pengembalian kerugian terhadap korban, dan terdakwa juga berpendidikan memiliki jabatan sebagai direktur, dengan putusan itu belum memuaskan,” katanya.

 

“Selain itu pihaknya juga mempertanyakan sejak kapan TBC menjadi kegawatdaruratan, sehingga menjadi alasan majelis hakim dalam memutus perkara ini, apakah keadilan kalah dengan kekuasaan dan mafia hukum, sehingga dari kami pihak korban akan terus mengejar dan mencari keadilan,” tambahnya.

 

Dalam perjalannya, kasus ini mengemuka setelah adanya aduan atau laporan dari korban, atas dugaan perbuatan kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan dalam bisnis kerjasama alkes fiktif, pada tahun 2022, oleh PT Mediasi Delta Alfa yang mana Arianto selaku terdakwa merupakan direktur, hingga menyebabkan kerugian kepada korban sebesar Rp23 miliar rupiah.

 

Adapun modus perbautan Arianto ialah dengan memalsukan sejumlah dokumen lembaga instansi, termasuk perguruan tinggi, seperti rumah sakit dan universitas.

 

Oleh terdakwa mengaku perusahaannya menang tender pengadaan alkes di sejumlah instansi, guna meyakinkan korbannya, hingga akhirnya mau menginvestasikan uang hingga puluhan miliar rupiah.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait