Kasus pengancaman dengan Sajam dihentikan Penuntutannya lewat Keadilan Restorative

Teks foto []istimewa ACARA EKSPOSE - Acara ekspose secara Daring penghentian penuntutan perkara di wilayah Kejati Kalsel bersama JAMPIDUM Kejagung RI.(kalselpos.com)

Banjarmasin,kalselpos.com – Direktur Tindak Pidana Orang dan Harta Benda pada Jaksa Agung Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI, Nanang Ibrahim SH MH S.H menyetujui penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restorative di lingkungan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Selatan.

Berdasarkan siaran pers yang disampaikan Kasi Penkum Kejati Kalsel, Yuni Priyono SH MH, penghentian penuntutan yang disetujui oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum tersebut dilaksanakan berdasarkan hasil ekspose yang juga dihadiri Akhmad Yani SH MH selaku Plt Kepala Kejaksaan Tinggi Kalsel dan Plt Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI, Leonard Eben Ezer Simanjuntak SH MH, Senin (27/5/2024) siang.

Bacaan Lainnya

Adapun penghentian penuntutan yang telah disetujui tersebut adalah di Kejari Tabalong dengan tersangka Budi yang disangka melanggar Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP

Alasan atau pertimbangan diajukannya Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif sesuai Perja Nomor 15 Tahun 2020.

Kemudian dalam kasus ini tersangka Budi baru pertama kali melakukan tindak pidana dan perbuatan tersangka disangka melanggar Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 1 tahun.

Adapun kasusnya tentang tindak pidana pengancaman yang dilakukan oleh terdakwa Budi, yang terjadi pada Senin tanggal 18 Maret 2024 sekitar jam 18.00 Wita di Desa Hariang, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong.

Berawal ketika terdakwa Budi keluar dari rumahnya dengan membawa sebilah senjata tajam jenis pisau Badik

Selanjutnya saat terdakwa berada di halaman rumahnya, terdakwa menghadap ke rumah saksi Risawati alias Mama Eka yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah tersangka.

Kemudian tersangka melihat saksi Risawati dan saksi Indri Yani yang sedang berada di teras rumah mengancam saksi Risawati alias Mama Eka dengan mengatakan “siapa yang wani umpat campur ku bunuh” (siapa yang berani ikut campur ku bunuh), siapa yang jago sini keluar rumah ku bunuh” sambil mengacungkan sebilah senjata tajam jenis pisau Badik ke arah saksi Risawati dan saksi Indri Yani.

Setelah mengacungkan senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata ancaman, terdakwa kembali ke dalam rumahnya, hingga kasusnya bergulir ke Kejaksaan Negeri Tabalong, sebelum dihentikan penuntutannya lewat Keadilan Restorative.

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait