Bukan Titik Karhutla, Kasus ISPA di Banjarmasin malah tembus 6.841 kasus

Teks foto : ilustrasi ISPA.(kalselpos.com)

Kasus ISPA di Kota Banjarmasin naik menjadi 6.841 kasus per Juli 2026 akibat kepungan kabut asap kiriman karhutla dan lonjakan pasien lintas daerah.

BANJARMASIN, Kalselpos.com

Bacaan Lainnya

Kota Banjarmasin bukan termasuk wilayah lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Petugas juga tidak menemukan titik panas atau hotspot di wilayah Kota Seribu Sungai ini. Namun, warga Banjarmasin tetap harus menghadapi dampak buruk kabut asap kiriman dari wilayah sekitar. Di tengah kepungan asap tersebut, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) justru menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin mencatat sebanyak 6.432 kasus ISPA pada Juni 2026. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 6.841 kasus pada Juli 2026. Dengan demikian, ada tambahan sebanyak 409 kasus hanya dalam kurun waktu satu bulan. Sementara itu, petugas masih menyusun data kasus ISPA sepanjang Agustus 2026 dan menargetkan selesai pada 5 September mendatang.

Kepala Dinkes Banjarmasin, Yanuar Diansyah, menjelaskan bahwa kenaikan kasus ISPA tersebut tidak murni karena paparan kabut asap.

“Jadi dari Juni ke Juli kasus ISPA naik sekitar 400 kasus. Tapi kita tidak bisa mengaitkan seluruhnya dengan kabut asap,” ujar Yanuar.

Menurutnya, karakteristik pelayanan kesehatan di Banjarmasin turut memengaruhi tingginya angka tersebut. Sejumlah puskesmas tidak hanya melayani warga yang berdomisili di Banjarmasin saja. Sebaliknya, masyarakat dari daerah sekitar juga kerap memilih berobat ke fasilitas kesehatan di Banjarmasin. Mereka memilih kota ini karena faktor lokasi yang strategis dan kemudahan akses pelayanan.

“Mereka merasa mudah mendapatkan pelayanan kesehatan di wilayah kita karena letaknya yang strategis. Sehingga mereka berobat di sini dan jadi penyumbang data kasus,” jelasnya.

Meski demikian, tingginya kasus ISPA tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah kota. Terlebih, Banjarmasin kini menerima kiriman kabut asap yang berasal dari karhutla di beberapa kabupaten tetangga. Paparan asap tersebut tetap berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Khususnya, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat gangguan pernapasan wajib mewaspadai kondisi ini.

“Meski kita bukan wilayah asal karhutla dan hanya menerima kabut asap saja, tetap saja kasus jadi tinggi. Karena jumlah penduduknya yang banyak dengan wilayah kecil,” katanya.

Selanjutnya, Yanuar juga mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan seluruh kasus ISPA berasal dari kabut asap. Sebab, Dinkes telah melihat tren kasus ISPA jauh sebelum kabut asap akibat karhutla menyelimuti Banjarmasin.

“Sebenarnya sebelum ada kabut asap ini kami sudah menemukan kasus ISPA. Namun karena sekarang sedang karhutla, jadi kasus melonjak tinggi,” pungkasnya.

 

 

 

Pos terkait