Banjarmasin, kalselpos.com – Guru sering disebut sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Mereka berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk karakter, serta menanamkan nilai moral kepada generasi muda. Namun, di balik peran mulia tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah guru, khususnya guru swasta, telah benar-benar dihargai secara layak?
Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang menerima honor jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Di sekolah swasta tertentu, guru dengan latar belakang pendidikan sarjana harus bertahan hidup dengan honor ratusan ribu rupiah per bulan. Kondisi ini tentu memprihatinkan, mengingat guru juga manusia yang memiliki kebutuhan hidup layak.
Ironi dunia pendidikan semakin terasa ketika muncul kasus kekerasan terhadap guru, baik oleh murid maupun orang tua. Kasus di Cikarang, Jawa Barat, di mana seorang guru mengalami kekerasan fisik dari wali murid karena persoalan nilai, menjadi cermin rapuhnya penghormatan terhadap profesi guru. Di sisi lain, terdapat pula kasus murid yang berani melaporkan guru karena kekerasan, menandakan pentingnya profesionalisme dan etika dalam dunia pendidikan.
Pemerintah sebenarnya telah menunjukkan perhatian melalui program sertifikasi guru dan pemberian tunjangan profesi, termasuk bagi guru swasta. Namun, persoalan mendasar kesejahteraan guru di sekolah swasta yang dikelola yayasan masih membutuhkan pengawasan serius. Bantuan BOS dan BOSDA seharusnya dibarengi dengan tanggung jawab moral yayasan untuk memberikan honor yang manusiawi.
Guru bukan sekadar tenaga pengajar, melainkan fondasi masa depan bangsa. Sudah saatnya pemerintah, yayasan, dan masyarakat bersama-sama memastikan guru mendapatkan perlindungan, penghargaan, dan kesejahteraan yang layak. Tanpa guru yang sejahtera, sulit membayangkan lahirnya generasi unggul dan berkarakter.
Oleh: Fatimah Adam
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





