‘H. Abdul Wahid’ Pemimpin yang Alami dan Berilmu dalam Pembangunan HSU

Teks foto: Ustadz Nawawi Abdurrauf, Tokoh Agama di Kabupaten HSU. (adiyat)(kalselpos.com)

Amuntai, kalselpos.com – Duka cita menyelimuti masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan keluarga mantan Bupati HSU Drs. H. Abdul Wahid, HK, M.M,M.Si periode 2012-2021. Almarhum yang meninggal di usia 67 tahun, telah berpulang selamanya.

Setelah sampai di rumah duka pada, Kamis (06/06/2024) malam. Jenazah disambut keluarga, kerabat dan masyarakat di kediaman almarhum di Komplek BTN, Desa Kota Raja, Kecamatan Amuntai Selatan.

Bacaan Lainnya

Shalat fardhu kifayah dilaksanakan besok harinya, Jumat (07/06/2024), pukul 14.00 Wita di Masjid Agung Amuntai dan Masjid Fardatul Jannah, yang hingga akhirnya jenazah Almarhum mantan Bupati dua periode ini dimakamkan di komplek pemakaman keluarga tidak jauh dari kediaman.

Di area komplek pemakaman, ucapan dan kiriman doa turut terpajang dari pejabat pusat, provinsi, daerah, hingga organisasi dan masyarakat.

Rasa kehilangan juga turut disampaikan oleh seorang masyarakat Kabupaten HSU.

Ustadz H. Nawawi Abdurrauf salah satunya, ia menyampaikan, bahwa almarhum selama hidupnya telah banyak memberikannya catatan-catatan penting dalam sejarah pembangunan di daerah dan di Republik Indonesia ini. Meski hanya segelintir orang dan tidak sebanyak tokoh-tokoh lain yang mengenal almarhum semasa hidup, tetapi bagi bagi ia, banyak kesan yang didapatkan dari Almarhum Abdul Wahid.

Bagi dirinya, almarhum adalah orang yang alami. Saat bergaul dengan siapapun dan dimanapun bersikap alami, artinya dapat menyesuaikan dengan orang yang ditemui. “Saya kira ini merupakan poin penting bagi seorang pemimpin yang perlu kita apresiasi, sekaligus kita ingat tentang sosok almarhum. Dalam level apapun kita memberikan keteladanan secara alami,” kata Nawawi Abdurrauf yang juga salah satu tokoh agama di HSU ini, saat ditemui usai pemakaman almarhum, Jumat (07/6/2024).

Tidak hanya itu, menurutnya. Almarhum mampu memahami, mencerna proses perencanaan dan realita dalam pembangunan, meski itu rumit. “Kalau saya istilahkan, dalam aspek ilmiah, almarhum mampu menularkan bahasa pemerintah di atas itu, menjadi bahasa-bahasa masyarakat” ucapnya.

Almarhum dari aspek ilahi sangat kuat sekali. Baik peribadatan pribadi, terutama almarhum sangat rajin berpuasa sunat. Ia mengenang, bahwa almarhum sering puasa senin dan kamis dan hal itu merupakan kebiasaan bagi almarhum. “Bahkan saat beliau meninggal dunia, almarhum sedang berpuasa sunat hari Kamis. Dari keseluruhan itu, saya kira kita bisa memberikan hikmah, ittiba dari kepemimpinan seorang H. Abdul Wahid, karena meski di tengah banyaknya problem yang dihadapi, almarhum dapat menjalani dengan tenang dan baik,” imbuhnya.

Ustadz Nawawi berpesan secara umum, sebagai generasi dari level apapun, hendaknya memberikan apresiasi atau penghormatan setinggi-tingginya, bahwa di masa pemerintahan almarhum telah banyak melakukan pembangunan yang dirasa berhasil. Meskipun, lanjutinya, sebagai manusia biasa tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan.

Meski demikian, sekecil apapun yang kita perbuat dan itu sesuatu hal yang baik, pasti diberikan ganjaran yang besar disisi Allah SWT.

“Ulun (saya) telah menyaksikan bahwa almarhum adalah orang yang baik, ‘ahlil khair’ dan semoga khusnul khotimah. Mari kita juga lestarikan pesan-pesan karya almarhum yang baik. Walaupun kita ada melihat yang tidak baiknya, saya kira itulah manusia. Mari kita belajar bahwa, beliau telah mengajarkan kepada kita, kalau kita menanam padi wajarlah rumput ikut tumbuh, tantangan, hambatan itu biasa. Tetapi, saat kita menanam rumput, saya kira itu mustahil akan tumbuh padi. Inilah mungkin filosofi yang dapat saya sampaikan tentang almarhum. Saya salut dan saya rasa almarhum merupakan tokoh banua bagi HSU dan Kalimantan Selatan,” tutupnya.

Pos terkait