Terdakwa dugaan Penipuan Proyek Fiktif senilai Rp23 miliar ‘hanya’ dituntut 10 Bulan Penjara

Teks foto : []istimewa NYATAKAN KETIDAKSETUJUAN - Bernard Doni (tengah) kuasa hukum korban kasus dugaan penipuan proyek pengadaan alat kesehatan saat menyatakan ketidaksetujuannya atas vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin.(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – Arianto, Direktur PT Mediasi Delta Alfa (MDA) yakni terdakwa perkara dugaan penipuan proyek fiktif alat kesehatan (alkes) hanya dituntut 10 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Kalsel, Selasa (28/06//2024) lalu di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin.

 

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal itu, kuasa hukum korban Bernard Doni, jelas saja merasa hal tersebut tidak adil, sebab kerugian yang ditaksir oleh kliennya diperkirakan mencapai Rp23 miliar.

 

Ia berpendapat, tuntutan itu sangat jelas mencederai rasa keadilan apabila mengingat banyaknya kasus-kasus serupa yang seharusnya terdakwa dituntut lebih dua tahun penjara.

 

Selain itu, saat proses jalannya persidangan menurutnya, banyak sekali kejanggalan, di antaranya terdakwa yang tidak pernah hadir dalam persidangan.

 

“Salah satunya adanya pengakuan terdakwa yang menghibahkan satu unit telepon genggam kepada penyidik,” ungkap Bernard.

 

Sebab menurutnya, satu unit telepon genggam yang diserahkan kepada penyidik itu ada bukti transaksi pengiriman uang yang berkaitan dalam perkara tersebut.

 

“Terdakwa juga berani memalsukan dokumen dari lima instansi. Hal tersebu lah yang membuat kliennya menjadi berani menginvestasikan uangnya, sehingga mengalami kerugian sebanyak Rp23 miliar, ” ucapnya.

 

Disampaikannya, kejadian tersebut bermula saat ia menawarkan proyek kepada kliennya untuk mengerjakan pengadaan alat kesehatan (Alkes) Purcahse Order (PO) pengadaan baju hazmat APD dari Universitas Padjadjaran Bandung.

 

Lalu, kembali menawarkan alat swab rapid test kid dari Rumah Sakit Budi Mulia Bandung Bitung dan pengadaan alat Ventilator dari Rumah Sakit Undata Palu.

 

Merasa terdakwa tidak bisa lagi dihubungi selama kurang lebih dua tahun, lalu ia segera melaporkan hal itu ke Polda Kalsel. Selanjutnya proses penyelidikan dan penyidikan terhitung 18 bulan lamanya sejak laporan itu dilaporkan, hingga akhirnya berhasil ditangkap di Bali.

 

Atas perbuatannya itulah ia didakwa dengan Pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan.

 

Bernard Doni berharap, agar tuntutan ‘ringan’ ini dapat menjadi perhatian publik agar menjadi pembelajaran kepada masyarakat.

 

Meski demikian, pihaknya juga akan menyurati Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan Agung RI serta Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan (Kajati Kalsel).

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait