Dugaan Malpraktek terputusnya Kepala Bayi saat Persalinan, RSUD Ulin Tawarkan tali Asih Rp30 juta 

Teks foto [[hafidz BERI KETERANGAN PERS -Angga D Saputra (tengah), kuasa hukum korban M, saat memberi keterangan pers, Kamis (23/5/2024) siang.(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – Kasus dugaan tindak pidana malpraktek atas proses persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin dengan korban berinisial M, yang di dampingi Tim Penasihat Hukum dari Angga Parwito Law Firm (APLF) kini memasuki babak penyelidikan oleh Sat Reskrim Polresta Banjarmasin.

 

Bacaan Lainnya

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga korban yang tidak mau disebutkan namanya, pihak RSUD Ulin Banjarmasin mencoba melakukan upaya perdamaian dengan pihaknya dengan menawarkan tali asih sebesar Rp30.000.000.

 

“Di mana informasinya nilai tersebut disampaikan kuasa pihak RSUD Ulin Banjarmasin kepada penasihat hukum korban pada 20 Mei 2024 lalu, ” ucap Angga.

 

“Benar. Pihak RSUD Ulin Banjarmasin melalui penasihat hukumnya menawarkan uang tali asih sebesar tiga puluh juta rupiah kepada korban melalui kami dengan harapan atas perkara ini dapat diselesaikan melalui mediasi kekeluargaan”, tambah Direktur Angga Parwito Law Firm tersebut, kepada awak media, Kamis (23/5/2024) siang.

 

Angga D Saputra yang juga banyak menangani kasus di luar Kalimantan itu mengungkapkan, atas penawaran tersebut, korban dugaan tindak pidana malpraktek persalinan yang dilakukan oleh pihak RSUD Ulin Banjarmasin yang berujung pada putusnya kepala bayi korban harus terus diproses secara hukum.

 

Menurutnya, penawaran yang diajukan oleh pihak RSUD Ulin Banjarmasin tersebut sangat melukai rasa keadilan bagi ibu M, karena bagaimana dengan sangat mudahnya pihak RSUD Ulin Banjarmasin dapat menawarkan nilai Rp30.000.000 kepada korban dengan harapan bahwa nilai tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

 

Terpisah, Ketua Tim Penasihat Hukum APLF atas dugaan tindak pidana malpraktik, Akhmad Ryan Firmansyah juga mengungkapkan saat ini proses hukum kasus tersebut berjalan dengan baik.

 

“Kami selalu memantau perkembangan pemeriksaan kasus ini ke Polresta Banjarmasin. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan. Terkait ajakan perdamaian dari pihak rumah sakit ya tentu saja kami menolak, karena bagaimana mungkin hilangnya nyawa manusia, dapat ditukar dengan nilai uang apalagi dengan nominal Rp30.000.000. Dan oleh sebab itu kami masih akan terus menunggu perkembangan pemeriksaan dari pihak kepolisian, serta berharap perkara ini dapat segera dinaikkan ke tahap Penyidikan dan penetapan tersangka,” pungkasnya.

 

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, kasus tindak pidana malpraktek dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B/131/IV/2024/SPTK/POLRESTA BJM/POLDA KALSEL tersebut, berawal dari korban berinisial “M” melakukan persalinan di RSUD Ulin Banjarmasin. Korban sangat terkejut begitu mengetahui bayi yang dilahirkannya meninggal dengan tubuh tanpa kepala, menyusul kepala sang bayi tertinggal di dalam rahim korban.

 

Atas kejadian tersebut, korban mencari bantuan hukum hingga akhirnya korban mendapat bantuan hukum dari Kantor Hukum Angga Parwito Law Firm dengan ditandai penandatanganan Surat Kuasa, pada Sabtu (11/5/2024) lalu.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait