Hakim Agung Kahardiman, Perwira Nasib Baik yang Sempat jadi Kamus Hukumnya LB Moerdani

Teks foto : Hakim Agung Kahardiman(kalselpos.com)

Kalselpos.com – Orangtua mana yang tak ingin anaknya yang lulus dari Fakultas Hukum, universitas ternama seperti UGM, lantas mempunyai pekerjaan yang keren. Berpenampilan necis selalu berjas, penghasilan besar, dan membawa mobil mewah sebagai simbol status.

 

Bacaan Lainnya

Namun harapan Soehirman sang ayah ini kandas, saat sang anaknya, Kahardiman justru malah diam diam melamar menjadi perwira Angkatan Udara, sebelum lulus.

 

Kahardiman menunjukkan surat penerimaannya di AURI. “Pak, saya sudah melaksanakan pesan bapak, I get my own identity.”

 

Suatu hal cerdas dengan menunjukkan kalimat yang biasa ayahnya tulis pada buku-buku yang diberikan kepadanya. Hal ini membuat ayahnya yang sudah mengusahakan jabatan di perusahaan , mau tidak mau íkhlas’ dengan keputusan anaknya.

 

Dalam kariernya di korps hukum AURI, Kahardiman tidak masuk dalam korps elit, yaitu penerbang. Sekarang asal korps ini biasa tertera di iniasial Pnb di belakang pangkat perwiranya. Menjamin karir mulus. Walaupun bukan korps penerbang, Kahardiman bisa menyandang inisial Pnb dalam dunia nyata, Perwira nasib baik , begitu kelakar di hari tuanya.

 

Betapa tidak, sebagai awal perwira muda baru yang bertugas sebagai jaksa militer atau oditur, ia harus menangani pemukulan dua penerbang oleh jenderal legenda AURI , Komodor Leo Wattimena. Berat bagi seorang perwira pertama harus menghadapi perwira tinggi, tapi dengan kemampuan hukum dan nasib berpihak kepadanya, Kahardiman bisa menyelesaikan kasusnya.

 

Saat Gerakan 30 September 1965, karena kecakapannya juga nasib yang baik , Kapten Kahardiman terpilih menjadi oditur termuda yang direkrut dalam Mahkamah Militer Luar Biasa (Mamilub). Ada rasa kurang canggung, karena merasa paling muda diantara penegak hukum lain dan yang dituntut pangkatnya juga lebih tinggi.

 

Kecanggungan itu berhasil ditenangkan oleh Letkol AD Ali Said SH, yang kelak menjadi Jaksa Agung, “Kalau tertuduhnya Mayor Efektif, Oditurnya harus Letkol. Jadi ya, laksanakan saja.” Beliau di kemudian hari sempat menjadi Jaksa Agung dan Ketua Mahkamah Agung RI.

 

Karena harus menuntut perwira yang lebih tinggi , Kahardiman pun diberi pangkat lokal yang berlaku hanya di mahkamah saat menyidangkan terdakwa yang pangkatnya lebih tinggi.

 

Sukses di Mahmilub ini, kemudian membawa Mayor Kahardiman ke babak baru. Ia sempat melakukan persiapan untuk meneruskan sekolah hukum di Leiden Belanda karena ditawari Asperma Hankam dan Ketua MA, Prof Soebekti.

 

Di sisi Mabes AURI Kahardiman diperintahkan mengikuti ujian mengikuti Sesko AU. Agak janggal, karena biasanya yang bisa mengikuti Sesko minimal perwira berpangkat Letkol.

 

Kahardiman pun mengikuti tes masuk Sesko tanpa mengharapkan hasil baik, selain testnya sulit ia juga sudah mendapat jaminan akan sekolah ke Leiden. Nasib baik lagi-lagi bersamanya. Hanya sekali ujian ia lulus masuk Sesko, padahal ada seniornya yang sempat 4 kali mencoba namun gagal. Karena gamang ia mencoba menghadap KASAU saat itu yang dipegang Marsekal Soewoto Soekendar.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait