Tak Punya Pos Pantau, Arus Pengiriman Padi dan Beras ke Kalteng-Kaltim Tak Terdata

Ilustrasi - Panen padi di Kabupaten Barito Kuala (Batola) sebagai salah satu lumbung pangan di Kalsel.(ist)Anas Aliando/ kalselpos.com

Banjarbaru, kalselpos.com – Padi dan beras asal Kalimantan Selatan (Kalsel), setiap hari dikirim keluar provinsi, yakni Kalteng dan Kaltim. Mirisnya, sampai saat ini tidak diketahui berapa jumlah padi dan beras yang keluar, karena Kalsel belum punya pos pantau untuk mendata padi dan beras yang dikirim ke dua provinsi tetangga itu.

“Betul, kita belum punya pos pantau untuk mendata padi dan beras yang keluar provinsi. Tapi dalam waktu dekat, kita segera bikin pos pantau sehingga bisa kita ketahui berapa jumlah yang keluar provinsi,” ujar Kadis Ketahanan Pangan Kalsel, Fathurrahman kepada kalselpos.com usai mengikuti Rakor pengendalian Inflasi yang dipimpin Sekdaprov Kalsel Roy Rizali Anwar di Banjarbaru, Kamis (10/11).

Bacaan Lainnya

Dia sampaikan, padi dan beras KalselĀ  bebas masuk ke provinsi tetangga karena pemerintah tidak ada hak untuk melarang. “Kita hanya bisa mendata saja berapa padi dan beras yang keluar Kalsel. Kita tidak bisa melarang karena ini masuk pasar bebas,” terangnya.

Untuk stok pangan sendiri, beber Fathur, masyarakat Kalsel tidak perlu khawatir karena stok sangat mencukupi meskipun diakuinya harga beras mengalami lonjakan yang signifikan. “Kami pastikan stok aman,” singkatnya.

Sementara itu, Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, Syamsir Rahman sudah lama mengusulkan agar pos pantau padi dan beras di perbatasan Kalteng dan Kaltim segera didirikan.

“Di Anjir dan Tamiang Layang segera didirikan pos pantau, setiap yang melintas ditanya mau dibawa kemana padi dan beras kita, kemudian apa jenisnya, taroh saja petugas honorer disitu, beres,” tegasnya.

Untuk produksi padi Kalsel sendiri, hingga awal November 2022, ungkap Syamsir, sudah berada di angka 800 ribu ton lebih. “Target kita 1,1 juta ton, namun akibat cuaca ekstrem dan ada sedikit serangan tungro, maka produksi padi kita mengalami penurunan sekitar 20 persen,” terangnya.

Syamsir menegaskan, hama tungro di Kalsel bisa dikendalikan dengan baik sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi padi.

Untuk harga beras yang mengalami kenaikan, menurut Syamsir, pemicunya tidak lain adalah naiknya harga BBM.

“Kalau BBM harganya naik, maka semuanya harus menyesuaikan, kalau tidak tentu akan rugi,” tutupnya.

Sport.kalselpos.com

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait