Maradona adalah Fana Oleh Randu

  • Whatsapp
Randu

Maradona pertama kali datang ke rumah saya di Manado pada 1986. Saya masih sangat kecil. Belum tahu apa-apa, apalagi tentang sepakbola. Tapi mungkin begitulah cara ingatan menandai sesuatu: dengan memakunya pada momen-momen yang indah. Dan keindahan apa yang melebihi seorang pria meliuk dengan keanggunan balerina dan kecepatan dan keakuratan peluru kendali?

Saya ingat sorakan di belakang punggung, ayah saya yang menyebutkan nama pemain di layar televisi itu. Dia Maradona. Selama empat tahun berikutnya nama itu kemudian menjadi sangat populer sehingga mengganti panggilan untuk setiap anak yang bermain bola di jalanan Manado.

Bacaan Lainnya

Saat itu, kaos bola yang dijual di pasar 45 Manado hanya punya satu corak: putih setrip biru langit dengan nomor punggung 10. Ayah saya yang pecinta bola membelikan saya satu, mungkin harapannya saya akan menjadi pemain bola yang hebat, atau setidaknya seorang anak yang aktif.

Tapi kaos Maradona adalah satu hal, dan bakat bola, adalah hal lain. Saya masih ingat tendangan pertama saya dengan kaos itu. Di bawah tatapan ayah dan beberapa anak, saya dikhianati bola pada tendangan pertama–saya terpeleset. Saya merajuk dan menjadi trauma dengan bola. Setiap kali anak-anak kompleks main bola, saya di kamar, membaca HC Andersen.

Tetapi tak urung, saya tetap kebagian panggilan nama itu. Beberapa bibi dan tetangga memanggil saya Maradona. Mungkin karena bentuk tubuh saya yang pendek dan boncel saat itu, atau karena kaus yang tetap saya pakai.

Di tahun 1990, kami telah pindah ke Gorontalo. Maradona kembali membawa Argentina ke final. Tapi mereka tidak juara. Mereka kalah dari Jerman dalam sebuah laga dramatis. Andreas Brehme mencetak gol penalti hanya lima menit sebelum pertandingan usai. Dunia seperti terhentak. Maradona ternyata bisa kalah.

Dan entah karena didorong oleh trauma tentang tendangan pertama dulu, saya senang Argentina kalah. Saya akhirnya berhasil membuktikan bahwa Maradona bukan segalanya. Kelak, saya akhirnya menjadi pendukung Jerman. Tapi hingga saat itu datang, saya belum menyukai sepak bola.

Saya baru benar-benar jatuh cinta dengan permainan ini ketika mondok di Liang Anggang, Banjarmasin. Saya kira tidak mungkin untuk tidak menyukai olahraga ini jika Anda tinggal di pesantren, khususnya di tahun 90-an. Saat itu Internet belum diciptakan, dan kami hanya mencari hiburan melalui koran. Lembaran paling menarik, entah karena warna atau dramanya, adalah halaman sepak bola. Kami mulai saling tebak skor setiap kali ada preview pertandingan.

Lama kelamaan, beberapa dari kami menjadi tidak sabar. Mereka tak hanya ingin membaca, tapi ingin menonton secara langsung. Dimotivasi oleh rasa ingin tahu dan kecintaan kepada tim sepak bola, mereka mulai melompat pagar. Menyelinap diam-diam melalui hutan. Setiap kali pulang mereka membawa kabar lewat kode jari di antara ranjang susun, dan cerita permainannya melalui bisik-bisik di jeda jam makan siang.

Kami membincangkan dengan seru kegagalan Sang Budha Kecil Roberto Baggio di Piala Dunia 1994 dan moncernya seorang pemain kriwil bernama Karel Poborsky di Euro 1996. Piala Dunia 1998 jatuh tepat di waktu libur dan kami Alhamdulillah, tidak perlu melanggar lagi untuk bisa menonton final. Maradona telah lama surut dan kini momentum sang Fenomenal dari Brasil: Ronaldo. Sayang, Brasil antiklimaks di partai penentu tapi akhirnya mereka bisa membayar di Piala Dunia 2002.

2002 berlalu. Dan begitu juga Piala Dunia 2006. Lalu 2010, dan kemudian 2014. Sekali lagi Jerman menghancurkan impian Argentina. Air mata kembali tumpah di Buenos Aires. Aroma keringat dan bir menyengat dari ruang ganti Dia Manschaft dan kemudian bar-bar di Jerman. Tapi, sebagaimana setiap kompetisi yang berulang, semuanya tak abadi. Dalam bayang-bayang pesta dan trauma, 2018 datang: Jerman dan Argentina bahkan tak lolos dengan cara yang menyakitkan.

Sejak itu, saya tidak terlalu antusias lagi mengikuti sepak bola. Hanya kadang-kadang saya masih mencari rekaman pertandingan ulang di youtube setiap kali Real Madrid main, atau sebuah klub besar kalah. Atau lebih jarang lagi, seorang pemain bintang pergii.

Setiap kali yang terakhir itu terjadi, saya menengok sekilas ke belakang. Sepak bola di masa kecil saya tiba-tiba menjadi kenangan yang jauh. Saat Batistuta gantung sepatu, saya menyesalinya. Begitu juga ketika si kuncung Ronaldo pensiun dini. Zidane memilih berhenti. Inzaghi, Beckham, Rui Costa, Buffon, Schweinsteiger, Totti…

Saya kira, semua pecinta bola meletakkan linimasa hidupnya paralel dengan sejarah permainan ini. Masa muda kita sejajar dengan masa jaya para pemain bintang dan kelelahan mereka adalah pengingat atas kerentaan kita. Hampir setiap momen dalam turnamen-turnamen besar sepak bola, searus dengan ingatan-ingatan personal kita.

Lebih dari itu, lebih dari gol dan skor, kalkulasi dan statistik, sepak bola memberi kita sesuatu yang berharga: Ingatan. Juga lebih dalam lagi, kebijaksanaan. Kesadaran bahwa kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan tragedi, sebagaimana hal-hal lainnya dalam hidup ini–adalah fana.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com