16.539 Hektare Lahan di Kalsel Terbakar

Teks foto : HUTAN LINDUNG TERBAKAR - Foto udara memperlihatkan kabut asap pekat membumbung tinggi dari lahan yang terbakar di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kamis (3/9). (ist)(kalselpos.com)

BPBD Kalsel mencatat 2.586 kejadian karhutla melalap 16.539,65 hektare lahan sepanjang 2026. Kabupaten Banjar jadi daerah terdampak terluas.

Banjarmasin, kalselpos.com

Bacaan Lainnya

BPBD Kalsel Intensifkan Kendali Karhutla, Luas Lahan Terbakar Capai 16.539 Hektare

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus mengintensifkan pemantauan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Akumulasi data sejak 1 Januari hingga 4 September 2026 menunjukkan telah terjadi 2.586 peristiwa karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 16.539,65 hektare.

Kepala BPBD Provinsi Kalsel, Ronny Eka Saputra, menyampaikan bahwa timnya memantau pergerakan karhutla secara ketat sebagai basis intervensi dan penanganan bencana di lapangan.

“Data ini menjadi gambaran perkembangan karhutla di Kalimantan Selatan sampai dengan 4 September 2026. Karena itu, kami terus melakukan pengendalian secara terpadu dengan melibatkan unsur terkait sesuai kondisi di lapangan,” ujar Ronny, Jumat (4/9).

Merujuk data rekapitulasi BPBD Kalsel, sebaran karhutla melanda hampir seluruh kabupaten/kota. Kabupaten Banjar menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 514 kejadian yang menghanguskan 4.105,70 hektare lahan. Disusul Hulu Sungai Selatan dengan 358 kejadian (3.063,12 hektare) dan Tanah Laut sebanyak 381 kejadian (2.339,35 hektare).

Berikutnya, Kota Banjarbaru mencatatkan 512 kejadian dengan luas area terbakar 2.102,94 hektare. Disusul Kabupaten Tapin sebanyak 203 kejadian (1.831,33 hektare) dan Barito Kuala dengan 199 kejadian (1.651,80 hektare).

Sementara itu, sebaran karhutla di wilayah lain meliputi:

Hulu Sungai Utara: 107 kejadian (608,28 hektare),

Tanah Bumbu: 79 kejadian (216,85 hektare),

Balangan: 71 kejadian (217,71 hektare),

Hulu Sungai Tengah: 69 kejadian (207,91 hektare),

Tabalong: 29 kejadian (135,13 hektare),

Kotabaru: 48 kejadian (58,07 hektare),

Kota Banjarmasin: 16 kejadian (1,45 hektare).

Selain pemadaman fisik, petugas memprioritaskan deteksi dini melalui pemantauan titik panas (hotspot). Sepanjang periode tersebut, sistem SIPONGI Kementerian Kehutanan—melalui satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20—mendeteksi sebanyak 18.661 titik panas di Kalsel.

Ronny menegaskan, akurasi data kejadian dan titik panas ini menjadi kompas utama dalam merumuskan strategi penanggulangan, terutama untuk wilayah-wilayah dengan kerawanan tinggi. Pihaknya kini terus memperketat kewaspadaan serta koordinasi lintas sektor.

“Kami harus menjalankan pemantauan hotspot dan kejadian di lapangan secara beriringan. Informasi yang masuk menjadi bahan untuk menentukan langkah penanganan secara cepat dan tepat, sehingga kami dapat terus mengendalikan potensi karhutla,” tegasnya.

Guna menekan risiko meluasnya dampak kebakaran terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, BPBD Kalsel terus memperkuat sinergi yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas lapangan, hingga keterlibatan aktif masyarakat peduli api.

 

 

Pos terkait