Uang saku Atlet Porprov diduga ‘Dipotong’, KONI Banjarmasin buka Suara terkait Sistem Pencairan

Teks foto : []istimewa SAAT AKAN BERLAGA - Atlet Banjarmasin saat akan berlaga di Porprov di Tala, belum lama tadi.(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – Dugaan ‘pemotongan’ uang harian atlet, pelatih hingga ofisial kontingen Banjarmasin pada ajang Porprov di Tanah Laut (Tala) mencuat ke publik.

 

Bacaan Lainnya

Uang saku yang seharusnya diterima penuh setiap hari pertandingan, disebut hanya dibayarkan setengah saat kegiatan berlangsung.

 

“Semua atlet dan ofisial, jadi uang saku itu keluarnya setengah saja saat di Porprov Tanah Laut dan sisanya setelah selesai Porprov,” ujar seorang ofisial yang meminta identitasnya dirahasiakan.

 

Berdasarkan data yang dihimpun, setiap atlet, pelatih, asisten pelatih dan ofisial berhak menerima uang saku Rp250 ribu per hari per orang. Selain itu, terdapat uang makan Rp100 ribu per hari dan vitamin Rp25 ribu khusus atlet. Dengan skema tersebut, seharusnya hak harian dibayarkan penuh selama masa pertandingan.

 

Persoalan ini menjadi sorotan karena dana hibah untuk kegiatan Porprov disebut telah dicairkan sepenuhnya oleh Pemerintah Kota kepada KONI Banjarmasin.

 

Sekretaris KONI Banjarmasin, Arif Rahman Hakim, membantah adanya pemotongan dana. Ia menegaskan, sistem yang diterapkan adalah pencairan bertahap melalui rekening masing-masing cabang olahraga (cabor).

 

“Dana itu ditransfer langsung ke rekening cabor dan pengelolaannya berada di bendahara masing-masing cabang. Selanjutnya pihak cabor yang mencairkan dana untuk diserahkan kepada atlet, pelatih, maupun ofisial sesuai peruntukannya,” jelasnya.

 

Ia membenarkan pembayaran dilakukan dalam dua tahap. Sebagian diberikan sebelum atau saat keberangkatan, sedangkan sisanya dicairkan setelah laporan pertanggungjawaban dan administrasi diselesaikan.

 

“Memang benar, sistem pencairannya dilakukan secara bertahap. Misalnya pertandingannya empat hari, maka yang diserahkan dua hari lebih dulu, sisanya setelah administrasi laporan dan tanda terima diselesaikan,” katanya.

 

Menurutnya, jika terjadi keterlambatan, hal itu lebih disebabkan kelengkapan administrasi dari masing-masing cabor, bukan karena dana ditahan.

 

“Tahap kedua akan dibayarkan secara penuh apabila seluruh persyaratan administrasi telah dipenuhi. Jika ada keterlambatan, itu lebih kepada kelengkapan administrasi, bukan karena dana ditahan tanpa alasan,” tegasnya.

 

Namun penjelasan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru. Jika dana hibah telah cair penuh dan hak atlet bersifat harian, mengapa pembayaran tidak dilakukan sesuai durasi pertandingan?

 

Transparansi pengelolaan dana di tingkat cabang olahraga kini menjadi sorotan. KONI Banjarmasin menyebut seluruh cabor seharusnya telah menyampaikan laporan, meski secara teknis masih perlu pengecekan terkait kelengkapan berkas.

 

Di sisi lain, atlet dan ofisial berharap hak mereka dapat dibayarkan tepat waktu tanpa harus menunggu proses administrasi yang dinilai berlarut. Sebab bagi mereka, uang saku bukan sekadar angka, melainkan kebutuhan dasar selama bertanding membawa nama daerah.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait