Bank Kalsel Perkuat Fondasi Bisnis, Aset Capai Rp28 Triliun pada 2025 

Teks foto: Gedung utama Bank Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat Kota Banjarmasin. (Ist)(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel menutup tahun buku 2025 dengan capaian kinerja yang mencerminkan penguatan fundamental bisnis secara menyeluruh. Di tengah dinamika industri perbankan dan agenda konsolidasi sektor keuangan nasional, Bank Kalsel berhasil menjaga pertumbuhan aset, memperkuat permodalan, meningkatkan laba, serta membangun fondasi ekspansi yang lebih sehat dan berkelanjutan ke depan.

 

Bacaan Lainnya

Berbekal strategi perbaikan kualitas aset, penguatan human capital, akselerasi transformasi digital, serta kontribusi aktif dalam pembangunan daerah, Bank Kalsel menempatkan diri sebagai salah satu BPD yang adaptif dan progresif dalam menghadapi perubahan lanskap industri jasa keuangan.

 

Aset Tembus Rp28 Triliun, Laba Tumbuh Dua Digit

 

Direktur Operasional Bank Kalsel, Abdurahim Fiqry, menjelaskan bahwa hingga posisi Desember 2025, kinerja keuangan Bank Kalsel menunjukkan tren pertumbuhan yang solid dan terukur.

 

“Kami menyampaikan bahwa data yang kami paparkan merupakan data audit posisi Desember 2025. Aset Bank Kalsel berada di kisaran Rp28 triliun, tumbuh hampir 7 persen dibandingkan tahun 2024. Pertumbuhan aset tersebut terutama berasal dari Dana Pihak Ketiga, yang tumbuh sekitar 9 persen dan menjadi penopang utama ekspansi neraca kami,” ujar Abdurahim Fiqry saat kegiatan wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness secara daring pada Selasa (10/02/2026).

 

Secara rinci, total aset Bank Kalsel tercatat sebesar Rp28,56 triliun, meningkat dari Rp26,69 triliun pada Desember 2024. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan kinerja impresif dengan pertumbuhan 9,69 persen secara tahunan menjadi Rp21,78 triliun, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan BPD nasional.

 

Dari sisi profitabilitas, Bank Kalsel membukukan laba bersih sebesar Rp 438,56 miliar pada 2025, tumbuh 15,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan kemampuan bank menjaga kinerja laba meski menjalankan strategi penyehatan portofolio kredit.

 

“Sepanjang 2025 kami memfokuskan diri pada perbaikan kualitas kredit secara menyeluruh. Meski pertumbuhan kredit belum maksimal, kami bersyukur laba tetap tumbuh cukup signifikan, bahkan sebelum audit sempat mencapai sekitar 15 persen. Ini menunjukkan strategi menjaga kualitas aset memberikan hasil yang positif,” tegas Abdurahim.

 

Dari sisi permodalan, Bank Kalsel berada pada posisi yang sangat kuat. Modal inti tercatat sebesar Rp3,7 triliun dengan pertumbuhan 6,67 persen, yang seluruhnya berasal dari hasil usaha internal.

 

“Modal inti kami murni tumbuh dari internal, bukan dari setoran pemegang saham. Ke depan, modal ini akan terus kami dorong agar lebih kuat, karena ekspansi bisnis dan pembukaan jaringan membutuhkan permodalan yang memadai,” jelas Abdurahim.

 

Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Kalsel mencapai 33,69 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Dengan struktur permodalan tersebut, Bank Kalsel memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan bisnis secara prudent dan berkelanjutan.

 

Human Capital Jadi Mesin Utama Transformasi

 

Bank Kalsel menempatkan pengelolaan sumber daya manusia sebagai salah satu pilar utama dalam memastikan keberlanjutan kinerja dan transformasi bisnis jangka panjang. Melalui penerapan Human Capital Management System (HCMS) yang terstruktur, Bank Kalsel membangun fondasi organisasi yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan industri perbankan yang semakin kompleks.

 

Kepala Divisi Perencanaan dan Kinerja Bank Kalsel, Deddy Setiawan, menjelaskan bahwa penguatan human capital tidak dipandang sekadar sebagai fungsi pendukung, melainkan sebagai strategi inti perusahaan.

 

“Kami menyadari bahwa transformasi bisnis tidak akan berjalan tanpa kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, Bank Kalsel membangun Human Capital Management System yang terintegrasi, mulai dari pembelajaran, pengelolaan talenta, pengembangan kompetensi, hingga sistem penilaian kinerja yang objektif dan transparan,” ujar Deddy.

 

Dalam kerangka HCMS tersebut, Bank Kalsel mengusung tiga pilar utama, yakni Development Program, Talent Development, dan Shifting to Digital. Ketiga pilar ini dirancang untuk saling melengkapi dalam menciptakan SDM perbankan yang profesional, berdaya saing, serta mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan regulasi.

 

“Kami ingin memastikan bahwa setiap jenjang kepemimpinan di Bank Kalsel diisi oleh SDM yang dipersiapkan secara matang. Dengan sistem ini, regenerasi kepemimpinan dapat berjalan berkesinambungan dan selaras dengan arah strategis perusahaan,” tambah Deddy.

 

Selain itu, Bank Kalsel juga menerapkan Competency Management yang membagi kompetensi pegawai ke dalam kompetensi teknis, kepemimpinan, dan perilaku. Sistem ini memastikan setiap pegawai memiliki standar kompetensi yang jelas sesuai dengan fungsi dan level jabatannya, sekaligus mencerminkan nilai dan budaya kerja Bank Kalsel.

 

Untuk memperkuat ekosistem pembelajaran, Bank Kalsel membangun Aksel Learning Center sebagai pusat pengembangan kapabilitas SDM berbasis digital dan berkelanjutan. Seluruh proses pembelajaran didukung oleh Learning Management System (LMS) terintegrasi, sehingga pembelajaran dapat dilakukan secara fleksibel, terukur, dan terdokumentasi dengan baik.

 

Dalam aspek pengelolaan kinerja, Bank Kalsel mengimplementasikan Performance Appraisal Individual System (PRAIS) berbasis digital. Sistem ini mengombinasikan penilaian kuantitatif dan kualitatif sehingga proses evaluasi kinerja pegawai menjadi lebih objektif dan adil.

 

Transformasi Digital: Dari Efisiensi Operasional hingga Penguatan Fee Based Income

 

Transformasi digital menjadi salah satu fokus utama Bank Kalsel dalam memperkuat daya saing dan memperluas basis layanan. Bank Kalsel secara konsisten mengembangkan berbagai inovasi digital yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income).

 

Direktur Operasional Bank Kalsel, Abdurahim Fiqry, menegaskan bahwa digitalisasi merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. “Transformasi digital kami arahkan untuk memberikan kemudahan layanan bagi nasabah, meningkatkan efisiensi internal, serta menciptakan sumber pendapatan baru. Digitalisasi bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk memperkuat kinerja bisnis secara berkelanjutan,” ujarnya.

 

Salah satu tulang punggung digitalisasi Bank Kalsel adalah pengembangan AKSEL by Bank Kalsel, layanan mobile banking yang memungkinkan nasabah melakukan berbagai transaksi perbankan secara aman, cepat, dan real time. Melalui aplikasi ini, Bank Kalsel menyediakan layanan transfer antarbank, BI-FAST, pembayaran tagihan, top up e-wallet, cardless withdrawal, hingga fitur ready cash.

 

Selain layanan ritel, Bank Kalsel juga mengembangkan Internet Banking Bisnis (IBB) untuk nasabah korporasi, badan usaha, dan instansi pemerintah. Layanan ini memudahkan transaksi non-tunai, payroll, pembayaran pajak, hingga pengelolaan kas secara terintegrasi tanpa harus datang ke kantor cabang.

 

Dalam ekosistem pembayaran digital, Bank Kalsel memperluas layanan Merchant QRIS, yang menyasar pelaku UMKM dan merchant di berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Layanan ini mendukung pembayaran non-tunai sekaligus menjadi sumber pertumbuhan fee based income melalui Merchant Discount Rate (MDR).

 

Bank Kalsel juga mengembangkan Agen Digital Inklusif Keuangan (ADINK) sebagai perpanjangan tangan layanan perbankan di wilayah yang belum terjangkau kantor bank. Melalui ADINK, masyarakat dapat membuka rekening, melakukan setor dan tarik tunai, serta berbagai transaksi lainnya secara lebih mudah dan inklusif.

 

Ke depan, Bank Kalsel terus memperluas inovasi melalui pengembangan Aksel Pay (e-money), Online Onboarding (OOB), SNAP system integration, hingga penguatan layanan kartu kredit dan transaksi lintas negara seiring dengan status Bank Kalsel sebagai Bank Devisa. Seluruh inovasi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan layanan, meningkatkan pengalaman nasabah, serta memperkuat struktur pendapatan non-bunga.

 

Kontribusi Nyata bagi Pembangunan Daerah dan Keuangan Berkelanjutan

 

Sebagai Bank Pembangunan Daerah, Bank Kalsel memiliki mandat strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi dan pengelolaan keuangan daerah. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui berbagai peran, mulai dari fungsi intermediasi, dukungan fiskal, hingga digitalisasi sistem keuangan pemerintah daerah.

 

Bank Kalsel secara konsisten memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui setoran dividen kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta pemerintah kabupaten dan kota sebagai pemegang saham. Dividen tersebut menjadi sumber penting dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik di daerah.

 

Selain itu, Bank Kalsel berperan aktif dalam optimalisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah melalui implementasi Tapping Box, yang memungkinkan pencatatan transaksi usaha wajib pajak secara real time. Sistem ini meningkatkan transparansi, akurasi, serta kepatuhan pajak daerah.

 

Dalam mendukung digitalisasi penerimaan daerah, Bank Kalsel juga mengembangkan SAPAT (Sistem Aplikasi Pendapatan dan Retribusi) sebagai solusi non-tunai yang sejalan dengan rekomendasi penguatan tata kelola keuangan daerah. Inisiatif ini memperkuat sinergi antara BUMD dan pemerintah daerah dalam menciptakan pengelolaan keuangan yang akuntabel dan berkelanjutan.

 

“Sebagai bank daerah, kami tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tetapi juga pada peran strategis dalam pembangunan daerah. Digitalisasi pengelolaan keuangan daerah menjadi salah satu kontribusi nyata Bank Kalsel untuk mendorong transparansi dan efisiensi,” ujar Deddy.

 

Di sisi keberlanjutan, Bank Kalsel menjalankan Program Keberlanjutan 2026 yang berfokus pada pengelolaan lingkungan dan energi. Program ini mencakup penerapan EcoSmart Office, pengurangan penggunaan plastik, pemanfaatan kendaraan listrik, serta digitalisasi proses kerja melalui HCIS untuk menekan penggunaan kertas dan energi.

 

Bank Kalsel juga aktif dalam aksi sosial dan lingkungan, seperti pengembangan padi apung, penanaman mangrove, serta pembiayaan UMKM dan green financing. Seluruh inisiatif ini menegaskan komitmen Bank Kalsel dalam mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

 

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait