Pemkab Kotim Antisipasi Dampak Ekstrem Perubahan Iklim

Teks foto: Rapat koordinasi lintas instansi di kantor BPBD Kotim membahas perkembangan situasi terkait potensi bencana, belum lama ini. (Foto: Istimewa/BPBD Kotim)(kalselpos.com)

Sampit, kalselpos.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi dampak ekstrem perubahan iklim agar tidak terlalu parah menimbulkan gangguan bagi masyarakat.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, perubahan iklim berdampak pada cuaca ekstrem yang terjadi di seluruh dunia. Perubahan iklim global ini mengakibatkan cuaca yang tidak menentu.

Bacaan Lainnya

“Pemerintah melalui SKPD terkait berupaya maksimal untuk melakukan mitigasi untuk mencegah dan mengurangi dampak dari bencana alam tersebut,” kata Halikinnor, Rabu (3/7/24).

Kewaspadaan tinggi dilakukan Pemkab Kotim karena menyadari daerah ini rawan bencana. Jika tidak diantisipasi sejak dini, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi masyarakat.

Kotim termasuk daerah rawan bencana di Kalimantan Tengah. Saat musim kemarau daerah ini sering dilanda kebakaran lahan, sedangkan di musim hujan sering terjadi banjir.

Untuk itulah penting bagi Pemkab Kotim melakukan kewaspadaan dan mitigasi bencana. Peta rawan bencana juga dijadikan acuan dalam membuat kebijakan mengantisipasi berbagai bencana.

“Kita tentu tidak menginginkan terjadi bencana. Tetapi tentu kita wajib melakukan antisipasi dan meningkatkan kewaspadaan sehingga kita lebih siap dalam penanganan jika terjadi bencana,” ujar Halikinnor.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotim, Multazam mengatakan, pemerintah daerah bersiap menghadapi potensi dua bencana yang terjadi secara bersamaan tahun ini, lantaran adanya perbedaan musim di sebagian wilayah setempat.

Berdasarkan prakiraan BMKG Kotim akan terjadi perbedaan kondisi cuaca di wilayah Kotim berdasarkan analisa klimatologis. Lebih jelasnya, Kalimantan Tengah terbagi atas 13 Zona Musim (ZOM) dengan tipe monsunal. Empat di antaranya berada di wilayah Kotim, yakni Kalteng 8, 9, 10 dan 13.

Hasil klimatologis menunjukkan bahwa wilayah Kalteng 9, 10 dan 13 yang meliputi wilayah tengah dan selatan Kotim akan memasuki masa transisi musim hujan ke musim kemarau pada Juni-Juli.

Selanjutnya, awal musim kemarau pada dasarian I Agustus dan puncaknya pada bulan yang sama. Lalu, September siklusnya berputar kembali ke transisi musim kemarau ke musim hujan.

Sementara, pada Kalteng 8 yang meliputi wilayah utara Kotim tidak menunjukkan siklus musim yang sama dan diprakirakan tidak ada musim kemarau atau tetap berada di musim hujan sepanjang tahun.

Kondisi ini memungkinkan terjadinya dua bencana sekaligus di Kotim, yakni banjir di wilayah utara dan kebakaran hutan dan lahan yang utamanya di wilayah selatan sebab didominasi lahan gambut.

“Bencana banjir maupun kebakaran hutan dan lahan sudah kami alami. Jadi kalau pun hal itu terjadi secara bersamaan kami siap, tapi pasti ada ekstra dalam penanganannya. Situasi seperti ini sudah pernah kita hadapi, contohnya pada 2022 lalu kita menetapkan dua status tanggap kebencanaan secara bersamaan. Tapi kami berharap hal ini juga menjadi perhatian masyarakat,” pungkas Multazam.

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait