Memudarnya Lumbung Catur Banua

Syaiful Anwar(kalselpos.com)

Oleh Syaiful Anwar

kalselpos.com –Berjalan di sudut Kota Banjarmasin mau pun daerah lainnya, pasti ada orang menggelar lapak catur, baik sore hari maupun malam. Suasana pun tambah seru, cukup banyak warga yang menyaksikan, bahkan ikut nimbrung menjalankan jalan kuda, pion, benteng, menteri untuk memakan buah catur lawan, bahkan skak mat.

Bacaan Lainnya

Begitu gemarnya Urang Banjar dengan olahraga asah otak ini, sehingga Kalimantan Selatan di era tahun 1970-an hingga 1980-an sempat di sebut sebagai salah satu Lumbung Catur Indonesia.

Kenapa Kalsel disebut Lumbung Catur? Sudah disebutkan, Urang Banjar sangat hobi dengan olahraga ini mulai di kampung-kampung hingga perkotaan, juga prestasi pecatur Banua sempat meraih juara di PON maupun Kejurnas.

Sebut saja Master Internasional (MI) Arovah Bachtiar tak hanya menyumbangkan medali emas beberapa PON, bahkan mewakili Indonesia di event internasional seperti Olympiade.

Lelaki kelahiran Kalsel, 25 Maret 1934 ini meraih gelar master internasional pada 1978. Bahkan Arovah sebagai bagian dari tim catur Indonesia mengikuti lima kali olimpiade yakni di olympiade ke-14 di Leipzig Jerman tahun 1960, Olimpiade ke-17 di Havana tagun 1966, Olimpiade ke-19 di Siegen tahun 1970, Olimpiade ke-20 di Siegen 1972 dan Olimpiade ke-23 di Buenos Aires tahun 1978.

Selain itu, Arovah juga pernah mewakili Indonesia di Kejuaraan Catur Beregu Asia ke-1 di Penang, Malaysia tahun 1974 dan di Singapura tahun 1979.

Berkat prestasi yang sangat gemilang di dunia catur, Arovah akhirnya pindah ke Jawa Barat.

Tak hanya Arovah, adalagi pecatur Banua yang cukup disegani dan merupakan salah satu pemain asah otak terbaik di Indonesia yakni Grand Master (GM) Ardiansyah. Prestasi hebat lelaki kelahiran Banjarmasin, 5 Desember 1951 pernah beberapa kali meraih Kejuaraan Nasional Catur pada tahun 1969, 1970, 1974, 1976 dan tahun 1988.

Lalu, di level internasional, Ardiansyah pernah mengikuti kejuaraan antara lain South East Asian Zonal, Manila Tournament, Bauang Tournament, Asian Master Tournament, Marlboro Chess Classic Manila, 2nd Asia TCH Final, Brisbane Tournament, First Lady’s Cup Tournament, Rubinstein Memorial 21st Tournament Polandia, 5th Asian Cities Championship, Beijing Open, Penang Wah Seong IM, 2nd Inonesia Open Chess Championship Tournament, hingga Olimpiade Catur.

Ardiansyah sendiri meraih gelar Master Nasional tahun 1969, gelar Master Internasional (IM) didapat tahun yang sama 1969. Namun, untuk memperoleh gelar internasional tertinggi untuk pecatur Grandmaster (GM), membutuhkan waktu 17 tahun, tepatnya 1986 melalui salah satu Olimpiade Catur yang diikutinya di Dubai, Uni Emirat Arab.

Sama dengan Arovah, pecatur asli Banua ini memperkuat tim Olimpiade Catur Indonesia sudah sebelas kali, yang pertama tahun 1970, kemudian berturut-turut dari tahun 1972 sampai dengan tahun 1990 (kecuali tahun 1976), dan terakhir tahun 1996. Prestasi yang diraih dari ke sebelas Olimpiade tersebut adalah 76 point dari 144 partai atau 52,8 persen dengan perincian 54 kali menang, 44 kali remis, dan 46 kali kalah.

Prestasi lain GM Ardiansyah antara lain, meraih medali emas catur beregu Pekan Olahraga Nasional bersama regu Kalimantan Selatan, meraih dua medali perak dan dua medali perunggu catur beregu Asia bersama regu Indonesia.

Ardiansyah pun memulai kariernya di kejuaraan catur nasional di Jakarta 1968 meraih juara dan pecatur termuda yang juara. Berkat juara itu langsung ditarik menjadi karyawan Bank BNI Jakarta.

Pecatur legenda Indonesia asal Banjar, Ardiansyah meninggal dunia pada tanggal 28 Oktober 2017 dalam usia 66 tahun.

Selain prestasi perorangan dan cukup mentereng hingga internasional, Arovah dan Ardiansyah sempat membawa nama harum Banua di event nasional.

Materi pecatur yang cukup mumpuni ditambahkan organisasi olahraga catur di Kalimantan Selatan terbentuk sejak tahun 1969 yang waktu itu bernama Komda Percasi
sebagai Ketua Umum Pertama Komda Percasi Kalsel periode 1969-1973 dan periode 1973-1977 adalah HA Diohansyah dan Sekretaris Thaberani Abidin WN yang cukup solid menoreh prestasi membanggakan.

Di PON VII tahun 1969 di Surabaya, Arovah bersama MN HM Salman, MN Hamdan AH, Said Ahmad, Machlam dan MN A Kasah meraih medali emas beregu. Di nomor perorangan, Arovah juga menyabet medali emas.

Di PON VIII tahun 1973 di Jakarta, Kalsel mendulang meraih dua medali emas dan satu perunggu di cabang catur.

Medali emas beregu itu lewat GM Ardiansyah, HM MI Arovah Bachtiar, MN HM Salman, MN A Kawah, MN Djurjani. Lalu, medali emas perorangan atas nama Arovah Bachtiar dan perunggu oleh GM Ardiansyah.

Empat tahun kemudian, tepatnya PON IX 1977 di Jakarta, catur masih bisa merebut meraih satu emas, satu perak dan satu perunggu.

Medali emas perorangan atas nama MN HM Salman, perak lewat MI Arovah Bachtiar dan perunggu melalui beregu atas nama MI Arovah Bachtiar, MN Heriansyah, MN A Kawah, Abdul Mutalib dsn MN HM Salman.

Hengkangnya Arovah dan Ardiansyah membuat kekuatan Kalsel menurun dan hanya meraih satu medali perak perorangan atas nama Zainuddin YA di PON XI tahun 1985.

Sebenarnya itu telah muncul pecatur muda berbakat pengganti Arovah dan Ardiansyah setelah itu seperti MN Yohanis, MN Heriansyah, MN Bunturo, MN Nariansyah (Banjarmasin), MN Yusdi Mursalin (Tanah Laut), MN A Raihan (HSU) dan lain-lain, tapi tak bisa lagi mengembalikan kejayaan Kalsel mendulang medali di PON.

Hampir 20 tahun sepi medali PON, membuat Ketua Umum Pengda Percasi Kalsel yang di pimpin H Dandung Suchrowardi berusaha mengembalikan kejayaan catur sebagai lumbung catur nasional.

Mantan Bupati Tabalong ini dengan menggelar berbagai event catur, serta mendirikan sekolah catur Arovah Bachtiar di Banjarmasin. Terobosan lain dengan meminta GM Ardiansyah balik kampung serta menarik MI Danny Yuswanto memperkuat Kalsel.

Tak hanya pecatur putra, dibagian putri pun bermunculan pemain berbakat waktu itu. MFW Norasa Verdiana yang didukung kedua orangtuanya beberapa kali mewakili Indonesia di kejuaraan internasional sepertu Kejuaraan ASEAN di Brunei Sarussalam tahun 2003, Olimpiade catur Calvia di Mallorca, Spanyol 2004, World Youth Chess Championship di Crete, Yunani 2004, Singapore 7th International Chess Festival 2010 dan lain-lain.

Sebelumnya sudah ada MNW Wenni Meliana (HST), MPW Rabiatul Adawiayah (Banjar), MPN Lilis (Banjarmasin) dan Masniah (Tanjung) yang cukup kekuatan cukup disegani di Indonesia waktu itu.

Latihan keras dengan melakukan pemusatan di Jakarta dan mengikuti berbagai event nasional, akhirnya membuahkan hasil. Di PON XVI di Palembang, Sumatera Selatan tahun 2004 Kalsel satu meraih medali emas dan perunggu.

Medali emas diraih nomor catur cepat atas nama MI Danny Yuswanto dan beregu putri MNW Norasa Verdiama, MNW Wenni Meliana, MPW Radiatul Adawiyah dan Masniah.

Namun, di nomor beregu putra, walau pun sudah menurunkan tim terbaik, Kalsel gagal mendulang medali mengingat kekuatan catur saat itu sudah merata di seluruh Indonesia.

Setelah Dandung tak lagi memimpin Ketua Pengda Percasi Kalsel berdampak merosotnya juga percaturan di Banua. Tak ada lagi torehan prestasi pecatur senior Kalsel di PON meraih medali. Bahkan di PON XIX di Jabar tahun 2016 dan PON XX di Papua tahun 2021, catur tak lolos.

Sekarang ini Pengprov Percasi Kalsel dipimpin Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr Sutarto Hadi. Diharapkan di era kepemimpinan Sutarto, bisa mengembalikan kejayaan catur di era tahun 1969-1980-an dan tahun 2004 dengan mendulang medali di PON.

Kecintaan masyarakat Kalsel cukup tinggi. Salah satu cara, dengan memperbanyak kejuaraan mulai lomba tingkat kampung, Kabupaten/Kota, Provinsi hingga ke Kejurnas dan Kejuaraan Internasional.

Tak kalah pentingnya, pecatur-pecatur muda ‘dididik’ di sekolah catur di Jakarta, supaya punya jam terbang bertanding dengan pecatur bagus dari luar daerah.

Semoga kedepannya, catur bisa bangkit dan Kalsel kembali menjadi lumbung asah otak Indonesia. (banjarmasin, 27 April 2022)

Prestasi Catur Kalsel di PON

– Di PON VII 1969 di Surabaya meraih dua medali emas melalui beregu atas nama MI Arovah Bachtiar, MN HM Salman, MN Hamdan AH, Said Ahmad, Machlam dan MN A Kasah serta perorangan atas nama Arovah Bactiar.

– PON VIII tahun 1973 di Jakarta meraih dua medali emas dan satu perunggu.

Medali emas beregu lewat GM Ardiansyah, HM MI Arovah Bachtiar, MN HM Salman, MN A Kawah, MN Djurjani.

Medali emas perorangan atas nama Arovah Bachtiar dan perunggu oleh GM Ardiansyah.

– PON IX 1977 di Jakarta merebut meraih satu emas, satu perak dan satu perunggu.

Medali emas perorangan atas nama MN HM Salman, perak lewat MI Arovah Bachtiar dan perunggu melalui beregu atas nama MI Arovah Bachtiar, MN Heriansyah, MN A Kawah, Abdul Mutalib dsn MN HM Salman.

– Di PON XI tahun 1985 meraih medali perak atas nama Zainuddin YA

– PON XVI di Palembang, Sumatera Selatan tahun 2004 Kalsel satu meraih medali emas dan perunggu.

Medali emas diraih nomor catur cepat atas nama MI Danny Yuswanto dan beregu putri atas nama MFW Norasa Verdiana, MNW Wenni Meliana, MPW Radiatul Adawiyah, MPW Lilis dan Masniah.

– MI Arovah Bactiar (pakai peci hitam)
– GM Ardiansyah

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.