Menanti Geliat Laskar Antasari di Liga 1 2022/2023

Syaiful Anwar(kalselpos.com)

Oleh Syaiful Anwar

kalselpos.com –Keberhasilan Barito Putera keluar dari zona degradasi dan berhasil bertahan Liga Indonesia 1 musim kompetisi tahun 2022/2023, bak juara bagi tim kebanggaan Urang Banua, Barito Putera. Hasil imbang 1-1 dipertandingan Liga 1 melawan Persib Bandung, 31 Maret 2022, sudah cukup bagi Rizky Pora dan kawan-kawan tak turun kasta ke Liga 2 musim depan.

Bacaan Lainnya

Masih bercokolnya Tim Laskar Antasari membuat fans di Banua bersuka cita. Euforia bertahan di Liga 1 pun telah usai. Kini klub yang berdiri 21 April 1988 ini menatap masa depan, berusaha menoreh prestasi lebih baik lagi, menembus jajaran elit di kasta tertinggi Liga Indonesia 2022/2023.

Sebenarnya harapan manajemen dan fans tim Seribu Sungai cukup wajar, mengingat Barito pernah menoreh prestasi membanggakan, menembus semifinal di musim kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina) tahun 1994/1995. Seandainya gol Joko Heriyanto tak dianulir wasit Agil ke gawang Persib Banding, hampir dipastikan tim asuhan Daniel Roekito lolos ke final.

Keberhasilan tim Laskar Antasari yang diperkuat Frans Sinatra Huwae, Abdillah, Salahuddin, Zaenuri, Fachmi Amiruddin, Jusup Luluporo, Joko ‘Kijang’ Herianto, Heriansyah dan lain-lain berkat persiapan yang cukup matang.

Sebelum mengikuti kompetisi Divisi Utama Ligina, Frans dan kawan-kawan melakukan pemusatan latihan dan serangkaian uji di Jawa beberapa bulan sebelum balik home base ke Banua.

Ada yang menarik, sebelum ditangani Daniel Roekito yang jago meracik pemain muda seperti Salahuddin, Jusup Luluporo, Yunan Helmi dan lain-lain ditambah adanya pengatur irama permainan Barito, Frans Sinatra, di musim kompetisi sebelumnya fisik tim Laskar Antasari cukup bagus. Ini tak lepas godokan pelatih sebelumnya, Maryoto yang dikenal menempa fisik pemain supaya bisa tampil prima 2x 45 menit.

Daniel Roekito tinggal ‘meracik’ Fachmi dana kawan-kawan yang memiliki fisik mumpuni dan ditunjang menerapkan slogan urang Banjar, Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing di setiap pertandingan. Inilah yang menghantarkan tim Seribu Sungai menembus semifinal.

Di musim kompetisi tahun 1995/1996, walau pun kembali ditangani Daniel Roekito dan materi pemain yang hampir sama, karena minimnya persiapan, Barito nyaris terdegradasi. Untungnya, di partai penentuan di Tanjung, Tabalong, Frans Sinatra Huwae dkk menang atas PSDS Serdang hingga masih bertahan di Ligina waktu itu.

Berdasarkan pengalaman tersebut, pemilik HA Sulaiman HB ingin Barito berjaya dengan merekrut pelatih asing musim kompetisi tahun 1996/ 1997 Alexander Sasho asal Bulgaria. Keinginan itu akhirnya terwujud dengan menembus 8 besar Liga Indonesia.

Namun, perjuangan Frans Sinatra Huwae lolos ke 8 besar cukup berat, karena waktu itu di Banjarmasin terjadi kerusuhan 23 Mei yang dikenal Jumat kelabu. Pertimbangan keamanan, pihak kepolisian tidak mengizinkan bermain di markas stadion 17 Banjarmasin.

Perjalanan Barito pun terlunta-lunta. Saya yang waktu itu meliput dan mengikuti ‘perjalanan’ Barito harus main di kandang dengan berpindah tempat, menghadapi Pelita Jaya di Jakarta, PSB Bogor di Palembang, Sumatera dan partai kandang terakhir di Balikpapan. Salahuddin dan kawan-kawan pun main di luar kandang, bertarung di Surabaya melawan Mitra Surabaya dan Arseto Solo di Solo.

Berkat permainan Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing diterapkan Fachmi Amiruddin dan kawan-kawan selama satu bulan di luar home base membuahkan hasil, menembus 8 besar. Namun, langkah Barito yang main di Bandung terhenti di 8 besar.

Prestasi terakhir terbaik Tim Laskar Antasari kembali masuk 8 besar di musim kompetisi tahun 2001 saat ditangani Mundari Karya yang bermaterikan pemain muda seperti Isnan Ali, Sunar Sulaiman dan kawan.

Setelah itu roh Haram menyerah di diri pemain Laskar Antasari dalam mengarungi kompetisi Liga Indonesia sudah tak terlihat lagi. Bahkan dua tahun kemudian, Barito pernah merasakan turun dari kasta tertinggi Divisi Utama ke Divisi I Liga Indonesia pada tahun 2003. Tahun berikutnya terdegradasi ke Divisi II Liga Indonesia pada tahun 2004,

Akhirnya pada tahun 2008, mereka memenangkan Divisi II Liga Indonesia, dan promosi ke Liga Indonesia Divisi I. Pada tahun 2010, Barito finis di posisi delapan dan dipromosikan ke Divisi Utama Liga Indonesia dan sekarang berubah menjadi Liga Satu.

Pengalaman pahit itu diharapkan tak terulang lagi, betapa susahnya menapak ke Liga 1, perlu waktu tujuh tahun.

Disisi lain, nyaris terdegrasi Barito di musim kompetisi 2021/2022 merupakan pelajaran berharga, terutama tak hanya mencari pemain berkualitas tapi juga punya fighting spirit dan rasa memiliki terhadap klub seperti di era Fachmi Amiruddin dan kawan-kawan.

Sebenarnya, nilai kontrak dan gaji pemain sekarang ini jauh di atas pemain bahari. Ada yang nilai kontrak pemain Timnas Indonesia yang sekarang sudah pindah ke klub lain sekitar Rp 5 miliar, tapi mainnya ‘letoi’ saat membela Barito.

Hanya segilintir pemain yang punya motivasi tinggi saat bertanding, sedangkan sebagian besar pemain Barito sekarang, hanya melaksanakan ‘tugas’ bermain. Bisa ditebak perjalanan Barito pun di Ligina 1 terseok-seok dalam beberapa kompetisi terakhir.

Mengarungi musim kompetisi Liga Indonesia 2022/2023, pecinta Barito pasti menginginkan penampilan Rizky Pora dan kawan-kawan lebih greget lagi dibanding sebelumnya, supaya di akhir kompetisi tidak deg-degan, berada di zona degraadasi.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, tim Seribu Sungai harus mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari dengan melaksanakan pemusatan latihan (TC), untuk menempa fisik pemain, mematangkan strategi dan serangkaian uji coba dengan klub-klub Liga 1 di Jawa. Tanpa persiapan yang matang, mustahil meraih hasil yang maksimal atau masuk papan atas.

Harus diakui, untuk persiapan yang matang, perlu dana besar tak hanya membeli pemain berkualitas yang harganya di atas Rp 5 miliar satu orang. Bisa dibayangkan berapa dana yang diperlukan untuk mengontrak 4-5 pemain bagus, sekitar Rp 20-25 miliar. Belum lagi membayar kontrak pemain yang ada serta pemain sedang, diperkirakan Rp 50 miliar kontraknya saja.

Mencarikan dana segar sebesar itu bukan perkara mudah di tengah ekonomi sesulit ini. Fans Barito harus sabar dan jangan terlalu banyak ‘menuntut’ ke manajemen tim Laskar Antasari memburu pemain berkualitas yang harga selangit. Kita percayakan ke manajemen mencari pelatih dan pemain sesuai kondisi keuangan dan kebutuhan tim.

Sebenarnya ada cara lain, supaya bisa mendatangkan pemain berkualitas dengan dibantu perusahaab multi nasional yang ada di Kalsel dengan menjadi bapak angkat dari dana CSR-nya. Misalnya, Arutmin menjadi bapak pemain A, dengan membayar kontrak pemain satu musim, Adaro menjadi bapak angkat pemain B, Jhonlin Group dan perusahaan lainnya. Bisa juga patungan beberapa perusahaan persawitan, perusahaan pertambangan hingga pabrik minyak goreng Alif di Kotabaru. Saya yakin, dengan urungan perusahaan besar di Banua, bisa teratasi masalah merekrut pemain berkualitas.

Sebenarnya cara ini pernah dilakukan Pangeran HG Rusdi Effendi AR yang waktu itu menjadi Ketua Umum Barito Putera bekerjasama dengan Gubernur Kalsel menggaet Bupati dan Wali Kota Banjarmasin serta pengusaha jadi bapak angkat pemain tim Laskar Antasari. Namun, adanya kebijakan bupati dan Walikota tidak boleh menyalurkan dana APBD buat pemain bola sekarang ini tidak dibolehkan lagi.

Ada cara lain dalam menggalang dana, Barito melakukan go public seperti Persebaya Surabaya. Sebenarnya, beberapa tahun lalu pernah diusulkan fans tim Laskar Antasari agar go public, tapi owner alm HA Sulaiman HB tak mau dan beliau konsisten mendanai sendiri klub kebanggaan Urang Banjar.

Terlepas itu semuanya, ada atau tidaknya pemain ‘mahal’ di Barito, bukan ukuran bisa berprestasi di Liga 1 musim kompetisi mendatang. Berkaca pengalaman di Ligina tahun 1994/1995, tanpa pemain bertabur bintang pun, Frans Sinatra Huwae bisa menembus ke semifinal.

Begitu juga adanya isu beberapa pemain kunci seperti kiper Riyandi, Bruno Matos, Miftah Sani dan Bagus Kaffa pindah ke klub lain, itu sudah lumrah dalam sepakbola profesional, asalkan masa kontraknya sudah habis. Kalau pun tetap dipaksa ditahan, hati mereka sudah ke lain dan mainnya bakal berkurang.

Diperlukan sekarang, tim Laskar Antasari, secepatnya merekrut pelatih dan pemain sesuai anggaran serta kebutuhan tim untuk persiapan menghadapi kompetisi Liga 1 mendatang. Pasalnya, klub-klub lain sudah berburu pemain seperti Persija Jakarta, PSIS Semarang, Arema Malang dan lain-lain.

Saya yakin, dengan persiapan jauh-jauh hari, fisik bagus, punya motivasi bermain Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing serta rasa kekeluargaan tinggi antar pemain dan manajemen serta pelatih yang mumpuni meracik strategi, inshaa Allah tim Laskar Antasari akan mampu bersaing dengan klub lainnya di musim kompetisi tahun. Kejadian terancam degragradasi dan sport jantung buat Baritomania tak terulang kembali.

Semangat tim kebanggaan Urang Banjar, kamu bisa mengulang prestasi seperti dulu. (banjarmasin, 9 April 2022)

Perjalanan Barito Putera

* Kompetisi Galatama

– 1989 : Peringkat 18 dari 18 tim
– 1990 : Peringkat 16 dari 18 tim
– 1991 : Peringkat 7 dari 20 tim
– 1992 : Peringkat 3 dari 17 tim
– 1993 : Peringkat 5 dari 8 tim Wilayah Timur

* Kompetisi Liga Indonesia

– 1994/1995 – Peringkat ke-1 Divisi Utama Wilayah Timur dan lolos ke Semifinal
– 1995/1996 – Peringkat ke-15 Divisi Utama Wilayah Timur
– 1996/1997 – Peringkat ke-4 Divisi Utama Wilayah Tengah (lolos ke 8 besar)
– 1997/1998 – Peringkat ke-4 Divisi Utama Wilayah Tengah (Liga dihentikan)
– 1998/1999 – Peringkat ke-3 Divisi atama Grup D
– 1999/2000 – Peringkat ke-9 Divisi Utama Wilayah Timur
– 2001: Peringkat ke-4 Divisi Utama Wilayah Timur
– 2002 : Peringkat ke-2 Divisi Utama Wilayah Timur
– 2003 : Peringkat ke-20 (Format 1 Wilayah) (Degradasi ke divisi I)
– 2004 : Divisi I Peringkat ke-11 dari 12 tim di grup (degragdasi ke Divisi II)
– 2005 : Divisi II Liga Indonesia
– 2006 – Divisi II Liga Indonesia – 2007 – Divisi II Liga Indonesia
– 2008/2009 – Juara Divisi II (Promosi Divisi I)
Liga Indonesia
– 2009/2010 : 8 Besar Divisi I (Promosi Divisi Utama) Liga Indonesia
– 2010/2011 : Peringkat ke-5 Divisi Utama Wilayah 3 Liga Indonesia
– 2011/2012 : Juara Divisi Utama Menang atas Persita (Promosi Liga Super Indonesia)
– 2012/2013 : Peringkat ke 6 Klasemen Akhir Liga Super Indonesia
– 2014 : Peringkat 7 Grup B dari 11 tim
– 2015 : Kompetisi dibekukan Menpora
– 2016 : Peringkat ke-16 dari 18 tim
– 2017 : Peringkat ke-7 dari 18 tim
– 2018 : Peringkat ke-9 dari 18 tim
– 2019 : Peringkat ke-13 dari 18 tim
– 2020 : Liga Dihentikan Covid 19
– 2021/2022 : Peringkat ke-15 dari 18 tim

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.