Bank Kalsel ajak Puluhan Jurnalis Banua Jajal Trek  Off – Road Cikole Lembang

Bank Kalsel mengajak puluhan jurnalis dan pimpinan media menjajal trek off-road Cikole Lembang.(ist)Anas Aliando(kalselpos.com)

Bandung,kalselpos.com – Satu bus pariwisata menanti di lobi hotel ternama di Kota Bandung menunggu rombongan jurnalis dan pimpinan media yang mengikuti kegiatan Media Gathering Bank Kalsel usai makan pagi.

Bus itu bersiap mengantarkan rombongan menuju lokasi off – road Cikole Lembang Bandung.

Bacaan Lainnya

Karena macet, kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya rombongan sampai di lokasi.

Rombongan pun sedari tadi, ditunggu mobil kuno dengan kerangka berkarat, lampu kusam, tampilan muka berbalur lumpur, roda berdiameter besar serta ban cadangan di atas kap mobil.

“Ayo, naik ke mobil. Cukup kok buat delapan orang,” tutur seorang pemandu rombongan (perempuan cantik berambut pirang) kepada kami.

Satu-per-satu jurnalis asal Bumi Lambung Mangkurat duduk berhadapan di bangku belakang yang berdesain menyerupai angkutan pedesaan Martapura – Mataraman itu. Satu orang rombongan duduk di jok depan samping sang pengemudi.

Kalsel Pos mendapat kehormatan bisa satu mobil dengan Suriyadi, Kepala Divisi Corporate Sekretaris Bank Kalsel yang duduk di sebelah kiri sopir.

Suriyadi tampak menikmati perjalanan membelah belantara itu. Kalau jurnalis banyak yang teriak memekik dan nyaris kesurupan, Suriyadi sekali – sekali malah tertidur.

“Enak rasanya bagai diayun,” ujarnya sambil tersenyum.

Semilir angin bercampur asap solar yang menyusup di kabin belakang mobil kian hilang, berganti udara segar nan sejuk di kaki Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, dengan pemandangan pohon Pinus menjulang elok menggoda mata.
[21/12 12:15] Anas Kalselpos: Matahari tersipu malu di balik kabut putih. Wajah manis jurnalis perempuan seakan tak mampu menghangatkan suasana di petang Sabtu (18/12/2021) itu. Gerimis meningkah tanpa di suruh dan rombongan pun memulai menapaki medan terjal nan berlumpur dan berbatu.

“Nanti kalau mobilnya goyang kanan atau kiri, ikuti aja ya Pak. Badannya jangan ditahan,” kata Kang Dede, pengemudi mobil warna hijau muda tahun 1980 kepada jurnalis yang membonceng mobilnya.

Selain imbauan untuk tidak menahan badan, kami juga diminta berhati-hati dengan potongan-potongan ranting pohon yang ada di kana kiri jalan off-road.

“Awas Pak! Ranting,” seru pengemudi ketika sebatang ranting kering tampak di depan kaca kemudinya yang diikuti gerakan bungkuk para anggota rombongan off-road di kursi kanan mobil.

Lima mobil dengan panjang hampir tiga meter itu terus menderu dan menembus jalur batu berkelok-kelok dengan kecepatan rata-rata 20-40 km/jam.

Semak belukar dan ranting di kanan kiri mobil yang beberapa kali mencolek punggung penumpang, menyemburkan pula aroma sepet dedaunan dalam balutan sinar matahari yang menembus atap pinus.

Di balik tanjakan berbatu sehabis jalan berlumpur terdapat area pemberhentian sementara. Rombongan beristirahat sekitar sepuluh menit untuk berfoto sekaligus menghirup udara area Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH), Bandung Utara itu.

Usai sejenak melepas penat, rombongan kembali melanjutkan perjalanan.
Satu per satu anggota rombongan kembali naik kabin belakang mobil yang tertutup bahan kanvas. Sejenak membetulkan posisi duduk, sang pengemudi pun menginjak pedal gas dan kopling.

“Seru sekali, di tempat kita padahal banyak yang lebih ekstrim. Di Kiram misalnya, jika dikelola dengan profesional maka akan menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” ujar Faisal, jurnalis jejekrekam.com berkomentar di sela kegiatan.

Mobil lebih melaju, kali ini kami dihadapkan pada jalan tanah becek yang menyerupai area sawah sehabis terbajak traktor besar.

Disusul jalur tanah curam berlubang bekas tapak ban off-road selebar sekitar empat meter, setiap jurnalis langsung berpegangan pada tali yang tergantung di rangka mobil.

Seraya menunggu pengemudi untuk mengambil ancang-ancang, sebagian anggota rombongan justru minta turun dari mobil. “Saya mau ambil foto mobil ini dari depan,” tutur seorang jurnalis radio, Junaidi Nasri.

Sebagian rombongan asyik mengambil gambar-gambar mobil off-road yang memacu roda di atas tanah berlumpur. Sebagian lagi yang berada di mobil berteriak kegirangan begitu mobil yang mereka tumpangi mampu melewati rintangan off-road itu.

“Goyangan mobil lebih seru dari goyangan Inul dan Saskia Gotik,” celetuk Ady Wiryawan, jurnalis online berkacamata.

Mobil kedua dari depan tiba – tiba berhenti, ternyata as roda patah
selepas menanjak jalan andosol berlumpur di sisa-sisa jalur itu.

Dicoba diperbaiki, namun gagal. Rupanya kerusakan tergolong parah. Opsi pun diputuskan. Semua jurnalis di mobil tersebut terpaksa di pindahkan ke mobil lain.

“As roda mobil patah, ya saya terpaksa jalan kaki beberapa puluh meter, sepatu saya jadi kotor,” gerutu Maisyuri, salahsatu jurnalis online dengan wajah memelas.

Sebelum magrib, mobil rombongan jurnalis menginjak aspal jalan raya Lembang, pertanda perjalanan off-road Media Gathering Bank Kalsel berakhir.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait