Sempat membuat kegaduhan di medsos terkait denda tilang, raihan akhirnya minta maaf

  • Whatsapp
[]istimewa MINTA MAAF - Raihan (kiri) di dampingi anggota Satlantas Polres Batola saat membacakan surat permohonan maaf.s.a lingga(kalselpos.com)

Banjarmasin,kalselpos.com -Awalnya seorang ayah bernama Raihan menggunggah sejumlah pertanyaan melalui Facebook, setelah sang anak terkena tilang di Pos Lantas Simpang Empat Handil Bakti, Barito Kuala (Batola), Sabtu (27/11) lalu.

“Anak lun di daerah Mandastana kena razia. Tidak bawa STNK karena hilang. Ada dua pilihan bayar tilang langsung sebesar Rp500.000 atau ditilang bayar nanti dengan motor ditahan. Anak lun pilih bayar di tempat sebesar Rp500 ribu,” tulis Raihan.

Bacaan Lainnya

“Mengapa dendanya maksimal? Mengapa tidak SIM saja yg ditahan, karena kan ada SIM? Seharusnya kalu ada e-tilang, harus ada kertas warna hijau (biru) bukti penilangan,” tambahnya.

Raihan juga mempertanyakan soal denda tilang dibayar maksimal. Ia mengklaim keputusan bayar itu merupakan hak eksekutor, bukan diputuskan polisi.

“Setahu saya yang pernah ditilang. Walau bayar maksimal dan bayarnya di bank. Kemudian ketika keputusan ada selisih lebih bayar bisa diambil lagi di bank itu. Dan uangnya masuk kas negara. Apakah sistem bayar tersebut sesuai dgn UU,” beber Raihan.

Unggahan itu lantas menjadi viral, setelah dibagikan ulang oleh akun bernama Habibi ke grup Facebook Habar Handil Bakti Batola.

Terlebih unggahan ulang itu dibumbu-bumbui dengan klaim, jika si pelanggar menyerahkan uang Rp500 ribu kepada oknum anggota Satlantas. Sontak unggahan ini mendapat beragam komentar miring dari warganet.

Belakangan diketahui, kejadian yang dituliskan di kedua akun Facebook tersebut, bertolak belakang dengan fakta di lapangan.

Habibi alias Ahmad Riadi menarik unggahan tersebut, sekaligus menandatangani surat pernyataan minta maaf kepada Satlantas Polres Batola, Selasa (30/11) lalu.

“Saya atas nama Ahmad Riadi meminta maaf atas postingan saya yang membikin gaduh di media sosial. Semua postingan itu semua tidak benar,” papar Habibi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.