Sidang dugaan Penipuan mantan Bupati, mantan Wabup akui berhutang Rp7,5 M

  • Whatsapp
[]s.a lingga MANTAN WABUP BERSAKSI - H Syaifullah, mantan Wabup Balangan, Kamis (17/6/21) siang, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan penipuan yang menyerat nama mantan atasannya, yakni Bupati H Ansharuddin sebagai terdakwa.(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – H Syaifullah, mantan Wakil Bupati (Wabup) Balangan, Kamis (17/6/21) siang, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan penipuan yang menyerat nama mantan atasannya, yakni Bupati H Ansharuddin sebagai terdakwa.
Pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin dan dipimpin ketua majelis hakim, Aris Bawono Langgeng itu, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi H Syaifullah yang pernah bersama – sama terdakwa dilantik sebagai pasangan Kepala Daerah di Kabupaten Balangan Tahun 2016 lalu.
Dalam kesaksiannya, H Syaifullah membeberkan terkait persoalan hutang-piutang antara dia dan terdakwa H Ansharuddin dengan H Supian Sauri alias H Tinghui.
Di mana persoalan hutang-piutang dengan H Tinghui tersebut, memiliki keterkaitan dari awal kejadian hingga munculnya persoalan hukum antara terdakwa dengan pelapor yaitu Dwi Putranto.
Dibeberkan H Syaifullah, jika ia bersama terdakwa bersepakat untuk meminjam uang kepada H Tinghui demi keperluan biaya berkampanye jelang Pilbup Balangan, yakni sebesar Rp7,5 miliar. “Waktu itu saya dan Pak Anshar bersepakat berhutang, nanti akan dibayar bersama-sama,” jelas H Syaifullah.
Setelah keduanya menjabat, H Tinghui melalui kuasa hukumnya di tahun 2017, sambungnya, meminta dirinya dan terdakwa untuk segera melunasi hutang tersebut, hingga sempat dimediasi oleh pihak Kepolisian.
Menurut H Syaifullah, dirinya yang tak ingin kehilangan 26 sertipikat tanah yang dijadikan agunan pun, berupaya sesegeranya menyelesaikan hutang tersebut. “Sebagai agunan sertipikat milik saya ada 26, satu sertipikat rata-rata seluas 2 hektare dan satu hektare perhitungannya sekitar Rp500 juta. Punya Pak Anshar ada dua sertipikat,” ungkapnya.
Namun saat dirinya akan menyerahkan uang pembayaran senilai Rp3,75 miliar yang jadi tanggungjawab H Syaifullah, melalui kuasa hukumnya, H Tinghui, menolak pembayarannya, lantaran menginginkan pembayaran dilakukan secara bersamaan, agar pengembalian uang dilakukan secara penuh senilai Rp7,5 miliar.
“Waktu itu Saya jadinya sempat tiga kali terlambat membayar sampai akhirnya Pak Anshar juga bisa membayarkan Rp3,75 miliar bagiannya,” sebut H Syaifullah.
Dalam dakwaan yang dibacakan oleh JPU, pada sidang sebelumnya, disebutkan jika terdakwa H Ansharuddin meminta bantuan kepada pelapor yaitu Dwi Putranto untuk membantunya menyelesaikan persoalan hutang dengan H Tinghui.
Setelah Dwi bersedia membantu dan persolan hutang-piutang terdakwa dengan H Tinghui selesai, giliran Dwi yang melaporkan H Ansharuddin, karena diduga melakukan penipuan, akibat tak dapat mengembalikan uang yang dipinjamnya untuk menyelesaikan persoalan dengan H Tinghui sebelumnya.

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.