Kejar Nilai Tambah Petani, Disbunnak Batola Genjot Hilirisasi Sawit dan Kelapa

Ket foto:   Kabid Perkebunan Disbunnak Batola, Amina Oktriyana, S.Hut, saat diwawancara di ruang kerjanya, Senin (11/5/2026).(mul)(kalselpos.com)

MARABAHAN, kalselpos.com – Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Barito Kuala (Batola) mendorong hilirisasi produk sawit dan kelapa untuk nilai tambah bagi petani. Saat ini Batola baru memiliki satu pabrik CPO atau Crude Palm Oil (Minyak Sawit Mentah) milik swasta.

 

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Perkebunan Disbunnak Batola, Amina Oktriyana, S.Hut, mengatakan, selama ini petani hanya menjual bahan mentah. “Harus ada produk olahan karena itu menambah nilai tambah. Jadi produknya ada nilai tambah, diversifikasi usahanya juga ada,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

 

Amina menjelaskan, alur sawit di Batola saat ini dari petani dijual ke pengepul berupa Tandan Buah Segar (TBS), lalu masuk pabrik menjadi CPO (Crude Palm Oil). “Kita ini hanya satu yang CPO. Karena pabrik CPO baru satu, mudah-mudahan nanti ada beberapa perusahaan lebih kepada diversifikasi bahan olahannya,” harapnya.

 

Menurutnya, hilirisasi sawit tidak hanya berhenti di CPO, tetapi bisa ke minyak goreng, minyak merah, dan turunan lainnya. Untuk kelapa dalam, hilirisasi juga penting agar tidak hanya dijual kopra dan biji. “Jadi harus ada hilirisasinya, sehingga produknya tidak hanya berupa bahan baku, tetapi juga produk olahan. Hilirisasinya itu pabrik lah,” ungkap Nana sapaan akrab Kabid Perkebunan Disbunnak Batola itu.

 

Produk olahan kelapa yang potensial antara lain PCO, nata de coco, hingga minyak goreng dari kelapa. Kalau kelapa tentunya tidak hanya kopra, tapi juga bentuk PCO, olahan nata de coco, atau minyak goreng dari kelapa, dan turun-turunannya.

 

Ia menyebut pemerintah mendukung hilirisasi, namun masih perlu mencari sumber dana lain. “Kita mendorong untuk terbentuknya hilirisasi itu melalui dana pusat. Bisa melalui dana APBN, melalui dana BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) yang khusus untuk sawit,” ungkapnya.

 

Disbunnak juga mendorong kelompok tani atau koperasi mengusulkan sarana prasarana hilirisasi.

 

Disampaikannya, kita juga mendorong, misalnya ada usulan-usulan dari kelompok tani atau koperasi yang nantinya bisa mengusulkan untuk sarana dan prasarananya. Soalnya ini kita belum ada.

 

Nana mengakui, yang menonjol di Batola saat ini masih produk bahan baku yang masih di bagian hulunya. yang ada hanya satu pabrik CPO itu pun milik swasta. Kemudian kalau kelapa kita masih jual kopra, masih jual biji, belum ada hilirisasi lagi,” pungkasnya.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait