Batulicin, kalselpos.com –
PT Borneo Indobara (BIB) resmi mendeklarasikan diri sebagai pionir penggunaan peralatan tambang berbasis tenaga listrik secara masif di Indonesia. Deklarasi tersebut dikukuhkan dalam acara Ceremonial Electrification and Green Mining Realization di area pertambangan PT BIB pada Senin (9/2/2026). Momentum ini sekaligus menandai hari jadi perusahaan yang kini genap berusia 20 tahun.
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT BIB, Riadi Simka Pinem, menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran para pemangku kepentingan. Menurutnya, acara ini menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman terkait penerapan teknologi ramah lingkungan.
Riadi menjelaskan, implementasi energi bersih di PT BIB bukan hal baru, melainkan proses berkelanjutan yang telah dimulai sejak enam tahun lalu di area pelabuhan.
“Secara bertahap, dalam dua tahun terakhir, teknologi ini merambah pada angkutan batu bara dari tambang ke pelabuhan, pemuatan di Run of Mine (ROM), hingga fasilitas pendukung seperti kantor dan bengkel,” ujar Riadi.
Acara yang berlangsung selama tiga hari (7–9 Februari 2026) ini juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar. PT BIB melibatkan 26 UMKM dari 22 desa lingkar tambang untuk menyuplai konsumsi bagi lebih dari 2.000 undangan dan 115 instansi yang terdaftar.
Di tengah pameran yang menampilkan lebih dari 150 unit alat listrik—mulai dari excavator, wheel loader, hingga drone—COO PT BIB, R Utoro, menegaskan bahwa program elektrifikasi ini merupakan yang pertama dalam skala besar di dunia pertambangan Indonesia.
“Perjalanan panjang menuju kemandirian energi ini telah diinisiasi sejak 2018,” kata Utoro.
PT BIB memasang target ambisius, yakni merealisasikan 25 persen armada listrik pada tahun 2026 dan melonjak hingga 75 persen dalam dua tahun setelahnya. Didukung pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk yang bekerja sama dengan PLN, PT BIB optimistis target emisi nol bersih (net zero emission) akan tercapai pada 2028 atau 2029. Target ini selaras dengan semboyan mereka: Sustainable Green Mining, Illuminating the World.
Saat ini, pasokan listrik sebesar 40 MVA dari PLN telah mengaliri peralatan rantai batu bara perusahaan. Angka ini diproyeksikan melonjak hingga 240 MVA pada tahun 2028.
Mengingat tingginya ketergantungan pada listrik, manajemen PT BIB sangat berharap pada konsistensi pasokan dari PLN wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng). Pasokan yang stabil krusial untuk mencegah pemadaman yang dapat menghentikan operasional alat berbasis kabel dan baterai.
Langkah strategis PT BIB ini juga menjadi respons nyata terhadap arahan Presiden pada awal 2026. Pemerintah saat itu menekankan pentingnya mengurangi impor BBM yang mencapai Rp520 triliun per tahun demi ketahanan energi nasional.
Selain elektrifikasi, PT BIB memperkenalkan teknologi mutakhir dalam pengelolaan operasional. Perusahaan memodifikasi cuaca menggunakan drone nirkabel pembawa flare serta radar cuaca beradius 70 kilometer yang dioperasikan bekerja sama dengan BMKG.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





