Siapa Pewaris Bapandung dan Balamut Setelah Wafatnya Syukur dan Jamhar

Maestro Balamut, Jamhar Akbar tampil bersama Muhammad Maulidan Anwar (kalselpos.com)
Syaiful Anwar(kalselpos.com)

Oleh Syaiful Anwar

kalselpos.com – Satu persatu maestro kesenian sastra lisan Banjar telah berpulang ke Rahmatullah. Di tanggal 28 Februari 2021, maestro Balamut Gt Jamhar Akbar meninggal dunia, kali ini menyusul maestro Bapandung, Abdus Syukur menghadap Allah SWT, 6 Maret 2022.

Bacaan Lainnya

 

Wafatnya dua maestro Sastra lisan Banjar ini membuat resah penggiat seni budaya di Kalimantan Selatan. Apakah Balamut dan Bapandung akan ‘hilang’ bersama meninggalnya dua tokoh seniman Banua tersebut.

Baik alm Jamhar maupun Syukur sangat ‘mencintai’ dan menjiwai kesenian Balamut dan Bapandung. Keduanya tak terpisahkan kesenian yang hampir punah hingga akhir hayatnya.

Jamhar hingga wafat diusia 78 tahun, sangat setia memainkan Balamut. Dirinya menjadi pelamutan sejak umur 10 tahun. Kepandaian balamut didapatnya sejak kecil selalu diajak bapaknya, Raden Rosmono mendampingi bermain lamut di setiap pertunjukkan.

Bermain Balamut merupakan warisan secara turun-temurun dan Jamhar keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara

Masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya. Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah. Tamu yang datang ke rumahnya untuk berobat dengan Balamut malah ada Sulawesi Selatan hingga Thailand.

Kesenian Balamut sendiri usianya boleh dibilang cukup tua. Berdasarkan buku berjudul Pantun, Madihin, Lamut yang ditulis Drs H M Thaha MPd dan Drs H Bakhtiar Sanderta, kesenian asli Kalsel ini diperkirakan ada sejak zaman kuno yaitu tahun masehi dan menginjak zaman baru (1500-1800).

Lalu, berdasarkan cerita maeatro Balamut, M Jamhar, kesenian Balamut itu lahir di Amuntai, Hulu Sungai Utara, tahun 1816.

Terlepas mana yang benar tentang munculnya kesenian yang cerita pakem bahasa Banjar dan memakai properti terbang berukuran besar, ternyata ada cerita mistiknya.

Kesenian Balamut merupakan sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya Banjar.

Balamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau Cianjuran. Bedanya, wayang atau Cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang.

Nama Lamut sebagai atribut kesenian ini diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yakni Paman Lamut. Kesenian ini sangat sederhana, arena materi cerita disampaikan oleh satu-satunya seniman yang dikenal sebagai palamutan.

Beda dengan Syukur, menekuni kesenian secara total sejak lulus SMA. Waktu itu almarhum berhenti bekerja dari perusahaan dan akhirnya memilih menjadi pemain teater tradisi Banjar, baik itu Mamanda dan Bapandung serta bergabung di Teater Mamanda.

Namun, lelaki kelahiran 3 Desmber 1966 ini diminta maestro Mamanda, Bakhtiar Sanderta (alm) di tahun 1995 secara khusus, menekuni kesenian Bapandung yang waktu tidak ada yang berminat mempelajarinya, supaya tak punah.

Syukur pun dengan tekun mempelajari stand up komedi asli Banjar dan sering tampil diberbagai acara baik di Taman Budaya, acara HUT Provinsi Kota Banjarmasin, HUT Kalsel, RRI, TVRI hingga ‘mengajar’ di seniman masuk sekolah.

Seiring berkembangnya zaman, Bapandung jarang tampil akibat tergerus kesenian modern dan banyak alternatif hiburan.

Kesenian Bapandung, berusia hampir sepadan dengan Mamanda pun senasib dengan Balamut, hampir punah, karena kesenian ini cukup rumit dan cuma dimainkan oleh satu orang dengan aneka peran.

Seniman Bapandung yang disebut Pamandungan kerap menggunakan kostum berlapis-lapis. Satu kostum untuk satu tokoh.

Penyebab lain Bapandung hampir punah, cerita alm Syukur kepada saya semasa hidup, ada semacam prinsip malu kalau bermain di wilayah tradisi, sedang stand up budaya barat.

Jadi, kata, Syukur, tukang pandung sebenarnya banyak bibit yang sudah diajari dan mampu melakukan pengembangan. “Kendalanya, mereka masih belum mau totalitas,” jelasnya.

Bapandung berasal dari kata Pandung, artinya menirukan tingkah laku manusia, bahkan hewan.

Bapandung berkembang dalam masyarakat suku Banjar Hulu di Kabupaten Barito Kuala.

Seni ini mulai di pertunjukan oleh seorang petani di Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala pada awal tahun 1960-an.

Teater bapandung ini berupa monolog yang menggunakan bahasa Banjar.

Namun, bapandung berbeda dengan bercerita bahasa Banjar. Kalau bercerita pemain sebagai objek penikmat kisah, sedangkan bapandung lebih ke seni keterampilan bercerita seperti menirukan tingkah laku seseorang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.