Sempat jadi Tersangka, seorang Nenek di Seram akhirnya hirup ‘udara bebas’ lewat Keadilan restoratif

[]puspenkum kejagung BEBAS TANPA SYARAT - Siti Mina Ohorella alias Mina (tengah), seorang nenek di Kabupaten Seram Bagian Barat yang bebas tanpa syarat, setelah permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif disetujui Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Dr Fadil Zumhana, Senin 07 Maret 2022 lalu.(kalselpos.com)

Jakarta, kalselpos.com – Siti Mina Ohorella alias Mina adalah seorang ibu dan nenek berusia 50 tahun yang bekerja setiap harinya sebagai penjual sayur keliling antar desa demi membiayai anak dan cucunya.

Mina sepeninggal suaminya 5 (lima) tahun lalu, mengharuskan dirinya menggantikan peran sebagai kepala rumah tangga untuk menghidupi keluarganya dengan berjualan sayur keliling antar desa dengan menempuh perjalanan yang berliku dan berbahaya, yang setiap hari dilaluinya.

Bacaan Lainnya

Sampai pada tahun 2017, ketika Mina sedang berjualan, ia menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan pada bagian wajahnya dijahit sebanyak 500 jahitan.

Namun musibah yang dialaminya tersebut tidak membuat dirinya untuk berhenti berjualan sayur demi menghidupi keluarganya.

Di saat dirinya sedang bekerja, pada Minggu 21 November 2021 pukul 10.00 WIT, dia kembali mengalami kecelakaan lalu lintas (lalin)!untuk kedua kalinya di Jalan Trans Seram di Dusun Ketapang, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Saat itu, Mina mengendarai sepeda motor Yamaha Vega R warna merah dari arah Dusun Ketapang menuju Dusun Uhe untuk berjualan sayur dengan kondisi jalan yang menurun sedikit tikungan.

Saat itu Mina melihat jalan berlubang dan rusak, dirinya berusaha untuk menghindari lubang jalan yang rusak ke arah kanan, namun pada saat bersamaan muncul sepeda motor milik korban MP, yakni Honda Beat warna hitam DE 5843 NB dari arah berlawanan.

Melihat hal tersebut, Mina kaget dan panik, sehingga tidak dapat mengendalikan sepeda motor miliknya hingga terjadilah kecelakaan.

Akibat kecelakaan tersebut, Mina dibawa ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan medis, namun 1 jam kemudian korban MP meninggal dunia.

Karuan saja Mina pun ditetapkan sebagai tersangka melanggar Pasal 310 ayat 4 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Setelah kejadian tersebut, niatan teguh hati Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari)!Seram Bagian Barat, Irfan Hergianto SH MH dan Kasi Pidum Sriwati Asia Paulus SH serta tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara, Taufik Eka Purwanto SH, Garuda Cakti Vira Tama SH dan Raimond Chrisna Nova SH untuk dapat mendamaikan, menenangkan dan menetralisir situasi antara tersangka Mina dengan keluarga korban MP, ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung RI, Dr Ketut Sumedana, sebagaimana rilis yang diterima kalselpos.com, Minggu (13/3/22) petang.

Pada Jumat 25 Februari 2022 bertempat di Kantor Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat, Kajari Seram Bagian Barat selaku Penuntut Umum telah melakukan mediasi dan upaya perdamaian antara
tersangka dan keluarga korban, yang disaksikan oleh perangkat desa setempat dan tokoh masyarakat sekitar.

Saat itu, istri korban MP dan keluarga berbesar hati telah memaafkan kelalaian tersangka dan menerima dengan baik permintaan maaf dari nenek Mina, yang akhirnya dapat dilakukan penghentian perkara berdasarkan ‘restorative justice’.

Kini Mina bisa bebas tanpa syarat, setelah permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang diajukan Kejari Seram Bagian Barat disetujui oleh Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Dr Fadil Zumhana melalui ekspose secara virtual, pada Senin 07 Maret 2022 lalu, jelas
Ketut Sumedana.

Adapun alasan lain pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan, karena tersangka Mina menyadari, karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas sehingga korban MP meninggal dunia.

Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana atau belum pernah dihukum.

Tersangka juga telah meminta maaf kepada keluarga korban dan turut membantu proses pemakaman korban, yakni pengajian hari ke-3, pengajian hari ke-7 yang dilakukan di rumah keluarga korban.

Tersangka berstatus janda, bekerja penjual sayur keliling menghidupi anak dan cucu.

Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif pada poin 2 huruf c disebutkan, dalam hal tindak pidana dilakukan karena kelalaian, dapat dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif, jika tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana (dua syarat yang lain dapat dikesampingkan atau dikecualikan).

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum dalam ekspose secara virtual mengapresiasi dengan setinggi-tingginya kepada Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat , Kasi Pidum dan Jaksa Penuntut Umum yang menangani perkara Mina yang telah berupaya menjadi fasilitator mendamaikan dan menyelesaikan perkara tersebut dengan mediasi antara korban dengan tersangka serta melibatkan tokoh masyarakat setempat, sehingga terwujudnya keadilan restoratif.

Selanjutnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum memerintahkan kepada Kajari Seram Bagian Barat untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) berdasarkan keadilan restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum, demikian Dr Ketut Sumedana.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait