KOTABARU, kalselpos.com – Tak ingin kembali dan takut akan kondisi di desanya. Salah satu korban pengungsi dari Desa Maradapan Kecamatan Pulau Sembilan mengaku tidak ingin lagi kembali kekampungnya karena alasan takut.
Sinta, saat ditemui sore tadi Kamis (9/12/21) oleh wartawan kalselpos.com mengatakan bahwa, ia bersama keluarganya lebih memilih tinggal di wilayah Kabupaten Kotabaru saja karena untuk kembali kesana ia mengaku ada perasaan takut dan khawatir.
“Kalau bisa sih saya dan keluarga tidak lagi kembali kesana untuk tinggal, saya lebih memilih di Kotabaru saja, dari pada harus kesana lagi dan terjadi longsor lagi. Saya takut,” ungkapnya.
Dikatakannya lebih jauh, sebelum longsor terjadi di siang hari, pada malam harinya sudah terjadi banjir dan air masuk kedalam rumah sekitar setengah lutut orang dewasa karena hujan yang turun sangat deras.
“Kami sekeluarga sama sekali tidak menyangka akan terjadi longsor, karena saat itu kami sedang santai didalam rumah bersama anak,” sambungnya.
Sekedar informasi, sebanyak 27 orang yang termasuk didalamnya ada 6 Balita pengungsi longsor Maradapan berada di pondok pesantren At – Taqwa yang ada di Desa Sebelimbingan Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, atas inisiasi sentra komunikasi (Senkom) Mitra Polri.
Berdasarkan pantaun media ini, mereka ditempatkan di beberapa rumah warga disekitaran pesantren dan mendapatkan perhatian penuh mulai dari makan hingga pakaian. Beberapa pihak juga telah menyalurkan bantuannya berupa bahan makanan, keperluan bayi dan sebagainya untuk para pengungsi.
Salah seorang nelayan Desa Maradapan, Mascani, pasca peristiwa longsor yang menghacurkan kediamannya sedikit menceritakan peristiwa tersebut, sebelumnya ia mendengar ada teriakan warga yang dipikirnya ada orang berkelahi, namun lama kelamaan ada terdengar bunyi keras dari atas yang ternyata adalah tanah bergerak atau longsor.
“Kediaman saya jaraknya sekitar 10 meter dari longsoran itu, saat melihat keluar seketika itu pula saya langsung membawa anak saya yang masih kecil dan istri untuk lari kearah bawah menyelamatkan diri, dan tidak ada satupun barang yang dapat dikeluarkan saat itu karena panik,” ucapnya dengan nada pelan.
Ketika ditanyakan apakah ada niat untuk kembali kesana, Mascani menjawab, untuk sementara nanti dulu, walaupun ada niat karena sumber penghasilannya disana dan rumahnya disana. Namun, saat sekarang lebih baik mengungsi terlebih dahulu sembari menunggu informasi kondisi disana sudah agak membaik. “Niat sih ada, tapi nanti dulu biar anak dan istri saya tenang dulu di tempat pengungsian ini, kasian mereka,” tambahnya.
Sementara Ketua Senkom Mitra Polri Kabupaten Kotabaru, Memet Wahyudi menyatakan, pada saat pertama kali pihaknya menjemput pengungsi di pelabuhan Tanjung Serdang dalam kondisi memprihatinkan dan dengan pakaian seadanya.
“Awalnya kami berkoordinasi dengan Senkom Kabupaten Tanah Bumbu bahwa ada beberapa orang pengungsi yang mencari tempat, dan kami langsung dengan sigap membawa mereka ke tempat kami di kawasan Ponpes At – Taqwa, hingga hari ini sudah 6 hari kami membangun posko bagi pengungsi Maradapan, yang jelas kami akan berupaya dengan baik membantu mereka,” ujar Memet.
Ia bersyukur, beberapa hari hingga sekarang ada penyaluran bantuan yang masuk untuk meringankan beban pengungsi. “Yang jelas kami akan berupaya untuk membantu mereka dan memfasilitasi apa keperluan mereka selama berada di pengungsian ini,” tandasnya.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





