Dinamika Swasembada Pertanian di Indonesia

  • Whatsapp

Oleh: Siti Nuria Anggraini

Sebagai negara yang berada di daerah tropis, negara Indonesia merupakan salah satu negara yang bertipe agraris. Penduduk negara Indonesia, memiliki ikatan yang sangat kuat baik secara langsung maupun tidak terhadap dunia pertanian dan juga perkebunan.

Bacaan Lainnya

Dalam pertanian, terutama ketahahan pangannya masih berada di level kecil hingga menengah sehingga potensi tersebar dari sektor pertanian belum digarap secara maksimal.

Hal itu bisa dilihat bahwa petani-petani yang ada di negara Indonesia berada di golongan miskin. Hal itu sangat memprihatinkan sebab rakyat Indonesia sangat bertumpu kepada pangan yang ditanam oleh para petani.

Jika kita membandingkan dengan negara lain yang ekonominya maju karena pertanian diolah lumayan baik dan dibantu dengan industri-industri besar.

Kebutuhan rakyat Indonesia terhadap sektor pertanian tidak menunjukkan penjagaan secara langsung lahan yang digunakan untuk bertani. Data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan lahan untuk sektor pertanian dari ke tahun semakin sedikit.

Pada tahun 90-an petani masih memiliki lahan setidaknya 1,1 ha, akan tetapi jumlah terus menurun di tahun 2000an yang menurun menjadi 0,8 ha, dan terakhir saat di data pada tahun 2018 tanah yang dikuasai petani hanya sekitar 0,5 ha.

Pada tahun yang sama ditemukan sudah sekitar 60% petani di Indonesia hanya menguasai lahan untuk pertanian hanya seluas 1000M² atau 0,1 ha.

Walau penurunan luas tahan yang dikuasai oleh petani, pertumbuhan perekonomian Indonesia menunjukkan angka yang positif dimana terus mengalami peningkatan dan di tahun 2018 adanya pergerakan naik hingga melibihi angka 9%.

Pemerintah Indonesia pun meyakini pertumbuhan tersebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Indonesia menunjukkan menjadi negara agraria yang mampu berkompetitif dengan negara-negara lainnya.

Dengan pengawasan yang baik didukung juga dengan sistem yang bagus maka bisa saja di kemudian hari sektor pertanian yang ada di Indonesia meningkat sangat cepat dan dratis.

Melihat perkembangan pertanian yang ada di Indonesia membaik, Satu Kahkonen selaku Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste memberi pujian terhadap pertumbuhan pertanian Indonesia.

Apalagi pertumbuhan tersebut berlangsung saat pandemi Covid-19 yang masih ada dan menghantui negara-negara lain yang juga bergerak di sektor pertanian.

Pemerintah Indonesia pun berkomitmen agar bisa meningkatkan produktivitas sektor pertanian agar bisa meningkat begitu baik yang mana didukung oleh para petani milenial yang mampu membawa teknologi ke dalam sekoter pertanian. Hal tersebut diharapkan mampu memberi kemampuan yang baru agar bisa memberi ruang dari segi pertanian menjadi mengglobal.

Target demi target yang disusun oleh pemerintah Indonesia agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Agar bisa mencapai target tersebut, pada tahun 2020 sektor pertanian di bidang kedelai harus mencapai level swasembada. Lalu pada 2024, pemerintah menargetkan swasembada di sektor gula industri, di tahun 2026 di sektor pengelolaan daging sapi harus juga bisa mencapai swasembada, hingga akhirnya pada tahun 2045 Indonesia menargetkan hampir seluruh sektor pertanian di Indonesia menjadi swasembada sehingga menjadi salah satu negara yang merupakan lumbung pangan dunia.

Walau begitu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh pemerintah Indonesia pada sektor pertanian. Saat ini kita bisa mengkategorikan kendala di sektor pertanian yakni skala kecil, besaran modal, teknologi pendukung, perubahan cuaca, nilai pasar lokal, sumber daya manusia, komoditi pertanian. Belum lagi masalah-masalah yang lain seperti ketersediaan benih berkualitas, lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi perumahan, kelangkaan pupuk, pelanggaran hak petani, dan masih banyak lainnya. Masalah-masalah tersebut harus segera ditemukan penyelesaiannya agar bisa mewujudkan target-target yang telah ditentukan oleh pemerintah Indonesia.

Adanya pihak yang mengambil keuntungan berlebihan dari sektor pertanian membuat para petani kesusahan. Mafia-mafia yang memanfaatkan kesulitan yang dihadapi oleh para petani seperti ketersediaan modal membuat para petani jatuh ke tangan rentenir yang akhirnya membuat mereka terjerat ke dalam hutang yang berkepanjangan.

Belum lagi ditambah adanya korupsi oleh beberapa oknum yang membuat bantuan terhadap para petani mengalami penurunan kualitas atau lebih parahnya lagi, bantuan yang seharusnya didapatkan tidak diterima sama sekali.

Tindakan-tindakan tersebut yang masih saja terjadi dari zaman dahulu hingga sekarang tidak bisa dianggap sebelah mata.

Pemerintah harus bertindak secepat mungkin agar masalah yang sudah lama tersebut tidak menjadi penyakit yang akan menyumbat keinginan pemerintah dalam menargetkan swasembada dan menjadi lumbung pangan dunia.*

Penulis adalah Mahasiswa STIPER Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.