Pemkab Kotim apresiasi terbentuknya organisasi Juru Sembelih Halal

Teks foto: Pelantikan DPD Juru Sembelih Halal (Juleha) Kabupaten Kotawaringin Timur di Masjid Thoriqatul Jannah Perumnas Pembina, Sampit, Selasa (4/6). (Foto: Istimewa)(kalselpos.com)

Sampit, kalselpos.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) mengapresiasi terbentuknya organisasi Juru Sembelih Halal (Juleha) untuk menjamin bahwa hewan yang diperdagangkan dan dikonsumsi umat Islam di daerah ini halal karena penyembelihannya sudah sesuai syariat Islam.

 

Bacaan Lainnya

Apresiasi itu disampaikan Bupati Kotim Halikinnor diwakili Kepala Dinas Pertanian, Sepnita. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Jeleha Kotim yang diketuai Zainuddin.

 

“Keberadaan Juleha sangat penting di wilayah kita ini. Sosialisasi juru sembelih halal di Kabupaten Kotawaringin Timur memang perlu diadakan, hingga pelaku usaha daging hewan sembelihan dan masyarakat paham,” kata Sepnita, Selasa (4/6/2024).

 

Dijelaskannya, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar. Populasi muslim di Indonesia diperkirakan mencapai 237,56 juta jiwa.

 

Dengan populasi muslim yang besar, Indonesia memiliki kebutuhan yang tinggi akan produk daging halal. Untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan halal dalam proses penyembelihan, di Indonesia memiliki ahli yang dikenal sebagai juru sembelih halal atau biasa disebut Juleha.

 

Kebutuhan daging bagi masyarakat Indonesia meningkat cukup signifikan. Daging ayam misalnya, konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia cenderung meningkat selama periode 2011-2022.

 

Rata-rata konsumsi daging ayam nasional lebih tinggi dari daging sapi atau kerbau. Tercatat, rata-rata konsumsi daging sapi atau kerbau hanya 0,009 kg per kapita per minggu pada 2021.

 

Badan Pusat Statistik mencatat, produksi daging ayam di Indonesia mencapai 3,42 juta ton pada 2021. Sementara, produksi daging sapi dan kerbau masing-masing 437,78 ribu ton dan 20,97 ribu ton sepanjang tahun. Daging merupakan fenomena kebutuhan dan kekurangan daging sapi setiap tahun selalu terjadi.

 

Temuan adanya ayam dijual tidak halal dan sehat di daerah lain, bukan tidak mungkin terjadi di kabupaten seperti Kotim, khususnya Kota Sampit. Tidak halalnya ayam tersebut salah satunya dikarenakan proses penyembelihan yang tidak tersertifikasi halal.

 

Selain itu, dalam produk yang dijual, juga tidak tercantum sertifikasi halal dari MUI. Sedangkan Indonesia juga merupakan pasar konsumen Muslim yang sangat potensial.

 

Sepnita menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab besar melindungi masyarakat secara keseluruhan, terutama konsumen atas kehalalan produk-produk yang beredar dan dipasarkan.

 

“Demikian juga para produsen, secara hukum, etika, dan moral berbisnis dituntut memiliki tanggung jawab produk (product liability) atas produk yang diedarkan jika terdapat cacat, membahayakan, atau tidak memenuhi standar yang telah diperjanjikan bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tentu kebutuhan daging juga dibutuhkan sarana dan media yang tepat, terutama berkaitan dengan kehalalan dan keberkahannya,” bebernya.

 

Penelitian tentang sembelihan halal menarik untuk dikaji bersama. Hal itu berdampak pada keberkahan hidup dan diterima atau tidaknya suatu ibadah.

 

“Makanya kami sangat mendukung sosialisasi juru sembelih halal, registrasi nomor kontrol veteriner dan sertifikasi halal pada unit usaha bidang peternakan,” ujar Sepnita.

 

Juleha adalah komunitas yang bermitra dengan pemerintah, mengembangkan edukasi tentang penyembelihan yang syar’i menurut hukum Islam serta sesuai dengan standard kompetensi kerja nasional Indonesia yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia.

 

Organisasi ini berkomitmen untuk menegakkan aturan yang syariah dan menjaganya agar penanganan bahan makanan yang halal dan thoyib dapat dilaksanakan secara maksimal di negara Indonesia, khususnya dan internasional pada umumnya.

 

Komunitas Juleha Indonesia saat ini telah ditetapkan sebagai organisasi kemasyarakatan dengan nama perkumpulan juru sembelih halal berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

 

Visi organisasi ini mengedukasi para praktisi penyembelihan dalam hal menerapkan penyembelihan yang syar’i sesuai tuntunan dalam agama Islam dan memenuhi standar kompetensi kerja nasional Indonesia yang telah ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia.

 

Organisasi ini ingin menciptakan para Juleha yang profesional dan handal, dalam rangka menjaga mutu hasil penyembelihan yang sesuai syariat Islam dan memilki standansasi produk yang aman, sehat, utuh dan halal bagi masyarakat veteriner.

 

Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 95 tahun 2012, veteriner adalah segala urusan yang berkaitan dengan hewan dan penyakit hewan di Indonesia pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya.

 

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait