Misteri Dusun Legetang Bersama Ratusan Warganya “Hilang” Dalam Semalam

Teks foto: Tugu Peringatan Tragedi Dusun Legetang di Dieng, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)(kalselpos.com)

kalselpos.com – Ini kisah pilu mengenai Dusun Legetang di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Legetang merupakan sebuah dusun yang bersama ratusan warganya ‘hilang’ hanya dalam semalam.

Bacaan Lainnya

Dusun Legetang ketika itu berada di Desa Pekasiran, sebuah desa di pegunungan Dieng, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Dusun yang dihuni 450 jiwa tersebut rata dengan tanah lantaran tertimbun longsoran Gunung Pengamun-amun.

Sekarang ini, Dusun Legetang hanya tinggal nama, dikenang pada sebuah tugu beton setinggi 10 meter.

Satu-satunya data yang bisa ditemui pada tugu itu, yaitu pahatan marmer berisi daftar bencana di pegunungan Dieng dan juga jumlah korban yang mencapai 450 orang.

Pahatan tersebut terletak di Desa Kepakisan, sebelah timur Desa Pekasiran, atau lebih tepatnya di pertigaan menuju ke objek wisata kawah Sileri.

Peristiwa tragis tersebut direkam dalam ingatan warga Desa Pekasiran. Hanya saja, sekarang ini kebanyakan dari warga tersebut sudah meninggal dunia. Sekarang ini, anak dan cucu mereka yang melanjutkan sebagai penutur cerita ‘hilangnya’ Dusun Legetang.

Dilansir dari berbagai sumber, bencana tanah longsor yang melenyapkan Legetang terjadi pada 17 April tahun 1955 pukul 23.00.

Saat malam nahas itu terjadi, hujan deras tengah mengguyur kawasan Desa Legetang dan sekitarnya.
Warga desa di sekitar Desa Legetang mendengar suara gemuruh sesaat setelah hujan sedikit mereda. Namun tidak ada satu pun warga yang berani keluar rumah, karena saat itu suasana sangat gelap ditambah jalanan yang licin setelah diguyur hujan.

Belakangan, misteri hilangnya Desa Legetang juga sering dikaitkan dengan kisah kaum Sodom dan Gomora. Kedua kaum itu diceritakan senang bermaksiat, sehingga ditimpa azab.

Konon, Dusun Legetang juga mengalami kejadian serupa. Desa Legetang pada saat itu terkenal sebagai tempat maksiat, misalnya perjudian hingga prostitusi.

Warga Desa Legetang juga mengadakan pentas Lengger setiap malam, sehingga terkadang berujung sebagai tempat perzinaan dan postitusi.
Desa Legetang dan seisinya kemudian diberi hukuman dengan cara diratakan dengan tanah.

Sejak saat itu, mayat warga Dusun Legetang masih terkubur bersama dengan rumahnya. Lantaran keterbatasan alat, upaya pencarian korban cuma dilakukan pada di titik yang diduga menjadi lokasi rumah petinggi Dusun Legetang.

Terlepas dari itu, musibah sebaliknya bisa menjadi ibrah atau pengingat. Dalam riwayatnya, Sodom adalah kaum yang dimusnahkah karena kebiadaban dan maksiatnya.

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait