Kisah Api Cemburu Gay, Berakhir Pembunuhan Berantai Belasan Orang

- Mujianto alias Mentok alias Gentong, tersangka kasus pembunuhan berantai di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (25/2/2012), siang tadi kembali menjalani rekonstruksi. Rekonstruksi dilakukan untuk kasus pembiusan terhadap korban AHY asal Situbondo. (Net/kalselpos.com)-Kisah Api Cemburu Gay, Berakhir Pembunuhan Berantai Belasan Orang

Banjarmasin, kalselpos.com – Hubungan kekasih sesama jenis alias gay sering berakhir dengan menghabisi korbannya. Lebih sadis lagi, akibat api cemburu, pelaku ada yang melakukan pembunuhan berantai terhadap ‘pacar gelap’ kekasihnya yang dianggap saingan.

 

Bacaan Lainnya

Pembunuhan dilakukan oleh oknum gay terjadi tak hanya di Kalsel, juga di daerah lainnya. Di Kalsel, ada beberapa kasus pembunuhan diduga pecinta sejenis seperti dilakukan oleh AF yang masih berusia 18 tahun terhadap NP di daerah Hulu Sungai Tengah bulan Oktober 2017.

 

Sebelumnya di Banjarmasin, ada seorang oknum guru yang dibunuh seorang pelajar berinisia P (17 tahun), karena marah ingin disodomi tahun 2015.

 

Beda lagi dilakukan JS, karena tak dibayar usai melayani sebanyak tiga kali kepada DH, pelaku pelaku JS kecewa dan nekat menghabisi korban.

Kecamatan Gambut, berawal dari korban DH yang tidak membayar jasa hubungan seks sesama jenis, hingga pelaku JS kecewa dan nekat menghabisi korban di bulan Mei 2021 lalu.

 

Kalau di Banua, oknum gay menghabisi korban hanya satu orang saja, berbeda dengan kasus di Jawa lebih sadis lagi, melakukan pembunuhan berantai dimana korban mencapai belasan orang.

 

Di tahun 2007-2008, ada Very Idham Henyansyah alias Ryan (33) membantai 11 orang, lain lagi Mujianto meracuni 15 orang dimana dua di antaranya selamat.

 

Cukup menarik disimak aksi pembunuhan dilakukan Mujianto (24), warga Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur hanya disebabkan sang ‘pacar’ selingkuh dengan pria lainnya di tahun 2011.

 

Mujianto diketahui berkerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di rumah Joko, guru di SMPN 6 Nganjuk yang tinggal di RT 03 Desa Senopatik, Kecamatan Brebek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

 

Berbeda dengan Ryan yang asal Jombang, Jawa Tengah, yang membunuh para korbannya dengan cara memukul atau membentur-benturkan kepala korbannya ke tembok hingga tewas, Mujianto membunuh para korbannya dengan diberi racun tikus bermerek Temex, dan kemudian meninggalkannya begitu saja di suatu tempat.

 

Namun demikian, kejahatan yang dilakukan Ryan jauh lebih sadis karena di antara para korbannya ada yang lebih dulu dibakar sebelum dikuburkan, dan bahkan ada yang dimutilasi untuk kemudian potongan-potongan tubuhnya dibuang di sejumlah tempat, di antaranya di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.

 

Yang menarik, antara Ryan dengan Mujianto memiliki orientasi seks yang sama, yakni penyuka sesama jenis alias gay, dan aksi keji yang dilakukannya hanya didasari cemburu semata.

 

Menurut Humas Polda Jatim, Kombes Pol Hilman Thayib, Rabu Jika pada 2007-2008 Very Idham Henyansyah alias Ryan (33) membantai 11 orang, Mujianto meracuni 15 orang dimana dua di antaranya selamat.

 

Berdasarkan pengakuan Mujianto diketahui kalau pemuda itu meracuni para korbannya sejak 2011.

 

“Kala itu dia meracuni 6 orang, dan tahun ini, sejak Januari, dia telah meracuni 9 orang. Semuanya dengan racun tikus,” jelasnya seperti dikutip VIVAnews.

 

Awal aksi keji Mujianto bermula ketika ia bekerja sebagai PRT di rumah Joko. Dari hubungan sebagai majikan dan pembantu, hubungan keduanya meningkat menjadi kekasih, dan bahkan menjadi layaknya suami istri. Celakanya, Joko ternyata diam-diam berselingkuh dengan sejumlah lelaki. Mujianto pun marah besar karena dibakar cemburu. Ia lalu memeriksa handphone Joko, dan mencatat nama sejumlah lelaki yang diyakini pernah berselingkuh dengan Joko atau sedang didekati dan mendekati pacarnya itu.

 

“Satu demi satu para para lelaki itu diajak bertemu, dan setelah itu diracuni,” imbuh Hilman.

 

Dari 15 pria yang menurut Mujianto telah ia racun, enam di antaranya telah ditemukan. Dari keenam korban ini, empat di antaranya meninggal dan dua orang selamat. Mereka yang meninggal adalah AY (46), warga Kampung Tokelan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jatim yang jenazahnya ditemukan pada 2 Januari 2012; Rom (55 tahun), warga Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jatim, yang jenazahnya ditemukan pada 7 Januari 2012; Basori, warga Pacitan, Jatim yang jenazahnya ditemukan pada 4 Februari 2012; dan satu korban lagi belum diketahui identitasnya, namun jenazahnya telah ditemukan pada 8 Februari 2012.

 

Dua orang yang selamat adalah Anton Suwarsono, warga Solo, Jawa Tengah; dan Muhammad Fais (21), warga Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

 

Aksi keji Mujianto terungkap setelah mayat para korbannya ditemukan. Dari penemuan itu, polisi menyusuri jejak si pelaku, dan Mujianto yang juga akrab dipanggil Menthok atau Gentong itu pun dibekuk pada Selasa 14 Februari 2012 di rumah Joko.

 

 

Kapolres Nganjuk saat itu, AKBP Anggoro Sukartono, mengatakan Mujianto melakukan percobaan pembunuhan berantai terhadap 23 orang. Semuanya diracun dengan racun tikus.

 

Dari 23 korban, lima orang dinyatakan tewas, sedangkan lainnya selamat.

 

Modus yang dipakai adalah mengajak bertemu dan berkencan. Setelah berkencan, Mujianto kemudian mengajak berkeliling, lalu makan dan minum. Di situlah Mujianto kemudian menaburkan racun yang disiapkannya.

 

Sedangkan motifnya, Mujianto cemburu kepada semua korbannya karena telah menjalin dengan pasangan sesama jenisnya. Sebelum melakukan aksinya, Mujianto biasanya mencuri nomor-nomor telepon korbannya yang tersimpan di handphone Joko.

 

Dari situ, Mujianto lalu menghubungi satu per satu korbannya. Mereka diajak Mujianto berkenalan dan bertemu, lalu berkencan. Para korban seluruhnya berasal dari luar Nganjuk dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda.

 

Meski demikian, membekuk Mujianto bukanlah pekerjaan mudah. Penyebabnya, minimnya barang bukti dan saksi yang ada. Kasus pembunuhan berantai ini baru terungkap setelah salah satu korban bernama Faiz selamat.

 

Tak hanya itu, Faiz rupanya masih mengingat nopol motor Mujianto yang digunakan untuk menjemputnya di terminal. Polisi lantas melacak nomor telepon Faiz dan nopol milik Mujianto. Tak hanya itu, polisi juga membuat sketsa wajah Mujianto lalu disebar.

 

Senin, 13 Februari 2012, Mujianto kemudian dibekuk di rumah Joko dan langsung dikeler ke kantor polisi. Dalam pengakuannya, Mujianto setidaknya telah meracuni puluhan pasangan teman kencannya sejak Agustus 2011.

 

Mujianto mengaku sakit hati dengan para korbannya karena dianggap telah berselingkuh dengan Joko. Mujianto kenal dan menjadi gay setelah berkenalan dengan Joko sekitar dua tahun di Kediri.

 

Meski saat itu baru kenal, Joko langsung kesengsem dan mengajak Mujianto beradegan seks. Saat itulah, kedua pria itu tidur serumah dan berkomitmen menjalin hubungan sebagai ‘suami-istri’.

 

“Awal perkenalan dengan J, dikenalkan anak Kediri. Habis itu, malamnya saya diajak hubungan badan, saya diam saja,” tuturnya.

 

Semenjak berhubungan seks dengan sesama jenis, Mujianto mengaku saat itulah dirinya menjadi gay. Sedangkan untuk kehidupan seksnya, Mujianto mengaku rata-rata dalam sehari bisa dua kali ia dan Joko berhubungan seks.

 

Selasa, 13 November 2012, majelis hakim Pengadilan Negeri Nganjuk menjatuhkan vonis 9 tahun penjara terhadap Mujianto. Vonis ini lebih berat dari tuntutan jaksa sebelumnya yakni 8 tahun penjara.

 

Mendapat vonis ini, Mujianto menerimanya. Ia mengaku menyesali semua perbuatannya yang mengakibatkan 5 nyawa melayang. Mujianto kemudian bebas setelah mendapat remisi Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2018 dari Lapas Kelas IIB Nganjuk bersama 100 tahanan lainnya.

 

Cukup menarik menyimak kasus pembunuhan dilakulan kaum gay..

 

Apakah seorang gay yang dibakar cemburu memang dapat berperilaku sangat sadis sehingga tak segan-segan membunuhi orang-orang yang dicemburuinya? Atau kaum gay memang cenderung mengidap psikopat atau penyakit kejiwaan yang perilakunya dapat merugikan orang lain?

 

Menurut ujar ahli psikologi forensik Universitas Surabaya, Yusti Probowati seperti mengutif berita detik.com, pembunuhan seperti yang dilakukan Mujianto alias Menthok alias Genthong (24) kepada enam orang teman kencannya bisa dilakukan siapa saja. Kasus Mujianto kebetulan terjadi di komunitas gay.

 

“Ini kebetulan terjadi di kelompok gay,” ujarnya.

 

Dia menjelaskan orang di luar komunitas gay pun bisa saja menjadi pelaku kasus semacam itu. Hanya saja di tengah masyarakat kerap ada pendapat yang mengakitkan kasus pembunuhan dalam jumlah banyak dilakukan oleh pelaku yang gay.

 

“Memang sering kali dikaitkan dengan komunitas gay,” imbuh

 

Dalam teori psikologi, Mujianto disebut memiliki kecenderungan psikopat dan antisosial sehingga sikapnya cenderung tidak mengikuti aturan-aturan yang ada.

 

Seseorang yang masuk dalam ketegori psikopat cenderung tidak mengikuti aturan yang ada dan memiliki egosenteris yang sangat tinggi. “Pasti ada yang salah dari masa kecil dia (Mujianto) sehingga aturan itu tidak dipahami scara baik,” kata Yusti.

 

Sifat egosentris yang dimiliki oleh Mujianto membuat dirinya sering merasa tergangggu dengan kondisi yang tidak cocok dengan dirinya, termasuk dengan rasa cemburu yang besar.

 

“Egosentrisnya tinggi yang menyebabkan dia melakukan hal yang di luar batas. Itu yang terjadi,” ucapnya.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait