Anomali Cuaca dan Serangan Tungro, Produksi Padi Sedikit Terganggu

Kepala Dinas TPH Kalsel, Syamsir Rahman.(anas aliando)/ kalselpos

Banjarbaru, kalselpos.com – Anomali cuaca dan serangan hama tungro cukup mempengaruhi produksi padi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Hingga pertengahan Oktober 2022,  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi padi di Banua baru 800 ribu ton dari target 1,1 juta ton.

Meski demikian, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kalsel Syamsir Rahman yakin dan optimis di dua bulan terakhir tahun 2022, target tersebut masih bisa tercapai. “Karena masih ada yang belum panen di beberapa kabupaten penghasil utama padi, kita tetap optimis target 1,1 juta ton itu tercapai,” ujarnya kepada kalselpos.com akhir pekan tadi.

Bacaan Lainnya

Syamsir menyebutkan, kebutuhan padi Kalsel hanya 400 ribu ton per tahun dan sisanya di pasok ke provinsi tetangga.

Terkhusus hama tungro, Syamsir menjelaskan, pada sepuluh tahun terakhir, hama itu nyaris tidak ada menyerang tanaman padi di Kalsel dan pada tahun ini serangan terjadi lagi.

“Total tanaman padi yang terserang tungro 3000 hektare. Terbanyak di Batola sekitar 1000 hektare dan sisanya di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut. Namun hama itu bisa kita kendalikan berkat kerja keras para petani dan insan pertanian Provinsi dan kabupaten. Dari 3000 hektarr yang terserang, diperkirakan kekurangan produksi padi kita sekitar 120 ribu ton,” bebernya.

Syamsir yang juga Plt Sekda Kabupaten Tapin itu berkata, serangan hama tungro hendaklah dijadikan pelajaran yang teramat berharga. Upaya agar serangan tungro tidak lagi terjadi, dia pun meminta petani untuk menanam varietas padi secara bergiliran dari lokal ke unggul. “Kalau lokal saja rentan kena hama, jadi harus bergilir,” ucapnya lirih.

Kemudian, lanjut Syamsir, pada saat panen, lahan pertanian jangan ditinggalkan begitu saja, namun harus segera dibersihkan. “Pada sisa batang padi bagian bawah hama tungro masih bersarang. Karena itu petani harus membersihkannya,” pesannya.

Syamsir menambahkan, pada 2023 kemungkinan cuaca ekstrem masih terus terjadi. Karena itu dia meminta kepada petani untuk menanam padi yang bisa dipanen lebih cepat sekitar 2,5 bulan.

Dipenghujung penjelasannya, Syamsir juga menyinggung soal Kalsel yang masih kekurangan tenaga penyuluh pertanian atau PPL.

“Kita hanya punya seribu PPL, padahal idealnya 3 ribu. Ada PPL yang melayani petani di empat desa. Jumlahnya pun terus berkurang karena ada yang pensiun dan meninggal dunia,” ujarnya.

Untuk menutupi kekurangan PPL, lanjut Syamsir, Dinas TPH Kalsel telah mengajukan permohonan kepada Kenenpan-RB dan BKN sebanyak 400 orang. “Namun yang disetujui hanya 50 orang. Itupun statusnya bukan PNS tapi PTT alias pegawai tidak tetap,” tutupnya.

 

Sport.kalselpos.com

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait