Menurut pemerintah Filipina, penyakit tersebut “mengurangi secara signifikan” populasi sekitar 3 juta babi di negara itu dan menimbulkan kerugian lebih dari 100 miliar peso (sekitar Rp28 triliun) di sektor peternakan babi lokal dan industri terkait.
Kondisi tersebut juga memicu kenaikan harga ritel produk daging babi dan memaksa pemerintah untuk menambah impor daging babi.
Pada Mei Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan status bencana selama setahun untuk mengatasi dampak penyakit babi yang menular tersebut.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





