Soal diorama Penumpasan G30S/PKI yang Hilang, begini penjelasan dari Markas Kostrad

[]istimewa PATUNG DIAROMA - Salah satu patung diaroma sejarah penumpasan G30S/PKI.(kalselpos.com)

Banten, kalselpos.com -Kostrad tidak pernah membongkar atau menghilangkan patung sejarah (penumpasan G30S/PKI) Museum Dharma Bhakti di Markas Markas Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Begitu lah bantahan yang disampaikan langsung Kepala Penerangan (Kapen) Kostrad, Kolonel Inf Haryantana, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/9) lalu, sebagaimana dikutip kalselpos.com dari Rmol.Banten.

Bacaan Lainnya

Diketahui, diorama yang menggambarkan suasana di pagi hari, 1 Oktober 1965 atau peristiwa G30S PKI, di Museum Dharma Bhakti di Markas Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) telah dibongkar.

Haryantana menegaskan, pembongkaran diorama atau patung tersebut atas keinginan dan ide mantan Pangkostrad Letnan Jenderal TNI (Purn), Azmyn Yusri Nasution selaku pihak yang membuat ide diorama tersebut.

“Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution meminta untuk patung-patung yang telah dibuatnya untuk dibongkar demi ketenangan lahir dan batin, sehingga pihak Kostrad mempersilahkan,” tuturnya.

Atas dasar itu, Haryantana meluruskan informasi sekaligus klarifikasi, jika diorama yang kini sudah tidak ada itu bukan permintaan Kostrad.

“Kami berharap adanya kerja sama yang baik dengan rekan-rekan media terkait pemberitaan yang sudah beredar, sehingga tidak meresahkan dan merugikan Institusi TNI, TNI AD khususnya Panglima Kostrad, Letjen TNI Dudung Abdurachman,” pungkasnya.

Sebelumnya, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkapkan adanya indikasi upaya untuk menghilangkan sejarah terkait peristiwa G30S/PKI.

Untuk menghilangkan memori soal sejarah tersebut, patung ketiga sosok itu diketahui kini tidak ada lagi di dalam museum Kostrad.

Saat ini hanya tersisa kursi-kursi kosong tempat para patung ketiga tokoh itu diletakkan.

“Jurang kehancuran itu telah ada di depan mata, baru saja terjadi, adalah di museum Kostrad,” ucap Gatot Nurmantyo saat menjadi narasumber diskusi bertajuk TNI Vs PKI”, yang digelar Minggu (26/9) malam.

“Dalam ruang kerja Pak Harto ada patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang menggambarkan saat kritis (setelah penculikan enam jenderal TNI AD) dan rencana menyelamatkan negara dari pengkhianatan PKI, sekaligus peran utama Panglima Angkatan Darat, Pangkostrad, dan Resimen Parako yang kini menjadi Kopassus,” sambungnya.

“Untuk menghilangkan gambaran sejarah (penumpasan G30S/PKI) tersebut, sekarang (ketiga patung) telah dibongkar dan tidak ada lagi,” masih kata Gatot.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait