Amuntai, kalselpos.com – Pewadahan Nanang Galuh (NaGa) di bawah binaan Disdikbud HSU dan Putra Putri Pariwisata di bawah binaan Disporapar HSU melakukan kolaborasi dalam momentum Harmoni Ramadan “Menyata Dalam Kebaikan, Menyatu Dalam Kebahagian”.
Program kerja yang melibatkan dua belah tersebut, dilaksanakan di Kabupaten HSU dengan tujuan lokasi utama ziarah ke salah satu wisata Religi di Kabupaten HSU, yaitu makam satu badan dua kubur atau Makam dari salah satu tokoh agama yang bernama Almarhum Syekh Sulaiman, Waktu pelaksanaan Sabtu, (23/03).
Perwakilan Putri Pariwisata Kabupaten HSU, Novia menjelaskan, Ziarah tidak hanya sekedar berkunjung, tetapi mengenal langsung atau mendengarkan cerita asal-usul, sejarah dari Makam tersebut.
“Ini merupakan program kerja Putra Putri Pariwisata HSU Triwulan, yang mana setiap Putra maupun Putri wajib memiliki satu proker individu. Salah satunya kegiatan ini yang merupakan program kerja individu dari Putri Linni atau Putri Pariwisata Photogenic HSU 2024,” terang Putri Pariwisata tahun 2024 ini.
Sementara, perwakilan Pewadahan NaGa HSU, Alya menjelaskan, pihaknya juga ada proker berpasangan. Setiap pasangan wajib mempunyai satu proker. Harmoni Ramadan adalah proker dari pasangan Nanang Rama dan Galuh Alya yang merupakan pasangan Nanang galuh HSU tahun 2023.
“Proker Harmoni Ramadan, merupakan Proker dengan agenda kunjungan ke wisata religi, adalah hasil pengamatan dari kedua belah pihak. Wisata religi Makam satu badan dua kubur tersebut masih kurang terekspos di Kabupaten HSU akibatnya masih banyak masyarakat sekitar yang tidak tahu akan adanya wisata religi tersebut,” ujarnya.
Berkaca dari hal tersebut, para Duta di HSU ingin membantu dan lebih mengenalkan kepada masyarakat, mengenai Wisata Religi tersebut.
Menurut cerita yang sudah turun temurun di lingkungan sekitar, singkatnya, Syekh Sulaiman merupakan seorang tokoh agama atau ulama yang sangat terkenal di Zaman itu sampai pada masa dimana beliau wafat di Desa Padang Basar, tetapi warga Desa Pakacangan tiba-tiba mendengar kabar akan munculnya sebuah makam baru, lengkap dengan batu nisannya.
Makam tersebut berdekatan dengan Masjid yang dulu dibangun oleh Alm Syekh Sulaiman tersebut. Masyarakat bertanya-tanya, kuburan siapa gerangan? Jawabannya datang lewat sebuah mimpi. Kepada anak dan cucunya, Sulaiman mengakui kuburannya sudah berpindah tempat.
Maka sejak itu Alm. Syekh Sulaiman pun memiliki dua makam. Sejak tahun 1972, makam ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Pada hari-hari besar keagamaan, makam Syekh Sulaiman kerap ramai dikunjungi peziarah.
Setelah pelaksanaan Bakisah tentang sejarah Putra Putri Pariwisata dan NaGa HSU melanjutkan acara dengan berbuka puasa bersama seluruh Anjungan Putpar HSU maupun Pawadahan NaGa HSU dan dilanjutkan kembali dengan kegiatan terakhir, yaitu “BASAPIDA” (Bapandiran Saputar Budaya).
Point utama kesempatan tersebut adalah bertukar pendapat untuk kemajuan budaya maupun wisata di daerah dan mempererat tali silaturahmi disetiap Organisasi Kepemudaan (OKP) yang ada di HSU.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





