kalselpos.com – Mendengar nama Etiopia (Ethiopia) tentu bagi orang Indonesia akan teringat sebuah lagu ciptaan Iwan Fals berjudul “Etiopia” yang dirilis pada tahun 1986.
Dalam lagu itu Iwan Fals mengungkapan kesedihan sekaligus kengerian akan bencana kemanusian luar biasa. Kekeringan, kelaparan, dan kematian yang sangat mengerikan!.
Dengar rintihan berjuta kepala
Waktu lapar menggila
Hamparan manusia tunggu mati
Nyawa tak ada arti…
Itulah sepenggal lirik lagunya.
Hampir empat dekade lalu, tepatnya pada awal hingga pertengahan tahun 80-an, negeri ini begitu dikenal di seluruh dunia.
Ya, ‘terkenal’ akan negara yang dilanda kelaparan parah karena kekeringan panjang, dan juga karena perang saudara yang menghabiskan tenaga dan anggaran pemerintah.
Sedemikian parahnya, bencana kelaparan ini membuat 1,2 juta rakyat Etiopia meninggal (baik langsung maupun tidak langsung), dan ratusan ribu lain eksodus ke negara-negara tetangganya.
Etiopia mengalami berbagai konflik, mulai dari perang saudara selama dua dekade, perang dengan Somalia (1977 dan 1998) dan Eritrea (1999). Negara ini ‘akrab’ dengan kekerasan. Namun, semua bergerak dan menyadari, tenaga mereka habis untuk itu.
Kesadaran ini berbuah manis. Etiopia sebagai bagian dari negara yang masuk Benua Afrika (Afrika Timur) sekarang telah menikmati kestabilitan politik dan perdamaian.
Politik Etiopia adalah demokrasi multi-partai. Keberhasilan semua pihak dalam berkonsensus demi stabilitas politik, dalam bentuk pemerintahan koalisi yang kuat, ternyata memberi dampak positif bagi ekonomi negara tersebut.
Pada tahun 2000, Etiopia adalah negara termiskin ke-3 di dunia, dengan Pendapatan perkapita sekitar $350. Lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan global, sebuah tingkat paling tinggi di dunia.
Banyak yang menyangka, Etiopia akan ‘selesai’, negeri itu akan hilang, atau bergabung dengan negara lain. Namun, kini semua telah berlalu.
“Keajaiban” telah hampir dua dekade berlangsung di Etiopia. Makin kemari makin makmur, kian dikenal secara positif, dan juga menjadi model bagi pembangunan bangsa-bangsa Afrika.
Menurut Bank Dunia, sejak tahun 2000 hingga 2018, Etiopia adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Selama periode tersebut, Bank Dunia juga mencatat bahwa Etiopia menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Food Sustainability Index (FSI) tepat satu tangga di bawah Amerika Serikat (urutan ke-11).
Pada saat yang sama, Etiopia melakukan pergeseran secara bertahap dari ketergantungan tradisionalnya pada pertanian menuju industry dan jasa.
Banyak sekali yang bisa dipelajari dari negeri yang dulu begitu carut marut ini, dan kini menjadi salah satu kebanggaan benua Afrika.
Etiopia mempunyai salah satu sejarah terlengkap sebagai negara merdeka di benua tersebut. Merupakan negara tertua di dunia, kawasan Etiopia juga merupakan salah satu tempat peradaban yang terawal di dunia.
Pemerintahan Etiopia pertama dibentuk sekitar tahun 980 SM dan menerima agama Kristen
pada abad ke-4 M. Negara ini cukup unik jika dibandingkan dengan negara-negara Afrika lainnya karena tidak pernah dijajah selama masa Perebutan Afrika dan terus merdeka hingga tahun 1936 saat pasukan
Italia menguasai negara tersebut.
Pasukan-pasukan Britania Raya dan Etiopia mengalahkan tentara Italia pada 1941 dan Etiopia memperoleh kembali kedaulatannya setelah menandatangani
Perjanjian Britania-Etiopia
pada Desember 1944.
Etiopia dulu pernah bernama Abisinia. Kini Etiopia merupakan negara berbentuk republik dan mengambil bagian secara aktif dalam aktivitas-aktivitas kerja sama internasional.
Nama “Etiopia” konon berasal dari “Ityopp’is”, yaitu nama anak cucu Ham, pembentuk kota Aksum. Nama lama “Abbesinia” atau “Habsyah” berasal dari kelompok suku Habesha, yaitu kaum yang mendiami kawasan Etiopia sejak tahun 3000 SM.
Pembagian administratif
Etiopia terdiri atas 10 region (kilil) dan dua kota berpiagam
(chartered city) pada tingkat pertama. Sembilan region itu dibagi lagi menjadi zona pada tingkat kedua, distrik (woreda) pada tingkat ketiga, dan munisipalitas (kebele) pada tingkat keempat.
10 negara bagian atau “kililoch” didasarkan pada teritorial etno-linguistik:
Region Afar, Region Amhara, Region Benishangul-Gumuz,
Region Gambela, Region Harari, Region Oromia,
Region Sidama, Somali,
Region Southern Nations, Nationalities, and Peoples,
Tigray. Selain itu ada dua kota berpiagam: Addis Ababa dan Dire Dawa.
Etiopia berbatasan dengan Eritrea di sebelah Utara, Djibouti di sebelah Timur Laut, Somalia di sebelah Timur, Kenya di sebelah Selatan, Sudan Selatan di sebelah Barat, dan Republik Sudan di sebelah Barat Laut.
Etiopia adalah negara yang terkurung daratan, yaitu negara yang tidak memiliki wilayah laut. Secara astronomis, Etiopia terletak di antara 3°LU – 15°LU dan 33°BT – 45°BT.
Sistem pemerintahan yang dianut oleh Etiopia adalah Republik Parlementer Federal. Dengan sistem pemerintahan ini, kepala negara Etiopia adalah seorang Presiden yang dipilih Majelis Parlemen setiap 6 tahun sekali. Sedangkan Kepala Pemerintahan Etiopia adalah Perdana Menteri ditunjuk oleh Partai Mayoritas setelah pemilihan legislatif.
Selain sebagai negara anggota Uni Afrika, Etiopia juga merupakan negara anggota PBB dan lembaga-lembaga dibawah PBB seperti ILO, FAO, IAEA, ICAO, IFAD, ILO, IMO, IMF, ITU, UNESCO, UPU, WBG, WIPO, WMO, UNWTO dan WHO.
Berikut profil Negara Etiopia.
Nama Resmi Negara: Republik Demokratik Federal Ethiopia (The Federal Democratic Republic of Ethiopia)
Bentuk Negara: Federasi
Ibukota: Addis Ababa
(artinya bunga baru)
Luas Wilayah:
1.127.127 km2
Jumlah Penduduk:
109.160.265 (Worldometers, 15 Feb 2019)
Lagu Kebangsaan:
Wedefit Gesgeshi, Wid Enat Ityopya / March Forward, Dear Mother Ethiopia
Agama: Orthodoks Ethiopia (43,5%), Muslim (33,9%),
Protestan (18,6), Tradisional (2,6 %), Katolik (0,7 %).
Bahasa resmi: Amharic dan Inggris digunakan dalam korespondensi.
Bahasa daerah; Tigrinya, Oromiya Guaraginya, Somali, dan bahasa lainnya.
Mata Uang: Ethiopian Birr (1 US$ = 28.34 ETB, per 15 Feb 2019).
Hari Nasional: 28 Mei (the Victory of the Ethiopian People over the Dictatorship)
Etnis/Suku: Oromo 34,4%, Amhara 27%, Tigre 6,1%, Somali 6,2%, Sidama 4%, Gurage 2,5%, Wolaita 4%,
Afar 4%.
Etiopia masih memakai kalender Julian sehingga negara ini akan membuka serangkaian perayaan dalam menyambut milenium ketiga berdasarkan penanggalan kalender tersebut.
Negara di Tanduk Afrika ini menggunakan kalender Julian yang ketinggalan sekitar 7 tahun dibandingkan dengan kalender Gregorian yang lebih umum digunakan di seluruh dunia.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





